Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kolaborasi Orang Tua dan Sekolah Kunci Jaga Kesehatan Mental Remaja

📅 Selasa, 19 Agu 2025, 17:42 WIB | Oleh: Tim Penulis
Kolaborasi Orang Tua dan Sekolah Kunci Jaga Kesehatan Mental Remaja Doc: ANTARA
Ket. Dua orang remaja sedang mencurahkan perasaannya dalam dinding afirmasi positif pada acara Gebyar Mental Sehat Remaja Indonesia di Kantor Kemendukbangga/BKKBN, Jakarta, Kamis (14/8/2025).

JAKARTA – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan kolaborasi antara orang tua dan sekolah merupakan kunci agar kesehatan mental remaja tetap berkualitas meski menghadapi banyak gejolak seperti pubertas maupun masalah dalam pergaulannya.

Anggota Satuan Tugas (Satgas) Remaja IDAI dr. Braghmandita Widya Indraswari, M.Sc, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), mengatakan sekolah dan orang tua adalah dua faktor lingkungan paling dekat dan harus menjadi yang paling peka terhadap perubahan remaja sehingga bisa memastikan kesehatan mentalnya terjaga.

"Kolaborasi adalah hal yang penting, jadi kesehatan mental remaja itu bukan hanya menjadi tanggung jawab guru, atau bukan hanya menjadi tanggung jawab dari orang tua saja. Tetapi bisa tercipta lewat kolaborasi peran orang tua, guru, dan konselor jika memang ada peran konselor di sekolah," katanya dalam seminar daring yang diikuti dari Jakarta, Selasa (19/8).

Dokter yang berpraktik RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta itu mengatakan dari sisi faktor orang tua atau keluarga, dalam mendampingi remaja agar kesehatan mentalnya terjaga perlu memastikan bahwa keluarga harus menjadi ruang yang aman bagi anak untuk berekspresi.

Salah satu cara membuat lingkungan keluarga menjadi ruang aman bagi remaja adalah dengan mengajarkan komunikasi yang terbuka dan membimbingnya mencerna beragam emosi baik itu yang sifatnya positif maupun negatif.

"Remaja tidak boleh takut, tidak boleh malu dengan orang tuanya, sehingga harapannya anak bisa bercerita pada orang tua kalau dia punya masalah. Dia tahu harus ke mana saat mencari pertolongan," ujar dokter Braghmandita.

Selain itu, keluarga juga bisa memberi ruang aman bagi remaja lewat dukungan aktif berupa apresiasi dan motivasi sehingga rasa dihargai bisa tumbuh.

Ketika remaja mengalami masalah, maka nantinya keluarga menjadi tempat pertama untuk dirinya mencari solusi nyata dan bukan mendapatkan solusi fiktif yang dapat menjerumuskan bahkan berpotensi membuatnya mengalami masalah gangguan mental.

"Remaja ini karakteristiknya lebih percaya para peer group, padahal peer group-nya juga sama-sama remaja yang pola pemikirannya sama. Belum tentu mereka bisa memberikan solusi baik dan bahkan kadang memberikan solusi yang negatif," katanya.

Selanjutnya, dalam menjaga kesehatan mental remaja peran sekolah perlu memastikan bahwa lingkungannya bersifat inklusif. Para pendidik yang menjadi tuntunan remaja harus bisa memastikan tidak ada tekanan yang berlebihan kepada perkembangan mental murid-muridnya.

Lingkungan juga harus bisa menjaga agar tidak ada perundungan maupun diskriminasi sehingga ke depannya remaja yang merupakan para siswa bisa meningkatkan rasa percaya diri dan belajar mengendalikan emosi lewat interaksi sosial dengan lingkungan sebayanya.

"Diharapkan sekolah juga bisa mendeteksi (apabila remaja mengalami gangguan kesehatan mental), karena waktu remaja ini juga sebagian besar ada di sekolah. Guru bisa sebagai pengamat pertama yang mendeteksi adanya perubahan berlaku dari siswanya," kata Braghmandita.

Kesehatan mental pada remaja menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan sebuah negara memiliki generasi penerus bangsa yang optimal. Namun, akhir-akhir ini masalah kesehatan mental di kalangan remaja semakin meningkat.

Secara global misalnya, data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan 1 di antara 7 anak berusia 10-19 tahun atau remaja mengalami masalah kesehatan mental. Sementara secara nasional, sebuah survei yang dilakukan oleh I-NAMHS (Indonesia National Adolescent Mental Health Survey) pada 2022 menunjukkan sebanyak 15.5 juta atau sekitar 34.9 persen remaja mengalami masalah kesehatan mental.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...
  • Kemenperin Pacu Industri Halal Tembus Pasar Global Lewat Halal Indo 2026
    Langkah mendorong penyerapan 60 persen vendor lokal di ...
  • Bukan Sekadar Ekspor, Industri Pangan Indonesia Kejar Posisi di Rantai Nilai Global
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai posisi manufaktur Indonesia ...
  • Industri Besar di Kaltim Didorong Wajib Serap 60 Persen Vendor dan UMKM Lokal.
    Langkah Komisi VII DPR RI dalam mendorong regulasi ...
Advertisement
Art Jakarta Detail Sidebar
Advertisement
Banjir Bandang Terjang Arosuka, Jalan Solok-Padang Putus Sementara.

Banjir Bandang Terjang Arosuka, Jalan Solok-Padang Putus Sementara.

22 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.