• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • RS MMC Resmikan Poli deCen...

RS MMC Resmikan Poli deCent untuk Kesehatan Mental yang Komprehensif

Minggu, 13 Jul 2025, 10:37 WIB

JAKARTA - Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre (RS MMC) resmi meluncurkan poliklinik baru yakni Poli deCent (Depression Prevention Center). Ini menjadi langkah strategis dalam memperluas akses layanan kesehatan mental yang inklusif dan bebas stigma. 

Poli decent tidak hanya berfokus pada penanganan depresi dan pencegahan bunuh diri, tetapi juga berperan dalam edukasi dan deteksi dini, khususnya bagi remaja dan usia produktif. Layanan ini turut didukung oleh Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dan perawat yang kompeten, guna memastikan penanganan yang profesional, empatik, dan berbasis kebutuhan pasien.

Ket. Foto: — Sumber: Koran Jakarta/Rivaldi Dani Rahmadi

World Health Organization (WHO) mencatat satu kasus bunuh diri terjadi setiap 40 detik di dunia, dan Indonesia turut terdampak, terutama pada kelompok remaja dan usia produktif. Gejala seperti kecemasan, menarik diri, dan kelelahan emosional kerap diabaikan, padahal bisa menjadi tanda awal gangguan serius. Minimnya kesadaran dan kuatnya stigma menyebabkan banyak kasus tidak tercatat dan tidak tertangani. Karena itu, diperlukan upaya edukasi, deteksi dini, serta akses layanan kesehatan jiwa yang mudah dijangkau untuk mencegah dampak jangka panjang. 

Di Indonesia, survey dari Kementerian Kesehatan mengungkapan bahwa 6 persen karyawan mengalami gejala depresi terkait tekanan kerja. Karyawan yang memiliki kondisi mental yang sehat cenderung lebih produktif, kreatif dan puas dengan pekerjaan mereka. Namun, Kesehatan mental sering kali diabaikan, yang menyebabkan penurunan produktivitas, dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Dalam peluncuran Poli deCent, RS MMC juga menggelar diskusi yang bertajuk "Mental Health at Work: Innovative Approaches in Treating Depression and Suicide Ideas", yang berfokus pada pentingnya kesehatan mental di lingkungan kerja. 

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Subspesiaslis Adiksi RS MMC, Dokter Adhi Nurhidayat mengungkapkan, lingkungan kantor menjadi tempat interaksi antar karyawan yang kerap diwarnai oleh persepsi positif maupun negatif, serta faktor individu yang dapat menimbulkan konsekuensi serius, termasuk munculnya keinginan untuk bunuh diri. 

"Tingkat bunuh diri cenderung lebih tinggi pada individu dengan pendapatan rendah dibandingkan dengan mereka yang berpendapatan lebih tinggi. Ditambah lagi stres kerja yang berdampak tidak hanya pada aspek kognitif, tetapi juga pada kondisi fisiologis karyawan," kata Dokter Adhi. 

Ia menambahkan, pemimpin perusahaan memiliki peran strategis dalam mendorong terciptanya budaya kerja yang mendukung kesehatan mental di setiap tempat kerja, harus dipastikan bahwa setiap individu memperoleh kesempatan yang setara.

"Salah satu bentuk implementasi yang dapat dilakukan adalah pelatihan manajer mengenai kesehatan mental, dengan titik berat pada upaya preventif, agar potensi munculnya permasalahan kesehatan mental dapat diantisipasi sedini mungkin," ucapnya.

Sementara itu, Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga, Dokter Edi Alpino menjelaskan, isu kesehatan mental karyawan kini menjadi perhatian serius dalam dunia kerja yang penuh dengan tekanan dan kompetisi. Menurutnya, banyak yang tampak baik-baik saja, namun diam-diam berjuang menghadapi kecemasan, depresi, dan kelelahan emosional. 

"Kondisi ini berdampak pada produktivitas dan kualitas hidup secara menyeluruh.Depresi adalah penyakit kronis yang memerlukan penanganan tepat, dengan gejala seperti hilang minat, kelelahan fisik dan mental, suasana hati sedih, putus asa, dan berlangsung lebih dari dua minggu, sehingga memerlukan pengobatan 3–6 bulan. Bunuh diri sendiri memiliki banyak bentuk, mulai dari ide hingga tindakan yang telah dipersiapkan. Mayoritas kasus bunuh diri terjadi di negara berpenghasilan menengah ke bawah. Berbeda dengan self-harm yang sering bertujuan untuk merasakan sakit sebagai bukti eksistensi diri," ujar Dokter Edi. 

Dokter Edi juga mengatakan, upaya pencegahan bunuh diri dapat dilakukan melalui pembatasan akses, penanganan gangguan jiwa, pengelolaan interaksi media, pendidikan sosial-emosional, serta intervensi dini. 

Poli deCent RS MMC memiliki salah satu terapi yang mendukung upaya pencegahan bunuh diri yakni Terapi Esketamin. Di Indonesia, terapi ini baru hanya dapat dilakukan di beberapa rumah sakit karena memerlukan standar khusus, seperti ruangan yang nyaman, adanya sofa dengan kemiringan 45 derajat, adanya alat pemantau tanda vital. 

Terapi Esketamin adalah pengobatan untuk depresi berat yang tidak kunjung membaik dengan pengobatan biasa. Dengan hadirnya Poli deCent di RS MMC dan Terapi Esketamine sebagai terapi utamanya diharapkan dapat menekan angka peningkatan kasus gangguan kesehatan mental, termasuk depresi dan kecenderungan bunuh diri.

Redaktur: Rivaldi Dani Rahmadi

Penulis: Rivaldi Dani Rahmadi

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.