Christian Horner Diincar Ferrari, Alpine, Aston Martin, dan Cadillac Usai Didepak Red Bull

Senin, 14 Jul 2025, 08:10 WIB

LONDON - Karir panjang Christian Horner bersama Red Bull berakhir pekan ini setelah 20 tahun membangun tim menjadi kekuatan dominan di Formula 1. Namun, belum lama kabar pemecatannya mencuat, spekulasi soal pelabuhan barunya langsung menghangat, empat tim besar disebut membidik jasanya: Ferrari, Alpine, Aston Martin, dan Cadillac.

Pemecatan Horner diduga terkait pergeseran dinamika kepemilikan di Red Bull, di mana saham Chalerm Yoovidhya dikabarkan turun dari 51 persen menjadi 49 persen, sehingga menciptakan keseimbangan kekuasaan antara faksi Thailand dan Austria.

Ket. Foto: Christian Horner — Sumber: AFP

Meski secara kontrak Horner masih terikat dengan Red Bull, ia kini tak lagi memegang peran operasional dan disebut-sebut hanya menunggu waktu hingga bisa bergabung dengan tim F1 lain.

Mantan pembalap Red Bull, Robert Doornbos, dalam wawancara dengan NOS mengatakan bahwa kembalinya Horner ke paddock hanyalah soal waktu. Namun, ia ragu Ferrari akan menjadi tujuan utama.

“Ferrari akan terlalu berdampak pada kehidupan keluarganya. Horner itu Inggris banget, dan saya rasa dia tak akan begitu saja pindah ke Maranello, bahkan jika Ferrari menginginkannya,” ujar Doornbos.

Media Italia Corriere della Sera melaporkan bahwa meskipun Ferrari sedang mengevaluasi masa depan Frederic Vasseur, Horner tidak masuk dalam pertimbangan aktif sebagai pengganti.

Sebaliknya, Aston Martin dinilai sebagai opsi yang lebih realistis. “Saya bisa membayangkan dia di Aston Martin,” tambah Doornbos. “Atau membangun kembali tim seperti Alpine dan mencoba membawanya kembali ke papan atas. Dia pasti mencari tantangan baru.”

Di sisi lain, Auto Bild mengklaim bahwa Flavio Briatore, rekan lama Horner, berpotensi menawarkan jabatan strategis yang mencakup kepemilikan saham di tim Alpine, untuk membujuk Horner kembali ke paddock sebagai pemimpin proyek jangka panjang.

Sementara itu, Auto Motor und Sport menilai Cadillac, yang tengah berusaha masuk lebih serius ke F1, akan sangat tertarik merekrut Horner sebagai pengganti Graeme Lowdon, tokoh yang dinilai kurang memiliki pengaruh maupun rekam jejak yang mengesankan di F1.

“Dengan segala hormat kepada Lowdon, dia datang dengan referensi Marussia, sedangkan Horner datang dengan warisan Red Bull,” tulis jurnalis Michael Schmidt. “Wajah Lowdon hanya dikenal oleh penggemar F1 sejati, sedangkan Horner dikenal dunia berkat Netflix (Drive to Survive). Dengan dia sebagai pucuk pimpinan, proyek Cadillac akan mendapat bobot politik dan apresiasi yang jauh berbeda.”

Meskipun masa depannya belum jelas, satu hal pasti: Horner belum selesai di Formula 1. Dengan pengalaman, koneksi, dan pengaruh global yang ia miliki, tim mana pun yang berhasil merekrutnya akan mendapat lebih dari sekadar kepala tim, mereka mendapat figur yang bisa mengubah peta persaingan.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.