AS dan Tiongkok Jajaki Kesepakatan Dagang Baru dalam Pertemuan di Stockholm

Senin, 28 Jul 2025, 18:20 WIB

JAKARTA – Pejabat tinggi Amerika Serikat dan Tiongkok kembali menggelar pertemuan di Stockholm untuk membahas masa depan hubungan perdagangan kedua negara. Pertemuan ini menjadi yang ketiga kalinya dalam tahun ini antara Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng.

Analis memperkirakan pertemuan tersebut akan menghasilkan kesepakatan untuk mempertahankan tarif saat ini sambil membuka jalan menuju kesepakatan perdagangan lebih menyeluruh yang ditargetkan dicapai pada akhir tahun. Agenda utama yang dibahas mencakup pengurangan ketegangan dagang dan persiapan pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping.

Ket. Foto: — Sumber: Independent

Presiden Trump sebelumnya mengatakan bahwa AS dan Tiongkok telah mencapai “batasan kesepakatan” sebelum dirinya bertolak ke Skotlandia untuk pembicaraan lain.

"Kami memiliki batasan kesepakatan dengan Tiongkok," kata Trump pada Jumat sebelum keberangkatannya.

Scott Bessent menyampaikan dalam wawancara dengan MSNBC bahwa kedua negara kini berada dalam posisi “status quo”. AS tetap mengenakan tarif 30% terhadap barang-barang asal Tiongkok, sementara Tiongkok merespons dengan tarif 10%, di luar tarif dasar yang telah berlaku sejak awal masa jabatan kedua Presiden Trump.

Bessent menjelaskan bahwa tahap selanjutnya dalam hubungan perdagangan ini adalah membahas upaya penyeimbangan ekonomi bilateral. AS ingin mengurangi defisit perdagangannya yang mencapai USD 295,5 miliar dengan meningkatkan ekspor ke Tiongkok serta mendorong pertumbuhan konsumsi domestik di negara tersebut.

Kedutaan Besar Tiongkok di Washington menyatakan harapan agar pembicaraan ini menghasilkan lebih banyak kesepahaman dan kerja sama. Beijing juga berharap agar miskomunikasi yang selama ini menghambat relasi dagang bisa diminimalkan.

Pertemuan di Stockholm dinilai penting sebagai batu loncatan menuju potensi pertemuan antara Trump dan Xi pada musim gugur mendatang. Wendy Cutler, mantan negosiator perdagangan AS, mengatakan bahwa Beijing kemungkinan akan menuntut persiapan yang matang sebelum menyetujui pertemuan antara kedua pemimpin.

Menurut Cutler, salah satu fokus utama dalam pertemuan Stockholm adalah pengumuman komersial serta kesepakatan yang akan diumumkan saat pertemuan puncak. Isu yang akan disoroti antara lain kelebihan kapasitas industri di Tiongkok dan lemahnya kontrol atas bahan kimia pembuat fentanil.

Presiden Dewan Bisnis AS-Tiongkok, Sean Stein, menambahkan bahwa pertemuan di ibu kota Swedia ini merupakan peluang pertama yang nyata untuk mengangkat isu-isu struktural. Hal tersebut mencakup akses pasar Tiongkok bagi perusahaan-perusahaan Amerika Serikat.

Stein menjelaskan bahwa para pelaku bisnis akan menilai hasil pembicaraan berdasarkan atmosfer dan narasi yang dibangun kedua pihak usai pertemuan. Indikasi akan berlangsungnya pertemuan puncak para pemimpin negara akan sangat memengaruhi optimisme terhadap tercapainya kesepakatan final.

Di sisi lain, isu fentanil kemungkinan besar akan menjadi tuntutan utama Tiongkok dalam perundingan ini. Beijing meminta penghapusan tarif 20% yang dikenakan oleh Presiden Trump awal tahun ini sebagai respons atas dugaan kurangnya pengawasan Tiongkok terhadap bahan kimia pembuat fentanil.

Sengketa dagang AS-Tiongkok kali ini berawal dari kebijakan tarif Trump yang diberlakukan pada Februari lalu. Dengan alasan lemahnya pengendalian Tiongkok atas bahan kimia pembuat fentanil, Trump menerapkan tarif tambahan dua kali, yang kemudian dibalas oleh Beijing dengan bea impor terhadap berbagai produk Amerika.

Kedua negara sempat menurunkan bea masuk tiga digit mereka dalam pertemuan sebelumnya di Jenewa dan London. Namun, AS tetap mempertahankan tarif fentanil sebesar 20%, yang direspons Tiongkok dengan mempertahankan tarif dasar 10% terhadap produk AS.

Beijing telah lama membantah tuduhan bahwa mereka tidak cukup serius dalam menangani arus keluar bahan kimia pembuat fentanil ke luar negeri. Sebaliknya, Tiongkok menilai bahwa akar masalah krisis fentanil justru terletak pada sistem pengawasan dalam negeri AS itu sendiri.

Sebagai bentuk itikad baik, pemerintah Tiongkok memberlakukan pengawasan ketat terhadap dua jenis bahan fentanil pada bulan Juli lalu. Langkah ini dipandang sebagai sinyal positif bahwa Tiongkok ingin menurunkan tensi dengan Washington.

Gabriel Wildau, Direktur Pelaksana di lembaga konsultan Teneo, menilai bahwa tidak ada tarif yang akan dicabut dalam pertemuan Stockholm ini. Namun, ia menyebutkan bahwa pembahasan mengenai potensi relaksasi tarif dapat menjadi bagian dari kesepakatan akhir yang lebih luas.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.