Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Iklim Berusaha di Indonesia Masih Hadapi Hambatan Struktural

📅 Rabu, 20 Agu 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Iklim Berusaha di Indonesia Masih Hadapi Hambatan Struktural Doc: antara
Ket. Ketua Dewan Audit Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sophia Wattimena di Jakarta, Selasa (19/8) mengatakan hambatan struktural itu terlihat pada skor keseluruhan Indonesia pada Business Ready Index (B-Ready) 2024 masih berada di bawah rata-rata global.

JAKARTA - Iklim berusaha di Indonesia masih menghadapi hambatan struktural, sehingga diperlukan kolaborasi semua pemangku kepentingan untuk mewujudkan perbaikan tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan.

Ketua Dewan Audit Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sophia Wattimena di Jakarta, Selasa (19/8) mengatakan hambatan struktural itu terlihat pada skor keseluruhan Indonesia pada Business Ready Index (B-Ready) 2024 masih berada di bawah rata-rata global.

Dalam laporan yang dirilis oleh Bank Dunia dari tiga pilar indikator yang dinilai, dua diantaranya mendapat skor yang lebih rendah dari global. Tiga pilar indikator, yakni Regulatory Framework (Kerangka Peraturan) Indonesia mendapatkan skor 64, lebih rendah dari rata-rata global 65,53.

Begitu pula Pilar Operational Efficiency, Indonesia hanya mendapat nilai 61, sedangkan rata-rata global sebesar 63,95. Hanya pada pilar Public Services, Indonesia mendapatkan skor 63, lebih tinggi daripada rata-rata global senilai 49,73.

“Indonesia masih menghadapi kesenjangan dalam efisiensi layanan publik, akses ke layanan keuangan, dan regulasi bisnis,” kata Sophia, yang juga merupakan Anggota Dewan Komisioner OJK.

Selain hambatan terkait kemudahan berbisnis, ia juga menyoroti adanya tantangan tata kelola dalam mengatasi korupsi di Indonesia. Indonesia jelasnya menempati peringkat 99 dari 180 negara yang disurvei oleh lembaga internasional Transparency International dengan skor Indeks Persepsi Korupsi (IPK) atau Corruption Perceptions Index (CPI) sebesar 37 dari 100 pada 2024.

“Skor tersebut tidak dapat dilepaskan dari angka Incremental Capital Output Ratio (ICOR/rasio investasi terhadap pertumbuhan ekonomi) Indonesia yang masih berada di angka 6,3, menunjukkan bahwa efisiensi investasi masih perlu dioptimalkan,” jelasnya.

Padahal, menurut Global Risk Report 2025 yang diterbitkan oleh World Economic Forum (WEF), saat ini Indonesia tengah menghadapi tantangan yang semakin kompleks, dengan lima risiko utama yaitu dampak negatif teknologi kecerdasan buatan, perlambatan ekonomi, kemiskinan dan ketimpangan, cuaca ekstrim, serta krisis pangan.

Sophia pun menegaskan dalam menghadapi permasalahan yang kompleks tersebut, perbaikan tata kelola, manajemen risiko, dan kepatuhan bukan sekedar kewajiban administratif, tapi sesuatu yang memang dibutuhkan.

“Mempertimbangkan risiko global dan kondisi yang kita hadapi saat ini, OJK berkontribusi untuk meningkatkan awareness (kesadaran) atas pentingnya governance (tata kelola) untuk mengawal pembangunan dan secara konsisten OJK menyelenggarakan Risk and Governance Summit (RGS),” katanya.

Percepat Deregulasi

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) DIY, Tim Apriyanto, menilai pernyataan Ketua Dewan Audit Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sophia Wattimena terkait rendahnya skor Indonesia pada Business Ready Index (B-Ready) 2024 harus menjadi momentum untuk mempercepat deregulasi dan debirokratisasi.

Menurut Tim Apriyanto, rendahnya skor itu mencerminkan realitas yang selama ini dirasakan pelaku usaha. Ia menegaskan bahwa perbaikan iklim bisnis tidak cukup dilakukan dengan menambah regulasi, melainkan melalui penyederhanaan aturan dan pengurangan biaya tinggi akibat birokrasi.

“Kuncinya adalah deregulasi dan debirokratisasi. Regulatory framework yang baik bukan soal banyaknya aturan, tetapi apakah aturan itu mampu menciptakan atmosfer kemudahan berusaha,” katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar

Belajar merangkai kain batik di Semarang

36 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Belajar merangkai kain bati...
Ekonomi
Digitalisasi ekonomi melalu...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.