Bos Pabrik Narkoba Asal Ukraina Minta Dibebaskan, Hakim Tegas Menolak

Jumat, 18 Jul 2025, 12:51 WIB

DENPASAR - Majelis Hakim Pengadilan Negeri Denpasar, Bali menolak permintaan bebas bos pabrik narkoba asal Ukraina, Roman Nazarenko (42).

Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Denpasar dalam putusan sela sebagaimana dikutip dari amar putusannya di Denpasar, Jumat (18/7), menyatakan secara tegas menolak seluruh nota keberatan yang diajukan terdakwa Roman Nazarenko yang menjadi otak dari kasus pabrik narkoba pada sebuah vila mewah di kawasan Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Badung.

Ket. Foto: Terdakwa Roman Nazarenko (42) menjalani sidang putusan sela di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali. — Sumber: ANTARA

Karena keberatan tersebut ditolak majelis hakim maka proses hukum terhadap terdakwa tetap dilanjutkan.

“Menimbang, menyatakan keberatan terdakwa tidak diterima. Memerintahkan sidang dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi,” bunyi putusan Ketua Majelis Hakim Eni Martiningrum.

Dengan putusan ini, hakim memerintahkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk melanjutkan pemeriksaan pokok perkara.

Secara terpisah, Jaksa Penuntut Umum Ryan dari Kejaksaan Agung Republik Indonesia menegaskan seluruh poin eksepsi yang diajukan pihak terdakwa telah dibantah oleh majelis.

Dengan begitu, sidang Roman Nazarenko akan berlanjut. Sidang lanjutan dijadwalkan Kamis, 24 Juli 2025, dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi dari pihak penuntut umum.

“Hakim menyatakan itu sudah masuk ke dalam materi pembuktian pokok perkara, bukan ranah eksepsi,” kata JPU Ryan. Salah satunya terkait penangkapan terdakwa Roman di Thailand dan terdakwa berdomisili di Ukraina, semestinya perkara tersebut menjadi kewenangan pengadilan di luar Bali, atau setidaknya berada dalam yurisdiksi PN Jakarta Selatan yang menjadi pintu masuk ekstradisi.

Namun, majelis hakim berpendapat lain dan menegaskan locus delicti perkara tetap berada di Bali sehingga PN Denpasar berwenang secara absolut dan relatif untuk mengadili perkara tersebut.

Poin keberatan lainnya yang ditolak oleh majelis hakim mengenai tidak adanya alat bukti sah selain keterangan saksi. Majelis menyatakan pertimbangan alat bukti merupakan bagian dari pembuktian, bukan objek keberatan formil.

Selain itu, Humas PN Denpasar Gde Putra Astawa saat dikonfirmasi terpisah mengatakan keberatan kuasa hukum Roman soal surat dakwaan yang dianggap tidak lengkap, tidak jelas, serta hanya merupakan salinan dari perkara anak buah Roman  juga ditolak.

“Pada pokoknya hakim menilai keberatan penasehat hukum terdakwa tidak beralasan hukum karena surat dakwaan telah disusun secara cermat dan jelas, sedangkan hal-hal lain tentang benar tidaknya perbuatan pidana harus dibuktikan dengan keterangan para saksi. sehingga sidang harus dilanjutkan,” kata Astawa.

Sebelumnya, dalam dakwaan JPU dijelaskan terdakwa Roman Nazarenko didakwa sebagai otak utama di balik pabrik narkoba yang digerebek Bareskrim Mabes Polri di sebuah vila mewah kawasan Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Badung, pada 2 Mei 2024.

Oleh JPU Ricarda Arsenius, Roman disebut berperan mengatur seluruh operasional produksi narkotika jenis mephedrone dan budidaya ganja hidroponik skala besar.

“Terdakwa diketahui merekrut dua WNA Ukraina lainnya, Ivan dan Mykyta Volovod. Selain itu, Roman juga memperkenalkan dua pelaku lain yang masih buron, yakni Oleksii Kolotov (DPO) sebagai penyandang dana dan Oleg Tkachuk (DPO) sebagai teknisi hidroponik,” papar JPU.

Laboratorium narkoba tersebut dilengkapi peralatan kimia dan sistem hidroponik canggih.

Selama beroperasi sejak akhir 2022, pabrik ini telah memproduksi sedikitnya 1 kilogram mephedrone dan 4 kilogram ganja yang diedarkan secara daring menggunakan aplikasi Telegram dengan nama akun ‘HYDRA.’ Transaksi dilakukan secara anonim melalui cryptocurrency (mata uang kripto) menggunakan platform Binance.

Saat penggerebekan, polisi menyita 437 gram mephedrone siap edar, hampir 10 kilogram ganja, serta sejumlah bahan kimia berbahaya seperti bromo, methylamine, dan asam klorida.

Roman sempat melarikan diri ke Thailand sebelum akhirnya ditangkap otoritas imigrasi Bangkok pada April 2024.

Roman diekstradisi ke Indonesia pada Desember 2024 setelah diterbitkan red notice oleh Interpol.

Atas perbuatannya tersebut, Roman dijerat dengan dakwaan kumulatif, yakni Pasal 113 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1), Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1), dan Pasal 111 ayat (2) jo Pasal 132 ayat (1) UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukumannya maksimal seumur hidup dan denda hingga Rp10 miliar.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Antara, Lili Lestari

Berita Terbaru

Tinggalkan Cara Lama! UMKM Papua Dipaksa Naik Kelas Lewat Jurus Digital BI!

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.