• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Zeppelin Transatlantik, Za...

Zeppelin Transatlantik, Zaman Keemasan Perjalanan Udara

Selasa, 22 Jul 2025, 07:39 WIB

PENERBANGAN kapal udara Graf Zeppelin dan Hindenburg melintasi samudra Atlantik perlu waktu dua atau tiga hari, lebih cepat daripada kapal laut saat ini. saying era keemasan perjalanan udara ini hanya berlangsung relatif singkat sebagai dampak dari tragedi Hindenburg pada Mei 1937, ketika kapal udara tersebut terbakar dan menewaskan 36 orang.

Meskipun pesawat terbang berhasil melintasi Atlantik beberapa kali pada akhir 1920-an, moda transportasi khusus itu masih jauh dari siap untuk mengangkut penumpang berbayar. Satu-satunya pilihan untuk melakukan perjalanan semacam itu melalui udara pada tahun-tahun antar perang adalah dengan kapal udara.

Ket. Foto: Sepasang suami istri asal Jerman mengunjungi Museum Zeppelin di Friedrichshafen. — Sumber: BEHROUZ MEHRI / AFP

Saat itu kapal udara dikenal dengan ‘Zeppelin’ sebuah jenama untuk produk kapal udara. Meskipun demikian tidak semuanya produk kapal udara dibuat oleh perusahaan Zeppelin.

Pangeran Ferdinand von Zeppelin (1838-1917) telah mempelopori kapal udara kaku yang mampu mengangkut penumpang antar kota di Jerman pada dekade pertama abad ke-20. Negara-negara lain juga mencoba menguasai udara dengan kapal-kapal berbahan bakar gas.

Walter Wellman dari Amerika, misalnya, melakukan upaya pertama melintasi Atlantik dengan kapal udaranya, America, pada Oktober 1909, tetapi perjalanan itu berakhir dengan kegagalan. Zeppelin Jerman memiliki rangka logam kaku dari duralumin, sel gas raksasa berisi hidrogen, dan tangki air untuk pemberat. Selubung kulitnya biasanya terbuat dari katun. Mesin dan awak ditempatkan di gondola yang digantung di bawah kapal udara.

Zeppelin rapuh dan mudah rusak akibat tabrakan, angin kencang membuatnya sangat sulit dinavigasi, dan hidrogen yang mengisinya sangat mudah terbakar. Akibat cacat-cacat ini, banyak kemunduran dan bencana yang terjadi, tetapi kegigihan membuahkan hasil, dan Zeppelin menjadi moda transportasi yang layak sekaligus senjata perang yang berpotensi mematikan.

Serangan bom Zeppelin pada Perang Dunia I (1914-1918) menghantam kota-kota musuh di Eropa Kontinental dan Britania Raya. Meskipun secara strategis tidak terlalu efektif, serangan ini mendorong inovasi lebih lanjut dalam desain kapal udara.

Britania Raya mengembangkan kapal udaranya sendiri sebagai respons terhadap ancaman Zeppelin, tetapi Jerman tetap mempertahankan keunggulan teknologi. Perjalanan antarbenua menjadi kenyataan ketika Zeppelin L 59 terbang dari Bulgaria ke Sudan pada November 1917.

Penyeberangan Atlantik Pertama

Setelah Perang Dunia I, kapal udara terus menarik minat para desainer dan publik. Kapal udara R34, yang dibangun oleh William Beardmore & Company (dan berdasarkan desain Zeppelin), terbang dengan 30 awak dari East Fortune di Skotlandia ke New York.

Penyeberangan itu memakan waktu 108 jam, dari tanggal 2 hingga 6 Juli 1919. Menyeberangi lautan dengan selamat merupakan prioritas, dan kenyamanan dikorbankan, dengan awak kapal hanya diberi tempat tidur gantung untuk tidur.

Pencapaian itu sudah cukup menjadi hadiah, begitu pula pengalaman uniknya, seperti yang dideskripsikan oleh salah satu awak kapal: “Kami merasa berada di dunia kami sendiri di sini, di tengah deretan awan putih salju yang mempesona. Tak ada kata yang dapat mengungkapkan keajaiban, kemegahan, atau kesepian itu semua...”  tulis John Christopher, dalam buku “Transatlantic Airships” (2010), dikutip dari World History.

R34 melakukan perjalanan pulang beberapa hari kemudian, kali ini hanya memakan waktu 75 jam berkat angin timur yang lebih menguntungkan. Perjalanan itu menggembirakan pers dan publik serta menghasilkan berita utama di halaman depan dan bahkan pencetakan kartu pos suvenir.

