Peny Meliaty Hutabarat, Universitas Indonesia
Menonton acara musik di stadion atau gedung pertunjukan adalah hal biasa. Tapi bayangkan kalau kamu bisa menonton penampilan musisi favoritmu di tempat eksotis seperti pegunungan atau situs bersejarah? Tentu ini akan menjadi pengalaman yang  istimewa.
Tak heran, hal ini membikin festival tahunan Coachella begitu digandrungi, tak hanya oleh turis lokal Amerika Serikat, tapi juga wisatawan dari berbagai negara.
Inilah esensi perkembangan dari experience economy, di mana pengalaman emosional, baik yang didengar atau dilihat menjadi âmata uang baruâ dalam dunia pariwisata.
Fenomena ini kemudian melahirkan pariwisata musik, yang kini kian disukai masyarakat. Bukan sekadar menghadiri konser, orang-orang tertarik ingin merasakan pertunjukan di tempat yang memiliki nilai kultural dan emosional tertentu.
Di Tanah Air, Jazz Gunung Bromo jadi contoh pariwisata musik yang cukup populer karena menyajikan pertunjukan musik yang berpadu dengan suasana kabut pegunungan dan kearifan lokal. Pun pagelaran Prambanan Jazz yang menyajikan musik di antara candi-candi bersejarah, sebuah kolaborasi unik antara seni dan warisan budaya.
Apa yang membuat pariwisata musik relevan dan diterima?
Pariwisata musik menyatukan pengalaman musik dengan suasana tempat. Inilah yang menjadikannya sebagai medium lintas budaya sekaligus sarana membangun identitas.
Pengalaman musikal yang dibingkai dalam lanskap dan nilai lokal terbukti menciptakan ingatan kolektif yang lebih dalam. Namun agar tetap relevan dan berdampak nyata, keautentikannya harus dijaga.
Festival musik jangan hanya sekadar memindahkan panggung ke lokasi cantik, tetapi juga menyerap denyut lokal.
Dalam penyelenggaraannya, sajian festival yang menghadirkan berbagai genre mesti menggandeng para seniman daerah dan melibatkan masyarakat setempat. Di sinilah letak kekuatannya: menyatukan ekonomi kreatif, diplomasi budaya, dan keberlanjutan destinasi.
Autentik bukan berarti kuno atau konservatif. Ciri khas lokal ini justru membuka ruang untuk inovasi yang berpijak pada karakter dan kearifan lokal.
Ketika pariwisata musik dibangun dengan memahami konteks, maka bukan hanya wisatawan yang pulang dengan kesan, tetapi komunitas lokal pun tumbuh bersama ritmenya.
Potensi nyata yang mulai digarap
Indonesia tengah berada di jalur yang tepat untuk menjadikan pariwisata musik sebagai kekuatan pariwisata nasional. Salah satu contohnya adalah Prambanan Jazz Festival (PJF), yang rutin digelar di pelataran Candi Prambanan. Sejak digelar pertama kali pada 2015, PJF tak hanya menjadi konser tahunan, tapi juga destinasi wisata dan warisan budaya.
Fenomena music tourism ini sebenarnya bukan hal baru di dunia global. Tapi di Indonesia, potensinya baru tergali. Pasca pandemi Covid-19, tiket-tiket konser selalu ludes terjual.
Bukan hanya pengunjung lokal, wisatawan mancanegara pun mulai melirik agenda musik kita. Potensi yang besar ini tak semata diukur dari jumlah penonton atau artis yang tampil, melainkan dari dampak jangka panjang yang bisa dihasilkan.
Karena itu, baik pemerintah dan seluruh pihak terkait perlu merancang strategi jangka panjang dan perencanaan adaptif. Dibutuhkan sinergi lintas sektor untuk menjadikan pariwisata musik sebagai bagian dari agenda strategis pariwisata nasional.
Menembus lintas usia dan generasi
Kini, musik bukan hanya untuk didengar, tapi juga dialami. Festival dan konser bukan hanya sebagai panggung pertunjukan, tapi juga menjadi ruang berbagi emosi dan kenangan kolektif.
Inilah yang disebut sebagai konsep The experience economy dalam buku klasik Pine & Gilmore, di mana orang lebih tertarik membeli pengalaman, bukan sekadar barang atau jasa.
Dalam konteks pariwisata, ini berarti wisatawan mencari momen yang berkesan dan membekas. Musik menjadi instrumen yang cocok untuk menggapai hal tersebut. Sebab musik mampu menyentuh emosi, memicu nostalgia, dan membangun hubungan sosial.
Lihat saja Prambanan Jazz Festival 2025. Di satu panggung, tampil legenda seperti Ebiet G. Ade, Atiek CB, Kahitna. Tapi di sisi lain hadir musisi muda seperti Dere, Yura dan Kunto Aji.
Penontonnya pun lintas generasiâdari Gen Z hingga Silver Generation. Justru pertemuan lintas generasi dan genre inilah yang membuat pengalaman menjadi semakin kaya. Festival menjadi ruang pertemuan budaya dan lintas zaman.
Lebih dari itu, festival juga mengangkat destinasi. Candi, hutan dan tepi pantai bukan hanya latar, tapi bagian dari pengalaman itu sendiri. Ketika jazz bertemu kemegahan candi, atau musik indie mengalun di tengah hutan pinus, terciptalah suasana yang autentik dan tak tergantikan.
Manfaat ekonomi dan sosial
Pariwisata musik bukan euforia sesaat. Pariwisata jenis ini membawa efek berganda, mendorong UMKM, menghidupkan ekonomi lokal, dan memberi panggung bagi seniman daerah. Secara sosial, ia juga menciptakan ruang kebersamaan lintas usia dan kelas sosial, sesuatu yang jarang dimiliki bentuk pariwisata lain.
Namun untuk menjadikan ini berkelanjutan, pariwisata musik perlu dikemas sebagai pengalaman terkurasi. Pemilihan artis, lokasi, kenyamanan penonton, hingga narasi festival harus dirancang dengan cermat, memperhatikan keragaman demografi tanpa mengorbankan keasliannya.
Inilah peluang besar yang kerap tak disadari dan belum digarap maksimal, karena kebijakan musik dan pariwisata berjalan sendiri-sendiri. Padahal, keduanya bisa saling menguatkan. Hal ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk sekaligus membangun ekosistem musik nasional.
Kita juga bisa belajar dari fenomena global. Lihat saja Taylor Swift yang bisa mendongkrak ekonomi setempat (Swiftonomics) di mana pun ia tampil. Atau, grup vokal pria asal Korea Selatan Bangtan Sonyeondan atau BTS yang sudah menjadi fenomena global.
Pariwisata musik adalah cermin perubahan cara kita menikmati hidup. Ada kenangan, identitas, kesenangan, dan harapan di dalamnya. Ketika musik menyatu dengan ruang dan waktu, maka kita tidak sekadar hadir, kita sedang mengalami hidup.
Peny Meliaty Hutabarat, Dosen Tetap Program Studi Penyiaran Multimedia Vokasi Universitas Indonesia, Kandidat Doktor - Administrasi Bisnis FIA UI, Peneliti di bidang Pariwisata Musik (Music Tourism), Multiplatform dan Ekonomi Pengalaman (Experience Economy), Universitas Indonesia
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.