RI dan Tiongkok Perkuat Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan

Kamis, 21 Agu 2025, 01:00 WIB

HAIKOU - Sebanyak 22 peserta dari 11 negara di Asia Tenggara dan Afrika, termasuk Indonesia, hadir dalam China-Southeast Asia Countries International Training Course on Fishery Technology yang diselenggarakan oleh Kementerian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Tiongkok serta Sanya Tropical Fishery Research Institute,pada 1 hingga 15 Agustus di Sanya, Provinsi Hainan.

Para delegasi berkumpul untuk bertukar gagasan tentang inovasi dan pembangunan berkelanjutan dalam ilmu pengetahuan serta teknologi perikanan.

Ket. Foto: Aktivitas nelayan merapikan perlengkapan melaut sebelum berlabuh di Dermaga TPI Klandasan, Balikpapan, Kalimantan Timur, Belum lama ini. — Sumber: ANTARA/Aditya Nugroho

Perwakilan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Muhammad Fadil Mursyid, mengatakan kedua pihak telah bersama-sama melakukan penelitian dan proyek praktis di bidang akuakultur berkelanjutan, sekaligus memperkenalkan teknologi maju Tiongkok ke Indonesia.

“Kolaborasi ini telah membantu meningkatkan produktivitas perikanan, memperbaiki konservasi sumber daya, serta menciptakan lebih banyak peluang ekonomi bagi masyarakat nelayan,” ujarnya.

Selama program 15 hari tersebut, para peserta mengikuti kuliah, pelatihan teknis, serta kunjungan lapangan untuk memperoleh pengetahuan langsung mengenai keahlian Tiongkok dalam pemuliaan genetik organisme akuatik tropis, budi daya efisien, pengolahan makanan laut, dan sebagainya.

Mursyid mengatakan kunjungan ke fasilitas percontohan akuakultur modern meninggalkan kesan mendalam. “Jika teknologi ini dapat diterapkan di wilayah seperti Sumatra dan Jawa, akan membantu meningkatkan produksi sekaligus mendorong keberlanjutan lingkungan,” tuturnya.

Arfiani Rizki Paramata, lektor kepala Universitas Negeri Gorontalo, menyoroti potensi besar kerja sama Tiongkok-Indonesia dalam budi daya kerapu. Dia menambahkan bahwa perjanjian yang ditandatangani antara kedua negara tidak hanya meningkatkan kualitas dan keamanan produk perikanan Indonesia, tetapi juga memperluas ekspor ke Tiongkok serta menarik lebih banyak investasi ke sektor perikanan Indonesia.

“Saya berharap dapat memanfaatkan pengetahuan dari program ini untuk meningkatkan kapasitas riset dan pengajaran universitas saya di bidang perikanan, serta memperkuat daya saing internasional kami,” imbuhnya.

Evi Nur Fadilla, yang mewakili industri pengolahan makanan laut Indonesia, memberi perhatian khusus pada penerapan sistem resirkulasi akuakultur dan manajemen perikanan berbasis AI di Tiongkok.

“Kebanyakan akuakultur di Indonesia masih mengandalkan metode tradisional dengan pengolahan lingkungan serta fasilitas modern yang terbatas,” katanya.

“Saya berharap kami dapat memperkenalkan peralatan dan teknologi maju Tiongkok di masa depan untuk mendorong budi daya efisien dan ramah lingkungan pada komoditas utama kami seperti tuna, kerapu, dan lobster,” tutur Evi.

Zhao Wang, associate researcher di Sanya Tropical Fisheries Research Institute, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian penting dari program pelatihan teknis Tiongkok untuk negara berkembang.

“Program ini bertujuan untuk berbagi teknologi perikanan maju Tiongkok dengan negara berkembang, membangun platform pertukaran ilmu dan budaya perikanan, serta mendorong pengembangan ekonomi biru regional,” ujarnya.

Ke depannya, Paramata menekankan bahwa keterbukaan dan dukungan teknis Tiongkok telah memberikan dorongan kuat bagi perkembangan perikanan Indonesia. "Di masa mendatang, kita dapat lebih memperluas kerja sama dalam pelatihan talenta, manajemen perikanan berkelanjutan, serta penelitian ilmiah bersama,” ujarnya.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Antara, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.