Bukan Sekadar Lucu-Lucuan, Rojali dan Rohana Ancam Ekonomi, Wamendag Turun Tangan

Selasa, 12 Agu 2025, 12:58 WIB

JAKARTA – Fenomena ‘Rombongan Jarang Beli’ (Rojali) dan ‘Rombongan Hanya Nanya’ (Rohana) tengah menjadi “penyakit” baru di dunia perdagangan karena menggerus potensi transaksi dan menguji daya tahan pelaku usaha.

Menyadari dampaknya yang kian meluas, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menggandeng berbagai asosiasi untuk merumuskan langkah konkret, bukan sekadar wacana. Diskusi yang digelar bukan hanya membedah perilaku konsumen di era digital, tetapi juga memetakan strategi agar tren ini tidak berubah menjadi “budaya” yang mematikan roda bisnis.

Ket. Foto: Pengunjung memilih produk kecantikan pada Pameran Beautyfest Asia Jakarta 2025 di Mall Kota Kasablanka, Jakarta, Sabtu (7/6/2025). — Sumber: ANTARA FOTO/ Asprilla Dwi Adha

Kemendag menegaskan, jika Rojali dan Rohana dibiarkan, efek domino yang muncul tidak hanya pada omzet pedagang, tetapi juga pada rantai pasok, tenaga kerja, hingga iklim investasi.

Dari pelaku UMKM sampai ritel besar, semua berpotensi terjebak dalam siklus pengeluaran energi tanpa hasil.

Karena itu, solusi yang dibahas meliputi edukasi konsumen, inovasi pemasaran, hingga regulasi perlindungan pelaku usaha yang realistis.

Langkah ini menjadi sinyal tegas bahwa pemerintah tidak ingin fenomena ini dianggap “hal sepele” atau sekadar humor internet.

Di balik istilah yang terkesan lucu, tersimpan ancaman serius bagi kesehatan ekonomi nasional. Pertanyaannya kini: apakah kita siap mengubah pola interaksi jual-beli, atau akan terus membiarkan Rojali dan Rohana berkembang biak di pasar bebas kita?

“Di Pemerintah, Kementerian Perdagangan, berupaya untuk menawarkan berbagai macam solusi agar masyarakat masih berbelanja (langsung). Kami bekerja sama dengan berbagai macam asosiasi,” ucap Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti ketika ditemui di Jakarta, Selasa (12/8).

Roro menyampaikan bahwa salah satu skema yang tengah dipertimbangkan adalah pemberian diskon.

Ia pun menjelaskan bahwa munculnya fenomena Rojali dan Rohana disebabkan oleh perubahan gaya hidup di kalangan masyarakat.

Berdasarkan berbagai opsi berbelanja yang diberikan kepada masyarakat, lanjut Dyah, lebih banyak masyarakat berminat untuk berbelanja online.

“Sehingga, apa yang terjadi? Kalau mereka berkunjung ke mall, mereka lebih suka untuk menonton film di bioskop, makan ke restoran, dan at the end (pada akhirnya), baru mereka berbelanja,” kata Roro.

Sebelumnya, ia juga telah menyampaikan hadirnya Rojali dan Rohana bukan disebabkan oleh penurunan daya beli. Menurutnya, konsumen masih banyak yang berbelanja secara luring, khususnya saat periode Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru, dan libur sekolah.

Sebelumnya diberitakan, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan data transaksi online shopping atau belanja daring yang terus meningkat menunjukkan bahwa tidak ada pelemahan daya beli di tengah masyarakat.

Ia menuturkan di Jakarta, Selasa (5/8), bahwa menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), transaksi di online ritel dan marketplace meningkat 7,55 persen secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq) pada triwulan II 2025.

Peningkatan tersebut sejalan dengan kondisi perekonomian Indonesia yang mampu tumbuh 5,12 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan II 2025.

Meskipun demikian, ia tidak menyebutkan berapa transaksi yang tercatat pada triwulan I dan triwulan II tahun ini.

  • rombongan jarang beli (rojali)
  • rombongan hanya nanya (rohana)

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.