Bencana di Tengah Musim Tanam, 110 Hektare Sawah di Mataram Terancam Rugi
Rabu, 30 Jul 2025, 13:15 WIBMATARAM â Banjir dapat merusak tanaman padi, menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen, serta menghambat kegiatan pertanian.
Selain itu, banjir juga dapat menyebabkan hilangnya kesuburan tanah, penyebaran penyakit tanaman, dan kerusakan infrastruktur pertanian.
Dinas Pertanian Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat melaporkan 110 hektare sawah di Kota Mataram terdampak banjir yang terjadi pada 6 Juli 2025.
"Data itu baru bisa kami rilis, setelah dilakukan verifikasi dan evaluasi terhadap sawah petani yang terdampak banjir," kata Plt Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram H Irwan Harimansyah di Mataram, Rabu (30/7).
Ia mengatakan saat terjadi banjir, semua masih fokus melakukan penanganan dan menyelamatkan warga terdampak selama masa tanggap darurat bencana yakni 14 hari.
Setelah itu masuklah ke tahap masa transisi pemulihan untuk dilakukan pendataan dan verifikasi terhadap dampak banjir tersebut sehingga berhasil di data 110 hektare lahan sawah petani terdampak banjir.
"Sekitar 110 hektare sawah terendam air yang menimbulkan kerugian besar serta ancaman gagal panen bagi para petani," katanya.
Menurut dia, wilayah dengan dampak paling parah terjadi di Kecamatan Sandubaya dan Sekarbela.
Di Kelurahan Mandalika Kecamatan Sandubaya, total lahan pertanian yang terdampak banjir mencapai 53,85 hektare, yang seluruhnya disebabkan oleh jebolnya tanggul saluran irigasi.
Kemudian di Kelurahan Dasan Cermen banjir merendam sekitar 23,20 hektare, dan di Kelurahan Bertais melaporkan kerusakan pada 1 hektare lahan dengan kerugian diperkirakan mencapai Rp10 juta dengan usia tanaman padi baru mencapai tujuh hari setelah tanam (HST), dan sisanya ada di Kecamatan Sekarbela.
"Semua wilayah terdampak telah kami data termasuk laporan dari penyuluh di lapangan sudah kami terima," katanya.
Namun demikian, dalam hal ini Dinas Pertanian tidak dapat memberikan ganti rugi atas kerusakan yang dialami para petani tersebut sebab Distan tidak memiliki alokasi anggaran untuk penggantian kerugian akibat bencana.
"Sejak awal kami selalu menganjurkan para petani untuk mengikuti program asuransi pertanian, guna antisipasi kerugian petani akibat kondisi yang tidak diinginkan," katanya.
Dikatakan, Program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dikelola oleh Asuransi Jasindo merupakan bentuk perlindungan yang disediakan untuk mengantisipasi risiko gagal panen akibat bencana alam, serangan hama dan penyakit tanaman.
Program tersebut telah disosialisasikan kepada para petani, namun tingkat partisipasi petani hingga saat ini dinilai masih rendah.
Kondisi itu terjadi salah satunya karena kurangnya kesadaran petani terhadap pentingnya perlindungan melalui asuransi.
Padahal, dengan kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi, risiko gagal panen semakin tinggi.
"Jika terjadi bencana maka petani sudah melakukan antisipasi dengan asuransi sehingga beban petani akan lebih ringan. Tapi sayang, masih banyak petani enggan mendaftar," katanya.
Kendati petani tidak mendapatkan bantuan ganti rugi, namun petani yang terdampak tetap mendapatkan bantuan sembako atau kebutuhan dasar lainnya dari Dinas Sosial.
"Untuk bantuan kebutuhan pokok, kami koordinasi dengan Dinas Sosial," katanya.
Belajar dari banjir tersebut, tambah Irwan, pihaknya kembali mengimbau seluruh petani baik secara perorangan maupun dalam kelompok segera mendaftarkan diri dalam program asuransi pertanian guna mengantisipasi risiko bencana serupa di masa mendatang.
Berita Terkait:
-
Aksi Begal di Tol Plumpang Meresahkan, Polisi Tangkap Satu Pelaku
-
Suriah Bakal Gelar Pemilu Parlemen Pertama Pasca Runtuhnya Rezim Assad
-
Imlek Diharapkan Memperkuat Toleransi
-
Tarif AS Mulai Berlaku, Nvidia akan Bayar Amerika 15 Persen dari Penjualan Chip AI ke Tiongkok
-
Pemprov Sulsel Gelar Katinting Race untuk Lestarikan Budaya
-
BMKG: Waspadai Cuaca Ekstrem dan Gelombang Tinggi di Perairan Sulawesi Utara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.