AI Mengurangi Kemampuan Dokter dalam Mendeteksi Kanker

Kamis, 14 Agu 2025, 01:00 WIB

LONDON – Sebuah studi terbaru yang diterbitkan pada Rabu (13/8), menemukan sisi lain dari penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia medis. Menurut studi tersebut, penggunaan AI secara terus-menerus justru menyebabkan sebagian dokter kehilangan keterampilan, bahkan setelah hanya beberapa bulan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang ketergantungan pada teknologi di bidang kesehatan.

Menurut studi tersebut, awalnya AI membantu para profesional kesehatan untuk mendeteksi pertumbuhan prakanker di usus besar dengan lebih baik, tetapi ketika bantuan tersebut dihilangkan, kemampuan mereka untuk menemukan tumor turun sekitar 20 persen dibandingkan dengan tingkat sebelum alat tersebut diperkenalkan. 

Ket. Foto: Logo AI pada layar ponsel pintar di Frankfurt am Main, Jerman. — Sumber: afp

Sistem perawatan kesehatan di seluruh dunia mengadopsi AI dengan tujuan untuk meningkatkan hasil dan produktivitas pasien.

Pemerintah Inggris pada tahun 2025 mengumumkan pendanaan sebesar 11 juta poundsterling untuk uji coba baru untuk menguji bagaimana AI dapat membantu mendeteksi kanker payudara lebih dini.

AI dalam penelitian ini kemungkinan mendorong para dokter untuk terlalu bergantung pada rekomendasinya, "yang menyebabkan dokter menjadi kurang termotivasi, kurang fokus, dan kurang bertanggung jawab saat membuat keputusan kognitif tanpa bantuan AI", kata para ilmuwan dalam makalah tersebut.

Mereka mensurvei empat pusat endoskopi di Polandia dan membandingkan tingkat keberhasilan deteksi tiga bulan sebelum penerapan AI dan tiga bulan setelahnya. Beberapa kolonoskopi dilakukan dengan AI dan beberapa tanpa AI, secara acak.

Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal The Lancet Gastroenterology and Hepatology.

Keterampilan Dasar

Peneliti di Universitas Oslo dan salah satu ilmuwan yang terlibat, Yuichi Mori,  memperkirakan bahwa dampak penurunan keterampilan akan “kemungkinan lebih tinggi” seiring dengan semakin kuatnya AI.

Terlebih lagi, 19 dokter dalam penelitian ini sangat berpengalaman, masing-masing telah melakukan lebih dari 2.000 kolonoskopi.

Dampaknya pada peserta pelatihan atau pemula mungkin lebih nyata, kata Omer Ahmad, konsultan gastroenterologi di University College Hospital London.

"Meskipun AI terus menawarkan potensi besar untuk meningkatkan hasil klinis, kita juga harus melindungi diri dari erosi diam-diam terhadap keterampilan dasar yang dibutuhkan untuk endoskopi berkualitas tinggi," tulis Ahmad.

Redaktur: Andreas Tanjung

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.