Surat kabar dan majalah mulai mencetak artikel bergambar, yang memimpikan cara baru untuk bepergian. Alat terbang, khususnya kapal terbang, semakin cepat dan andal, tetapi tetap saja tidak mampu mengangkut banyak penumpang.

Masa depan tampaknya menjadi milik kapal udara. Kapal-kapal laut trans atlantik pada masa itu kini dapat ditantang oleh kapal udara yang mampu melintasi Atlantik lebih cepat dan tanpa bahaya mabuk laut.

Kembalinya Zeppelin

Sementara itu, di Jerman, Perjanjian Versailles, yang secara resmi mengakhiri Perang Dunia I, melarang pembangunan kapal udara besar. Namun, Sekutu yang menang enggan menyia-nyiakan keahlian Jerman di bidang ini, dan Amerika Serikat, khususnya, mendorong Jerman untuk membangun kapal udara baru yang mampu melakukan perjalanan trans atlantik.

Kapal udara yang dihasilkan, LZ 126 (disebut Amerikaschiff oleh Jerman), dibangun di markas Zeppelin di Friedrichshafen dan kemudian diberikan kepada Amerika Serikat sebagai ganti rugi perang. LZ 126 lebih besar daripada kapal udara Perang Dunia I mana pun. Untuk terbang ditenagai oleh lima mesin berkekuatan 400 daya kuda, dan penerbangan perdananya pada 27 Agustus 1924.

Kapal udara ini memiliki tempat duduk seperti kereta di dalam gondolanya, yang dapat diubah menjadi tempat tidur susun. Kapal udara ini diawaki oleh 28 awak. Setelah beberapa uji terbang, LZ 126 diterbangkan dari Danau Constance (Bodensee) ke New York melalui Azores pada bulan Oktober dan di sana diterima oleh pemilik barunya, Angkatan Laut AS.

Kapal udara itu telah mencapai kecepatan lebih dari 170 km/jam dan terbukti, seperti L 59 dan R 34 sebelumnya, bahwa kapal udara dapat mengangkut penumpang antar benua dengan aman. Ketika LZ 126 terbang di atas Manhattan dan mengitari Patung Liberty, sekali lagi, minat media dan publik terhadap perjalanan udara kembali menyala.

LZ 126 berganti nama menjadi ZR3 Los Angeles oleh pemilik barunya, dan kapal udara itu, yang diisi dengan gas helium yang lebih aman tetapi sangat langka, sebagian besar digunakan untuk tujuan penelitian. Kapal-kapal lain yang lebih besar akan segera terbang di langit kedua sisi Atlantik.

Graf Zeppelin

Pembatasan ukuran kapal udara yang dapat dibangun oleh perusahaan Jerman akhirnya dicabut pada tahun 1926. Zeppelin, yang bekerja sama dengan Perusahaan Ban dan Karet Goodyear AS, akhirnya dapat membangun raksasa baru yang mampu mengangkut penumpang ke mana pun di dunia. Yang pertama dari raksasa baru ini adalah LZ 127 Graf Zeppelin, yang melintasi Atlantik pada Oktober 1928. Tak ayal sambutan meriah meriah dan parade ticker-tape dilakukan.

Graf Zeppelin berukuran panjang 237 meter, diameter 30,5 meter, dan volume gas 105.000 meter kubik. Tenaganya berasal dari lima mesin 550 daya kuda, yang menggunakan gas sebagai bahan bakar. Kecepatan tertingginya mencapai 128 km per jam.

Gondola yang tergantung di bawah pesawat dapat mengangkut 20 penumpang dan berukuran panjang 30 meter dan lebar 6 meter. Kapal ini memiliki ruang kendali di bagian depan dan mencakup ruang peta, ruang radio, dapur, ruang makan-ruang tunggu, kabin tidur, dan kamar mandi.

Sebagaimana yang dijanjikan oleh Dr. Hugo Eckener (1868-1954) dari Zeppelin: “Anda tidak terbang dengan pesawat udara, Anda berlayar,” katanya.

Tentu saja, Zeppelin-Goodyear berusaha memberikan pengalaman perjalanan yang nyaman bagi para ­penumpangnya.

Penumpang memiliki kabin ganda pribadi dan ruang publik yang tertata apik di mana mereka dapat mengagumi pemandangan melalui jendela panorama dan menikmati makanan yang baru dimasak di dalam kapal.

Ruang terbatas, dan setiap penumpang hanya diizinkan membawa bagasi seberat 22,7 kilogram. Lady Drummond Hay, seorang jurnalis yang bekerja untuk Universal News, melakukan perjalanan dengan penerbangan trans atlantik perdana Graf Zeppelin pada tahun 1929. hay

  • Graf Zeppelin

Redaktur: Haryo Brono

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.