Petani Kopi Banyuwangi Mulai Dikenalkan Teknologi untuk Mempertinggi Produksi
Selasa, 12 Agu 2025, 13:34 WIBBANYUWANGI â Para petani kopi di Banyuwangi sebenarnya sangat potensial. Namun, karena masih ditangani secara tradisional, sehingga produksinya masih rendah.Â
Maka, Tim Doktor Mengabdi Universitas Brawijaya (UB) dari berbagai fakultas melakukan pendampingan kepada petani di Kelurahan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) untuk meningkatkan produktivitas tanaman kopi mereka. Â
Ketua Tim Doktor Mengabdi UB, Prof Dr Setyono Yudo Tyasmoro dalam keterangan di Malang, Selasa, menyampaikan Kelurahan Kalipuro, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, dikenal sebagai salah satu penghasil kopi rakyat yang menjadi sumber pendapatan utama bagi petani.Â
"Namun, produktivitas kopi di daerah ini masih rendah akibat pengelolaan konvensional dan minimnya penerapan inovasi teknologi," katanya. Umumnya, lanjut dia, petani kurang paham cara merawat percabangan pohon kopi, sehingga bentuk kanopi tanaman kopi tidak ideal untuk maksimalisasi fotosintesis. Petani juga sudah memberikan pupuk organik di tanaman kopi, namun pupuk belum matang, karena tidak melalui proses fermentasi. Â
Dampak dari proses budi daya yang kurang benar ini, katanya, membuat produktivitas tidak maksimal, hanya 1 sampai 1,5 kilogram per pohon. âTeknik budi daya kopi masih mengandalkan metode turun-temurun dari generasi sebelumnya, sehingga hasilnya belum optimal. Penggunaan pupuk organik yang benar dapat meningkatkan kualitas tanah, sehingga pemberian pupuk menjadi efisien sekaligus mengurangi biaya produksi,â kata Yudo.Â
Melihat hal tersebut, tim Doktor Mengabdi memberikan pelatihan dan pendampingan intensif kepada petani, dengan pembuatan modul budi daya kopi yang baik dan benar meliputi teknik pemangkasan, perawatan tanaman, dan peningkatan produktivitas. Ada juga modul pelatihan pembuatan pupuk organik padat, di mana di dalamnya dijabarkan bagaimana membuat pupuk organik dengan memantau suhu, pH, dan kelembaban selama proses fermentasi.
âKami menemukan kurangnya pengetahuan tentang pengelolaan tanaman sejak awal, yaitu pemangkasan bentuk, pemangkasan produksi dan pemangkasan rejuvenasi belum dipahami, sehingga kanopi kopi menjadi tidak merata dan berpengaruh pada fotosintesis dan berdampak pada rendahnya buah kopi,â ungkap Yudo.Â
Proses fermentasi dilakukan selama 28 hari, dimana setiap tiga hari sekali diamati suhu, pH, dan kelembaban pupuk. Tim juga memberi bantuan alat pembuatan pupuk organik untuk dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.  âSaya harapkan petani di sini bisa langsung mengaplikasikan apa yang telah diketahui, baik melalui modul maupun praktik langsung di lapangan tentang teknik budi daya dan pembuatan pupuk organik," ujarnya.
Pihaknya berharap petani bisa mandiri dalam mengelola kebun kopi dengan cara modern, namun tetap berkelanjutan. "Kami juga berkomitmen mendampingi petani hingga mereka mandiri dalam mengelola kebun kopi secara organik,â ucap Yudo.
Tim Doktor mengabdi yang diketuai oleh Prof Dr Setyono Yudo Tyasmoro (Fakultas Pertanian) tersebut beranggotakan Dr Ir Panji Deoranto (Fakultas Teknologi Pertanian), Kristanto Adi Nugroho (Fakultas Vokasi), dan Karuniawan Puji W (Fakultas Pertanian). Program Doktor Mengabdi UB tersebut dilaksanakan pada Juli-Agustus 2025 dengan tajuk "Pendampingan Menuju Pertanian Organik Terpadu Berbasis Kopi."
Program ini juga melibatkan mahasiswa melalui kegiatan Program Magang dan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Keterlibatan aktif dari dosen, mahasiswa, dan mitra lokal memastikan program berjalan efektif dari perencanaan hingga evaluasi. Mitra lokal, yaitu kelompok masyarakat petani atau pekebun yang memiliki tanaman kopi di Kelurahan Kalipuro yang tergabung dalam Kelompok SDGâs, yang salah satu kegiatannya adalah pembuatan pupuk organik.
Program ini didanai oleh Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) UB, sebagai bagian dari komitmen UB dalam mendorong pengembangan pertanian berkelanjutan.
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
Berita Terkait:
-
Ijen Farmhouse, Wisata edukasi di Banyuwangi jadi Destinasi Favorit Baru
-
Meksiko Upayakan Dialog dengan AS Demi Selamatkan Krisis Energi Kuba
-
Kampung Nelayan Merah Putih Lateng Banyuwangi
-
Yaqut Cholil Qoumas Klaim Tidak Mengetahui Kuota Haji yang Diterima PT Maktour
-
Beri Kepastian Hukum, DPR RI Godok RUU Perlindungan Komoditas Strategis
-
Mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas Ditetapkan Tersangka Kasus Korupsi Kuota Haji oleh KPK, Ketum PBNU Tegaskan Tak Akan Intervensi
-
Klasemen Proliga 2026: LavAni dan Gresik Phonska Mantap di Puncak
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.