Ekonom Ingatkan: Penurunan FDI Tak Hanya Cermin Masalah Domestik
Senin, 11 Agu 2025, 00:00 WIBJAKARTA - Penurunan penanaman modal asing atau foreign direct investment (FDI) dalam beberapa waktu belakangan ini ditengarai akibat dampak ketidakpastian global yang membuat investor menahan ekspansi. Tren ini juga terjadi di banyak negara dan menandakan ketatnya persaingan menarik modal asing.
Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research Pranjul Bhandar mencatat pelemahan FDI dalam beberapa bulan terakhir terjadi di banyak negara, terutama pasar negara berkembang. Dengan ketidakpastian perdagangan dan tarif yang tinggi, banyak korporasi enggan untuk menanamkan modal lintas negara.
âJadi, ini lebih merupakan konsekuensi dari ketidakpastian global, bukan masalah khusus Indonesia,â kata Pranjul dalam media briefing secara daring di Jakarta, akhir pekan lalu.
Dia berharap arus FDI kembali mengalir setelah ketidakpastian tarif mereda dan aturan baru dipastikan, walaupun dampaknya akan bervariasi antar negara.
âJika aturan tarif baru sudah final, investasi korporasi global bisa mulai lagi dan FDI juga akan mengalir,â kata Pranjul.
Dia melihat peluang untuk Indonesia menarik FDI di manufaktur menengah (mid-tech) yang padat karya seperti tekstil, pakaian, alas kaki dan furnitur.
Pranjul juga mencatat bahwa ASEAN sudah mendapat keuntungan dari sektor ini pada masa pemerintahan Donald Trump yang pertama, dan gelombang baru mungkin terjadi di periode berikutnya.
âIndonesia sudah memproduksi barang-barang tersebut, namun skalanya perlu diperbesar. Misalnya, ekspor pakaian Indonesia baru mencapai 25 persen dari Vietnam,â kata dia.
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi pada triwulan II 2025 mencapai 477,7 triliun rupiah. Dari jumlah ini, porsi FDI tercatat sebesar 42,3 persen atau senilai 202,2 triliun rupiah.
Realisasi FDI triwulan II 2025 turun dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 230,4 triliun rupiah. Secara tahunan, FDI juga turun dibandingkan realisasi triwulan II 2024 sebesar 217,3 triliun rupiah.
Faktor Global
Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Research Herald van der Linde menilai investasi global melemah akibat ketidakpastian tarif, membuat banyak perusahaan menunda pembangunan pabrik, termasuk di Indonesia.
Namun, pergeseran rantai pasok global memberi peluang bagi ASEAN. Karena itu, Indonesia diharapkan mampu menarik lebih banyak FDI di sektor manufaktur menengah yang padat karya sekaligus membutuhkan tenaga kerja terampil, sehingga dapat mendorong permintaan akan tenaga kerja.
- investasi asing
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Grammy Heboh! Bianca Censori, Istri Kanye West Tampil ‘Tanpa Busana’ di Karpet Merah
-
Aksi Kejut Program MBG! Danantara–BGN Resmi Kolaborasi Perkuat Pembiayaan SPPG
-
Lebaran Puskesmas Tutup, Warga Bandung Kesulitan Akses Kesehatan, Ini Kata KDM
-
Tok Diputuskan, Bek Kanan Anyar AC Milan Kyle Walker Kenakan Nomor Punggung 32
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.