Thailand Bantah Gunakan Senjata Kimia dalam Bentrokan dengan Kamboja

Selasa, 29 Jul 2025, 02:55 WIB

BANGKOK - Thailand pada Senin (28/7) membantah telah menggunakan senjata kimia dalam konflik perbatasannya dengan Kamboja, dan mengecam tuduhan tak berdasar tersebut.

Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Thailand mengatakan tuduhan tersebut merupakan bagian dari kampanye disinformasi yang bertujuan mendiskreditkan reputasi Thailand jelang kedua negara dijadwalkan menggelar perundingan damai.

Ket. Foto: Sejumlah tentara Thailand diangkut dengan truk militer di Provinsi Si Sa Ket pada akhir pekan lalu. — Sumber: AFP/Lillian SUWANRUMPHA

"Tuduhan ini sekali lagi tidak berdasar dan mencerminkan pola disinformasi yang bertujuan untuk memutarbalikkan fakta di lapangan dan dengan sengaja merusak kredibilitas dan kedudukan Thailand di mata masyarakat internasional," ungkap kementerian tersebut.

Maly Socheata, juru bicara Menteri Pertahanan Kamboja, sebelumnya menuduh pasukan Thailand menggunakan senjata kimia dalam serangan mereka.

Komite Hak Asasi Manusia Kamboja juga mengutuk apa yang disebutnya sebagai penggunaan asap dan zat kimia beracun militer yang disengaja oleh Thailand.

Melalui media sosial Facebook, istri Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet, membagikan foto sebuah pesawat yang mengeluarkan asap, dan memberi judul postingannya dengan "Pesawat Thailand mengeluarkan asap beracun di wilayah sengketa pada 27 Juli, menurut Kementerian Pertahanan Nasional Kamboja".

Dalam pernyataan Senin, Kementerian Luar Negeri Thailand menegaskan posisi penolaknya mengenai penggunaan senjata kimia secara konsisten.

“Kami mengutuk penggunaan senjata kimia di mana pun, oleh siapa pun, dalam situasi apa pun,” kata kementerian itu. “Thailand juga berkomitmen penuh terhadap semua instrumen internasional mengenai perlucutan senjata dan non proliferasi senjata pemusnah massal,” imbuh mereka.

Sementara itu Angkatan Bersenjata Kerajaan Thailand mengatakan pihaknya dengan tegas menolak tuduhan Kamboja.

"Thailand menyerukan kepada masyarakat internasional untuk memperhatikan perilaku tersebut secara serius dan bersama-sama mengutuk penggunaan disinformasi yang bertujuan untuk mendistorsi realitas di panggung global," demikian pernyataan Angkatan Bersenjata Kerajaan Thailand.

Gencatan Senjata

Sementara itu dari Kuala Lumpur, Malaysia, pada Senin dilaporkan bahwa para pemimpin Thailand dan Kamboja sepakat untuk melakukan gencatan senjata tanpa syarat setelah lima hari pertempuran di sepanjang perbatasan kedua negara yang mengakibatkan sedikitnya 36 orang tewas.

Membacakan pernyataan bersama dari para pemimpin kedua negara setelah perundingan damai, Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, mengatakan baik Thailand dan Kamboja telah menyepakati gencatan senjata segera dan tanpa syarat yang berlaku mulai Senin tengah malam.

"Ini adalah langkah awal yang vital menuju deeskalasi dan pemulihan perdamaian dan keamanan," ujar PM Anwar yang didampingi oleh penjabat Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai, dan Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet.

PM Anwar mengatakan setelah pertemuan kedua petinggi negara maka pertemuan para komandan militer dari kedua belah pihak akan berlangsung pada Selasa (19/7) pagi, sebelum komite lintas batas kedua negara bertemu di Kamboja pada 4 Agustus mendatang. CNA/AFP/I-1

  • cambodia

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.