- Home
-
- Megapolitan
-
- Garis Kemiskinan Jakarta L...
Garis Kemiskinan Jakarta Lebih Tinggi dari Angka Nasional
Jumat, 25 Jul 2025, 14:33 WIBJAKARTA â Tinggal di Jakarta memang berat, sehingga pengeluaran harus lebih besar. Badan Pusat Statistik (BPS) Jakarta mengemukakan garis kemiskinan di Jakarta pada Maret 2025 sebesar 852.768, lebih tinggi dari nasional yakni 609.160 per kapita per bulan.
"Artinya ini menjadi satu gambaran betapa standar kebutuhan daripada masyarakat di Jakarta, secara besaran pengeluaran itu sangat tinggi dibandingkan daerah-daerah lain yang ada di Indonesia," kata Kepala BPS DKI Jakarta, Nurul Hasanudin di Jakarta, Jumat.
Hasanudin mengatakan garis kemiskinan di Jakarta pada Maret 2025 mengalami kenaikan sebesar 0,79 persen dibandingkan September 2024 yang sebesar 846.085 per kapita per bulan.
Garis kemiskinan merupakan suatu nilai pengeluaran minimum kebutuhan makanan dan bukan makanan yang harus dipenuhi agar tidak dikategorikan penduduk miskin. Sementara penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.
Ada yang makanan distribusinya sebesar 69,41 persen dan yang bukan makanan sebesar 30,59 persen. Garis kemiskinan makanan terkait nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2.100 kilokalori per kapita per hari.
Adapun, komoditas makanan yang memberikan sumbangan terbesar terhadap garis kemiskinan makanan (GKM) di Jakarta yakni beras, dengan andil mencapai 23,99 persen, diikuti komoditas rokok kretek filter sebesar 13,73 persen.
Komoditas makanan lainnya yang memberikan sumbangan pada GKM yaitu daging ayam ras dan telur ayam ras yang masing-masing sebesar 7,29 persen serta 6,92 persen.
Komoditas lainnya meliputi mi instan (3,78 persen), roti (3,40 persen), kopi bubuk & kopi instan (sachet) (3,30 persen), dan kue kering/biskuit (2,84 persen).
Sementara itu, komoditas bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar terhadap garis kemiskinan adalah perumahan (40,33 persen), kemudian listrik (12,46 persen), pendidikan (8,12 persen), bensin (7,77 persen), perlengkapan mandi (4,24 persen), serta angkutan (3,80 persen).
Jumlah penduduk miskin di Jakarta pada Maret 2025 sebesar 464,87 ribu orang, turun 60 orang terhadap Maret 2024, dan naik 15,8 ribu orang terhadap September 2024 yang sebesar 449,07 ribu orang.
Sebelumnya, Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta didorong meningkatkan operasional guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Saat ini guru PAUD cuma menerima honor 500 ribu per bulan. Padahal Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD DKI Jakarta tahun 2025 mencapai 91,34 triliun.Â
Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta Solikhah mengusulkan kenaikan operasional guru PAUD agar setara dengan kader Dasawisma (Dawis), yakni sebesar 750 ribu. Solikhah mengatakan, peningkatan dana operasional guru PAUD berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini.
- Badan Pusat Statistik (BPS)
- garis kemiskinan
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Aloysius Widiyatmaka
Berita Terkait:
-
Allianz Life dan HSBC Hadirkan Sub-Dana Baru dengan Dividen Bulanan
-
AS-Iran Bersitegang, KBRI Teheran Siagakan Opsi Evakuasi WNI
-
BPS Ungkap Kejanggalan Pertumbuhan Ekonomi Bangka Tengah
-
La Liga Spanyol: Levante Terdesak, Villarreal Kejar Tiket Liga Champions
-
BPS: Ekonomi Q1-2026 Tumbuh 5,61% Ditopang Konsumsi
-
Dua Kejadian Kebakaran di Jakarta Utara Diduga akibat Korsleting Listrik
-
Target Pemprov DKI pada 2030, Sebanyak 167 Ribu Warga Keluar dari Garis Kemiskinan
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.