Angkutan Depok dan Bekasi Termahal di Jabodetabek

Jumat, 08 Agu 2025, 03:25 WIB

JAKARTA – Transportasi umum wilayah Depok dan Bekasi ternyata paling mahal untuk Jabodetabek. Biayanya bisa mencapai satu juta rupiah perbulan. Analis kebijakan transportasi dari Fakta Indonesia, Azas Tigor Nainggolan, menjelaskan, Depok dan Bekasi merupakan kota dengan biaya transportasi umum termahal.

“Warga kedua wilayah ini sekarang menempati kota paling mahal pengeluaran untuk bertransportasi umum. Idealnya biaya transportasi 10 persen dari biaya hidup,” ujar Tigor, Kamis. Dia merinci, warga Bekasi harus mengeluarkan biaya 1,9 juta per bulan. Angka ini identik 14,02 persen dari biaya hidup.

Ket. Foto: Armada bus Transjakarta. Kementerian Perhubungan berinisiatif untuk mendorong layanan bus Transjakarta dapat terintegrasi secara reguler di Pelabuhan Tanjung Priok. — Sumber: Istimewa

Sedangkan warga Depok perlu merogoh kocek 1,8 juta per bulan atau 16,32 persen dari biaya hidup. Sementara itu, warga di Bogor dan Tangerang mengeluarkan biaya di bawah kedua wilayah tersebut. Tigor mengatakan, tingginya biaya transportasi Bekasi dan Depok disebabkan sulitnya akses angkutan umum massal.

Warga harus menggunakan transportasi tambahan seperti transportasi daring untuk perjalanan dari rumah ke stasiun atau terminal angkutan umum massal (first miles). Kemudian, dari perhentian di stasiun atau terminal menuju tujuan akhir (last miles).

Berkaca pada situasi demikian, Tigor mengusulkan pemerintah daerah mengembangkan layanan internal wilayahnya sendiri. Tujuannya agar warga bisa lebih mudah mengakses layanan transportasi umum massal seperti yang dibangun koneksitasnya oleh Pemerintah Provinsi Jakarta.

“Dengan begitu, bisa menurunkan biaya bertransportasi umum lebih murah,” jelasnya.Jakarta saat ini telah mengembangkan layanan transportasi massal di dalam kota dan dari wilayah penyangga menuju Ibu Kota. Salah satunya penyediaan Transjabodetabek dari wilayah penyangga seperti Bogor, Bekasi, Depok, dan Banten ke Jakarta.

Tigor berpendapat, upaya ini berhasil mengajak masyarakat menggunakan transportasi umum massal menuju Jakarta. “Walau penambahan layanan terintegrasi sudah dilakukan, pengguna KRL Jabodetabek tetap penuh. Berarti upaya ini berhasil mengajak dan menambah angka warga menggunakan transportasi umum massal ke dan di Jakarta,” tambahnya.

Tigor menambahkan, kemudahan layanan transportasi umum terintegrasi membuat warga Jakarta tidak mudah menggunakan kendaraan pribadinya membuat kemacetan Jakarta berkurang. Hal ini juga pernah disampaikan Gubernur Jakarta Pramono Anung. Dia menyebutkan tingkat kemacetan Jakarta lebih rendah ketimbang New York.

Transjakarta

Sementara itu, sebelumnya, Kementerian Perhubungan berinisiatif untuk mendorong layanan bus Transjakarta dapat terintegrasi secara reguler di Pelabuhan Tanjung Priok. “Kita berinisiatif, tapi memang baru tahap diskusi awal, agar Transj terintegrasi dengan pelabuhan,” ujar Direktur Prasarana Integrasi Transportasi Antarmoda Kemenhub, Sigit Irfansyah. 

Menurut Sigit, Transjakarta pernah beroperasi melayani Pelabuhan Tanjung Priok, namun hanya secara situasional by request seperti saat Lebaran. Layanan Transjakarta ideal dalam rangka mengurangi kemacetan. Para pengguna kendaraan pribadi beralih naik transportasi umum seperti layanan bus Transjakarta. “Transj menjadi solusi transportasi Jakarta dan memberikan kemudahan para komuter,” jelasnya.

Menurutnya, sejumlah pemangku kepentingan di Pelabuhan Tanjung Priok seperti Bea Cukai dan Pelindo siap mendukung inisiatif integrasi layanan bus Transjakarta dengan Pelabuhan Tanjung Priok. wid/Ant/G-1

  • transjakarta
  • cililitan-juanda

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.