Djokovic Persempit Fokus Demi Buru Grand Slam ke-25

Minggu, 24 Agu 2025, 05:58 WIB

NEW YORK, AMERIKA SERIKAT – Novak Djokovic menegaskan fokus utamanya kini hanya tertuju pada perburuan gelar Grand Slam ke-25. Mantan petenis nomor satu dunia itu mengaku tak lagi menikmati turnamen Masters 1000 yang diperpanjang menjadi 12 hari, lantaran terasa “terlalu panjang” baginya di usia 38 tahun.

“Terus terang, saya sudah tidak menikmati lagi Masters yang berdurasi dua pekan,” kata Djokovic jelang dimulainya US Open 2025, Sabtu (23/8). “Itu terlalu panjang bagi saya. Fokus saya terutama pada Grand Slam, seperti yang sudah pernah saya katakan.”

Ket. Foto: Novak Djokovic — Sumber: AFP

Djokovic menilai, dengan format baru, jadwal ATP terasa padat. “Kalau dipikir-pikir, kita sekarang seakan punya 12 Grand Slam dalam setahun. Grand Slam dua minggu, Masters juga hampir dua pekan,” lanjutnya.

Djokovic, yang selama dua dekade terakhir menjadi wajah dominan tenis dunia, mengaku tak lagi mengejar peringkat atau poin seperti saat muda.

“Saya tidak lagi memikirkan rangking, poin, atau mempertahankan gelar,” ujarnya. “Sekarang yang penting adalah di mana saya menemukan motivasi, kegembiraan, dan inspirasi untuk bermain tenis terbaik. Turnamen apa yang benar-benar saya pedulikan, di situlah saya akan tampil.”

Keluarga kini menjadi prioritas utamanya. Djokovic menyinggung momen pribadi yang tak ingin lagi ia lewatkan, termasuk ulang tahun putrinya yang jatuh pada tanggal 2 September, bertepatan dengan kemungkinan jadwal perempat final US Open. “Itu hal-hal yang tidak ingin saya lewatkan lagi,” tegasnya.

Djokovic, yang dikenal vokal dalam memperjuangkan kepentingan pemain, kembali menyoroti keputusan ATP memperpanjang turnamen Masters 1000, termasuk Toronto dan Cincinnati, menjadi 12 hari sejak tahun ini. Menurutnya, situasi itu sulit diubah kembali karena para pemain tak cukup aktif menyuarakan pendapat ketika keputusan diambil.

“Pada akhirnya, ketika para pemain harus terlibat dalam negosiasi dan pengambilan keputusan, mereka tidak cukup berpartisipasi. Itu masalahnya,” kata Djokovic.

Djokovic terakhir kali tampil di Wimbledon Juli lalu, di mana ia kalah telak dari Jannik Sinner di semifinal. Kekalahan itu sekaligus menegaskan dominasi generasi baru di puncak tenis dunia.

Meski mengaku datang ke New York dalam kondisi “dingin” tanpa banyak pertandingan resmi, Djokovic memastikan dirinya telah berlatih keras untuk kembali menembus babak akhir US Open.

Djokovic merupakan juara empat kali di Flushing Meadows, namun tahun lalu ia mengalami salah satu kekalahan paling mengejutkan dalam kariernya: tersingkir di putaran ketiga oleh petenis Australia, Alexei Popyrin, hasil terburuknya di Grand Slam sejak 2017.

Di sela persiapan, Djokovic juga menyempatkan diri menikmati suasana New York. Ia mendapat kehormatan melempar bola pertama (ceremonial first pitch) pada pertandingan bisbol New York Yankees. “Itu pengalaman luar biasa,” ujarnya, seraya mengungkapkan pertemuannya dengan bintang Yankees, Aaron Judge.

Meski lemparannya tak sepenuhnya akurat, Djokovic menganggap dirinya masih cukup layak. “Saya tidak melempar dengan tepat, tapi juga tidak seburuk beberapa orang yang pernah saya lihat sebelumnya,” katanya sambil tersenyum.

US Open kali ini bisa menjadi catatan sejarah baru bagi Djokovic. Jika berhasil, ia akan mengukuhkan diri sebagai satu-satunya petenis yang menorehkan 25 gelar Grand Slam tunggal putra, sebuah pencapaian yang belum pernah diraih siapapun dalam sejarah tenis.

Dengan usia yang kian menua dan persaingan dari bintang muda seperti Sinner dan Alcaraz, Djokovic sadar kesempatan semakin sempit. Namun, pengalamannya di panggung besar membuatnya tetap menjadi ancaman serius.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.