Geopark Kalder Toba Sedang Dinilai UNESCO, Bappenas Bocorkan Cara Asesor Lakukan Penilaian

Kamis, 24 Jul 2025, 09:35 WIB

JAKARTA - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas membeberkan cara asesor UNESCO melakukan penilaian usai mengunjungi Taman Bumi (Geopark) Kaldera Toba yang dijadwalkan tanggal 21-25 Juli 2025.

"Yang mencatatkan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi pada hari pertama pasti bagus. Tapi, memang bagus untuk hasil agenda hari pertama, sudah kita siapkan dan cek minggu lalu," kata Direktur Sumber Daya Energi Mineral Pertambangan Bappenas Togu Santoso Pardede, Kamis (24/7).

Ket. Foto: Tim asesor UNESCO Geopark Kaldera Toba Prof Jose Brilha (kiri) dan Jeon Yongmun (kanan) mengabadikan keindahan Danau Toba di hari pertama revalidasi Geopark Kaldera Toba, Sumatera Utara, Selasa (22/7/2025). — Sumber: Diskominfo Sumut

Togu menjelaskan bahwa inti dari penilaian itu yakni pada Jumat (25/7) pagi, dua asesor UNESCO akan memberikan catatan selama melakukan kunjungan dan membedah dokumen yang dikirim oleh pemerintah layaknya sidang ujian.

Setelah itu, laporan dari para asesor akan dibawa ke sidang dewan di Chili untuk dibahas oleh anggota UNESCO pada September mendatang.

Merujuk pada situs resmi UNESCO, disebutkan bahwa Dewan Taman Bumi Global UNESCO terdiri dari dua belas anggota biasa yang memiliki hak suara. Mereka ditunjuk oleh Direktur Jenderal UNESCO berdasarkan rekomendasi dari Jaringan Taman Bumi Global (GGN) dan negara anggota.

"Mereka seperti dewan guru besar persidangan yang memutuskan apakah nantinya akan memberi kartu hijau atau kuning," ucap Togu.

Secara terpisah, Direktur Destinasi Pariwisata Badan Pelaksana Otorita Danau Toba Fritz Rudolf Nababan menyebut per hari ini, hasil evaluasi belum dapat dibagikan walaupun di beberapa media ada yang mengabarkan jika air danau menjadi keruh saat para asesor berkunjung.

Asesor masih memiliki sejumlah tempat untuk dinilai. Pada Kamis (24/7), mereka dijadwalkan akan mengunjungi Kabupaten Karo dan Kabupaten Dairi.

Dia meminta masyarakat untuk tidak termakan kabar bohong karena hal itu merupakan fenomena alam yang terjadi akibat musim kemarau disertai ombak yang besar sehingga mengangkat sedimen dasar danau yang membuat keruh.

"Hal ini dikarenakan kemarau panjang yang melanda Sumatra Utara," ujar Fritz.

Sementara itu, Kepala Dinas Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Yuda Pratiwi Setiawan menyatakan bahwa Geopark Kaldera Toba banyak memperoleh penilaian positif dari para asesor.

Pemerintah daerah dan lembaga terkait Geopark Kaldera Toba pun banyak mendapatkan masukan dari UNESCO. Misalnya, evaluator Jose Brilha dari Portugal memberikan masukan dengan memperkuat perlindungan warisan geopark, seperti formasi bebatuan, lokasi bersejarah dan material geologi lainnya.

Hal itu menjadi dorongan bagi pemerintah provinsi, tujuh pemerintah kabupaten se-kawasan Danau Toba dan lembaga lainnya untuk mengelola Geopark Kaldera Toba lebih baik lagi.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Antara, Lili Lestari

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.