Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

LPG Satu Harga: Keadilan Energi atau Bom Waktu Fiskal?

📅 Senin, 04 Agu 2025, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
LPG Satu Harga: Keadilan Energi atau Bom Waktu Fiskal? Doc: istimewa
Ket. Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti mengapresiasi semangat kebijakan LPG satu harga untuk mewujudkan pemerataan dan keadilan sosial. Namun, dia memperingatkan kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan beban anggaran.

JAKARTA - Pemerintah berisiko menghadapi tekanan fiskal ke depan sehingga berpotensi pada pembekakan defisit anggaran. Risiko tersebut dipicu meningkatnya impor energi seiring rencana kebijakan LPG Subsidi Satu Harga dan kesepakatan energi Indonesia–Amerika Serikat (AS).

Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti mengapresiasi semangat kebijakan LPG satu harga untuk mewujudkan pemerataan dan keadilan sosial. Namun, dia memperingatkan kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan beban anggaran.

Kebijakan itu berpotensi mendorong kenaikan biaya logistik dan impor energi, seperti LPG dan minyak karena jarak pengiriman yang panjang dan tarif tinggi untuk armada distribusi. "Pemerintah harus menanggung biaya distribusi yang tinggi, terutama ke wilayah-wilayah terpencil," tegasnya kepada Koran Jakarta, Minggu (3/8).

Karenanya, Esther menilai perlunya skema subsidi yang lebih efisien, peningkatan validasi data penerima manfaat, serta strategi diversifikasi pasokan energi yang lebih hati-hati. Dengan begitu, skema penyaluran subsidi itu tidak semakin membebani fiskal negara.

Pemerintah tengah merumuskan kebijakan penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) LPG 3 kg satu harga secara nasional, dengan target implementasi mulai 2026 melalui revisi Perpres 104/2007 dan 38/2019.

Saat ini, HET resmi berada di kisaran 16.000-19.000 rupiah per tabung, tergantung wilayah. Namun harga di lapangan sering kali mencapai 22.000–23.000 rupiah di pengecer bahkan hingga 50.000 rupiah/ tabung di daerah terpencil.

Dalam skema satu harga, biaya distribusi nantinya akan dialihkan dari pengecer ke pemerintah. Hal tersebut tentunya makin menambah beban anggaran belanja pemerintah.

Tak hanya itu, tekanan terhadap fiskal makin bertambah seiring kesepakatan dagang energi RI–AS. Presiden AS, Donald Trump pada 15–22 Juli 2025 mengumumkan Gedung Putih akan menerapkan tarif balik (reciprocal tariff) sebesar 19 persen atas semua ekspor RI ke Amerika atau lebih rendah dari tarif awal sebesar 32 persen.

Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia setuju membuka akses pasar penuh untuk produk AS tanpa tarif dan menghapus hambatan non-tarif termasuk produk energi meliputi LPG, minyak mentah, dan bensin.

Lebih spesifik, rencana Pertamina meningkatkan ekspor LPG dari AS sehingga mencapai 60 persen dari total impor LPG (naik dari 57 persen pada 2024). Hal itu sesuai arahan Kementerian ESDM untuk mengurangi ketergantungan impor dari Timur Tengah dan Asia 15 milliar dollar 60 persen dari total impor.

Tahap Penyusunan

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya (ESDM) Bahlil Lahadalia menerangkan kebijakan LPG Satu Harga masih dalam tahap penyusunan dan tengah dikebut.

"Itu juga belum final dan dulunya kan sudah pernah kita bicarakan dan sekarang konsepnya itu nanti di perpres. Nanti kalau sudah perpresnya sudah selesai, baru saya akan sampaikan," ucap Bahlil.

Pada kesempatan lain, Plt. Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas Mirza Mahendra menyampaikanupaya pemerintah untuk mewujudkan keadilan energi terus dilakukan di antaranya melalui kebijakan LPG 3 kg bagi kelompok rumah tangga sasaran, usaha mikro sasaran, nelayan sasaran dan petani sasaran.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Daerah
Bantul Raih TPAKD Award 202...
Megapolitan
Jakarta Kota Sinema Makin K...
Megapolitan
Usaha Pembangunan Jaya Jika...
Megapolitan
Dinkes: Ratusan Warga "Serp...
Nasional
Kemenbud Targetkan 7.000 Ca...
Megapolitan
DPRD dan Pemkot Bogor Berha...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.