Kebergantungan Pindar pada Bank Kian Menguat, Celios Peringatkan Dampaknya
Selasa, 12 Agu 2025, 10:35 WIBJAKARTA - Laporan terbaru Center of Economics and Law Studies (Celios) memantik sorotan: bank-bank besar ternyata menjadi âurat nadiâ pendanaan bagi industri pinjaman daring atau superlender.Â
Temuan ini mengguncang persepsi publik yang selama ini mengira pindar hanya bergantung pada modal ventura atau investor swasta.Â
Fakta bahwa lembaga keuangan konvensional turut mengalirkan dana ke ekosistem fintech lending membuka perdebatan soal integritas regulasi, risiko kredit, dan potensi konflik kepentingan di tengah gempuran pertumbuhan pinjaman digital.
âBanyak perbankan itu akhirnya juga berinvestasi melalui pinjaman daring sebagai super lender dan kita temukan angkanya terus meningkat, porsinya terus meningkat, dan ini yang saya kira sebenarnya industri itu juga bisa memanfaatkan ketertarikan dari perbankan untuk menjadi super lender di platform tersebut,â kata Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda dalam diskusi Celios dengan tema âDampak Regulasi Batas Maksimum Manfaat Ekonomi Pinjaman Daringâ di Jakarta, Senin (11/8).
Porsi penyaluran dari perbankan terus meningkat dari 10,8 persen pada Januari 2021, 23,8 persen pada pertengahan tahun 2022, 57,1 persen pada Juli 2024, dan 61,7 persen pada Januari 2025.
Kehadiran innovative credit scoring yang dilakukan oleh platform sesuai ketentuan bank dinilai menjadi alasan minat kuat perbankan dalam menyalurkan pembiayaan melalui pindar.
Alasan lainnya adalah adanya imbal hasil kompetitif sekitar 15-20 per tahun, dan nilai Compound Annual Growth Rate (CAGR) sebesar 25 persen yang mencerminkan laju pertumbuhan tahunan majemuk dari jumlah rekening lender selama periode 2020-2025.
âTernyata dari lender, ini yang bisa kita bilang pinjaman daring ini tingkat pengembalian itu relatif lebih tinggi dibandingkan dengan aset investasi lainnya,â ungkap Huda.
Pindar juga disebut memberikan manfaat kepada borrower karena outstanding pinjaman mengalami lonjakan tajam. Tercatat, penyaluran pinjaman bulanan beranjak dari 6,88 triliun rupiah pada 2020, hingga lebih dari 28 triliun rupiah pada 2025.
Permintaan yang tinggi dari masyarakat terhadap layanan pembiayaan digital berbasis aplikasi menggambarkan adanya kemudahan akses, proses cepat, dan lebih fleksibel dibandingkan perbankan tradisional.
Penyebab selanjutnya yaitu share kredit Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) ke total kredit perbankan semakin menurun, hingga tren peminjaman menggunakan gawai telah merambah ke peminjam di usia di atas 15 tahun.
Dorong Inklusi
Hasil estimasi Difference-in-Difference dari Celios menggambarkan bahwa financial technology (fintech) berhasil meningkatkan inklusi keuangan secara signifikan sebesar 0,415 poin. Selain itu, Celios menemukan bahwa kondisi negara setelah adanya fintech memiliki inklusi keuangan sebesar 0,712. Adapun sebelum adanya fintech, inklusi keuangan hanya bernilai 0,406.
Pihaknya menilai fintech terbukti berperan memperluas akses layanan keuangan, terutama bagi kelompok masyarakat yang selama ini tidak terlayani akses keuangan formal.
âKita temukan juga bahwa di satu sisi 40 persen masyarakat kelas menengah ke bawah itu ternyata terbantu juga dari adanya financial teknologi. Jadi ini memang yang kita lihat manfaat positifnya dari borrower,â ucap dia.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
PIS Siagakan 332 Kapal Tanker untuk Menjaga Pasokan BBM & LPG Selama Nataru 2026
-
Warga Jaksel Antusias Hapus Tato
-
Fantastis, KPK Sita Uang Rp59,49 Miliar dari Rumah Ketua PP Japto dan Ahmad Ali
-
Gubernur Khofifah: Pancasila Perekat Bangsa di Tengah Keberagaman
-
Tekan Jeratan Pindar dan Perluas Akses Kartu Kredit, Honest Card Tawarkan Limit dari 1 hingga 100 Juta Rupiah
-
Tim SAR temukan seorang nelayan yang hilang di perairan Garut
-
Tingkatkan Ketahanan Banjir dan Tsunami, Kementerian PU Kebut Perbaikan 3 Sungai di Kota Palu
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.