Paku Alam X Luncurkan Logo Baru Peringatan 13 Tahun UUK DIY

Sabtu, 16 Agu 2025, 13:05 WIB

YOGYAKARTA – Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), KGPAA Paku Alam X, meluncurkan logo baru peringatan 13 tahun Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan DIY. Peluncuran yang menjadi bagian rangkaian peringatan digelar di Teras Malioboro Beskalan, Rabu (13/8/2025).

Logo berbentuk gunungan pewayangan dengan siluet angka 13 berwarna emas itu dilengkapi hiasan tangkai daun di bagian bawah. Menurut Paku Alam X, gunungan dalam pagelaran wayang melambangkan awal dan akhir cerita. “Dalam konteks keistimewaan DIY, gunungan diartikan sebagai awal dari perjalanan panjang menuju tujuan luhur, yakni menjaga nilai budaya, kearifan lokal, dan keutuhan masyarakat,” ujarnya.

Ket. Foto: — Sumber: Dok. Pemkot Yogya

Paku Alam X mengajak masyarakat menjadikan momentum ini untuk memperbaiki kekurangan, memperkuat capaian, dan mengembangkan potensi daerah. “Mari terus kita jaga ruh keistimewaan agar tak hanya menjadi warisan, tetapi juga tenaga penggerak masa depan,” katanya.

Peringatan 13 tahun UUK DIY tahun ini mengusung tema “Mupakara Gunita Prasanti Loka”, yang mencerminkan tekad merawat kebudayaan sekaligus menjaga harmoni sosial. Warna emas pada angka 13 merepresentasikan kemuliaan dan penghargaan atas capaian, sementara tangkai daun melambangkan pertumbuhan, keberlanjutan, dan harapan bagi generasi mendatang.

Acara dihadiri tokoh pemerintahan, seniman, budayawan, dan masyarakat umum. Berbagai penampilan seni tradisional, mulai musik gamelan hingga tari klasik, turut memeriahkan suasana dan menegaskan identitas budaya yang menjadi inti keistimewaan DIY.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang berkontribusi menjaga keistimewaan DIY. Ia menegaskan, keistimewaan bukan sekadar simbol atau status, melainkan amanah yang harus dijaga melalui kerja nyata. “Kita harus terus menjaga dan mengembangkan budaya, tradisi, dan kearifan lokal. Jangan sampai keistimewaan hanya tinggal nama,” ujarnya.

Wawan juga mengajak generasi muda terlibat aktif dalam pelestarian budaya dengan pendekatan kreatif yang relevan dengan perkembangan zaman. “Perlu ada cara yang menarik dan adaptif terhadap teknologi agar budaya dapat dikenal dan dicintai generasi milenial dan Gen Z,” katanya.

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.