Hakteknas ke-30, Momentum Kuatkan Daya Saing Bangsa

Senin, 11 Agu 2025, 01:00 WIB

Jakarta - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjadikan peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-30 sebagai momentum untuk memperkuat daya saing bangsa melalui riset dan inovasi. 

Kepala BRIN Laksana Tri Handoko menegaskan bahwa Hakteknas bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi pengingat akan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di tanah air.

Ket. Foto: Laksana Tri Handoko Kepala BRIN - Riset yang kuat hanya akan tercapai bila seluruh potensi bangsa saling bersinergi, dari hulu hingga hilir. — Sumber: antara

"Tiga puluh tahun Hakteknas harus menjadi pengingat bahwa inovasi adalah kunci untuk membawa Indonesia menjadi negara maju. BRIN mengajak dunia akademik, industri, pemerintah, dan masyarakat untuk bergandengan tangan memanfaatkan kemajuan teknologi demi kesejahteraan bersama," katanya di Jakarta Minggu (10/8).

Seperti dikutip dari Antara, Handoko juga menekankan, pihaknya berkomitmen untuk membuka akses seluas-luasnya terhadap fasilitas riset, mendorong riset kolaboratif, dan mengintegrasikan potensi riset dari berbagai pihak agar dapat memberikan dampak nyata.

Hal ini sesuai dengan semangat Hakteknas ke-30 di mana penguatan ekosistem inovasi nasional yang inklusif dan berkelanjutan menjadi poin utama.

"Riset yang kuat hanya akan tercapai bila seluruh potensi bangsa saling bersinergi, dari hulu hingga hilir," ujarnya.

Handoko juga menyoroti bahwa kemajuan teknologi harus selaras dengan tantangan global, seperti transisi energi, ketahanan pangan, kesehatan, hingga mitigasi perubahan iklim, di mana BRIN melalui berbagai program risetnya, telah memfokuskan sumber daya untuk menjawab isu-isu strategis tersebut.

Melalui momentum Hakteknas ke-30, BRIN mendorong keterlibatan generasi muda sebagai motor penggerak inovasi.

Kebangkitan teknologi nasional ke 30 pada tahun 2025 meneguhkan semangat penguatan ekosistem riset dan inovasi yang berdampak bagi bangsa dan negara melalui keberlanjutan penciptaan SDM unggul, dukungan infrastruktur riset yang efisien dan inklusif, serta penguatan skema fasilitasi bagi tumbuhnya ide dan gagasan riset yang inovatif dan berdampak.

Riset Industri

Senada dengan Handoko, sebelumnya Presiden Prabowo Subianto mengajak seluruh ilmuwan tanah air untuk bahu-membahu dalam memajukan riset industri nasional demi menyejahterakan bangsa Indonesia.

Presiden juga meminta para ilmuwan untuk tidak takut dalam menghadapi tantangan besar bangsa agar mampu mengelola industri manufaktur besar seperti kendaraan, elektronik, serta semikonduktor.

"Pak Presiden menyampaikan permintaan untuk para ilmuwan, para saintis itu, marilah kita bersama-sama bahu-membahu, bekerja sama menghasilkan karya-karya nyata yang diharapkan bisa memajukan industri dan menyejahterakan bangsa Indonesia," kata Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto dalam konferensi pers Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 di Bandung, Kamis (7/8).

Seiring dengan itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menekankan pagelaran KSTI 2025 merupakan titik awal pembuktian sains untuk dapat menggerakkan industri dan memajukan ekonomi tanah air.

"KSTI ini bukan akhir ya. Setelah kita tutup ini bukan berakhir, tapi justru ini adalah awal bagaimana kerja-kerja besar, bagaimana kerja-kerja keras yang akan dilakukan oleh teman-teman peneliti, profesor, dosen-dosen bersama seluruh mahasiswa untuk membuktikan bahwa benar kita menguasai sains dan teknologi, bahwa benar sains dan teknologi itu bisa memberikan dampak lahirnya industri-industri berbasis sains dan teknologi," katanya menutup gelaran KSTI 2025 di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), Bandung, Sabtu (9/8).

Redaktur: Andreas Tanjung

Penulis: Eko S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.