Jepang Keluhkan Peningkatan Aktivitas Militer Tiongkok

Rabu, 16 Jul 2025, 02:45 WIB

TOKYO - Jepang pada Selasa (15/7) mengatakan bahwa meningkatnya aktivitas militer Tiongkok bisa berdampak serius terhadap keamanannya, merujuk pada penerobosan pertama yang dilakukan  oleh pesawat militer Tiongkok ke wilayah udaranya dalam penilaian ancaman tahunan.

Kementerian Pertahanan Jepang mengatakan dalam buku putihnya bahwa Tiongkok sedang meningkatkan aktivitasnya di seluruh wilayah di sekitar Jepang. Sebuah pesawat militer Tiongkok memasuki wilayah udara Jepang pada Agustus tahun lalu, kata kementerian itu. Kemudian pada September, sebuah kapal induk Tiongkok dan dua kapal angkatan laut lainnya berlayar di antara dua pulau Jepang di dekat Taiwan.

Ket. Foto: Sebuah jet tempur Tiongkok J-15 yang terbang dari kapal induk Shandong, mendekati pesawat patroli P-3C milik Pasukan Bela Diri Jepang yang sedang melakukan misi pengintaian di atas Samudra Pasifik pada 12 Juni lalu. — Sumber: AFP/Japan's Ministry of Defense

“Militer Beijing menciptakan situasi yang dapat berdampak serius terhadap keamanan Jepang," kata laporan itu, mengulangi komentar sebelumnya bahwa tindakan Tiongkok tersebut merupakan sebuah keprihatinan serius.

Jepang pun mengulangi komentarnya dari laporantahun lalu bahwa ambisi militer Tiongkok menimbulkan tantangan strategis yang belum pernah terjadi sebelumnya dan (yang) terbesar bagi Jepang dan dunia.

Tokyo mengatakan pekan lalu bahwa jet tempur Tiongkok terbang dalam jarak 30 meter dari pesawat patroli militer Jepang di atas Laut Tiongkok Timur.

Tahun lalu, kapal-kapal Tiongkok berlayar di dekat Kepulauan Senkaku (Diaoyu) yang dikuasai Jepang, sebanyak 355 kali, menurut Tokyo.

Dan bulan lalu, Jepang mengatakan bahwa dua kapal induk Tiongkok berlayar di Pasifik secara bersamaan untuk pertama kalinya, termasuk di perairan ekonomi Jepang. Tiongkok menyebut pelayaran kapal induknya sebagai sebuah latihan rutin.

“Beijing juga telah melakukan latihan gabungan dengan Russia yang jelas dimaksudkan sebagai demonstrasi kekuatan terhadap Jepang," kata laporan itu, seraya mengulangi bahwa aktivitas Korea Utara (Korut) pun menimbulkan ancaman yang lebih serius dan mendesak terhadap keamanan nasional Jepang daripada sebelumnya.

Anggaran Pertahanan

Buku putih tersebut sudah disetujui oleh kabinet Perdana Menteri Shigeru Ishiba pada Selasa pagi.

Jepang sendiri saat ini sedang dalam proses multi-tahun untuk meningkatkan anggaran pertahanannya ke standar NATO sekitar dua persen dari produk domestik bruto (PDB) dengan harapan peningkatan anggaran bisa memperkuat hubungan militer dengan Washington DC dan sekutu regional AS lainnya, agar pasukan AS dan Jepang lebih lincah dalam menanggapi ancaman seperti invasi Tiongkok ke Taiwan.

Financial Times edisi Sabtu (12/7) melaporkan bahwa Pentagon mendesak Jepang dan Australia untuk memperjelas peran apa yang akan mereka mainkan jika AS dan Tiongkok berperang memperebutkan Taiwan.

Elbridge Colby, Wakil Menteri Pertahanan AS untuk Kebijakan, telah mendorong isu ini dalam pertemuan dengan para pejabat pertahanan Jepang dan Australia dalam beberapa bulan terakhir, kata Financial Times.

Colby mengatakan di platform media sosial X bahwa agenda ‘akal sehat’ Presiden Donald Trump termasuk mendesak sekutu untuk meningkatkan anggaran pertahanan mereka dan upaya lainnya, terkait dengan pertahanan kolektif bersama.

"Tentu saja, beberapa di antara sekutu kita mungkin tidak menyukai percakapan yang jujur," ucap Colby.

Isu ini juga merupakan bagian dari negosiasi antara Tokyo dan Washington DC mengenai kesepakatan perdagangan untuk menghindari tarif 25 persen atas impor Jepang yang akan berlaku mulai 1 Agustus. AFP/I-1

  • yen jepang
  • china yuan

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.