Produksi Minyak Seret, ESDM Baru Bergerak dengan Tiga Jurus?
Kamis, 10 Jul 2025, 22:25 WIBJAKARTA - Meningkatkan produksi minyak Indonesia berdampak signifikan pada ketahanan energi, perekonomian, dan penerimaan negara.Â
Produksi minyak yang lebih tinggi mengurangi ketergantungan pada impor, menjaga stabilitas harga, dan membuka peluang investasi serta lapangan kerja.Â
Selain itu, penerimaan negara dari sektor migas juga akan meningkat, yang dapat digunakan untuk pembiayaan pembangunan.Â
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerapkan tiga strategi guna meningkatkan produksi minyak Indonesia, sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar impor.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung saat membuka kegiatan Musyawarah Nasional V Asosiasi Daerah Penghasil Migas dan Energi Terbarukan (ADPMET) yang diselenggarakan di Jakarta, Kamis (10/7), menyebutkan, strategi pertama yaitu optimalisasi penggunaan teknologi dan teknik produksi, seperti fracking, EOR (enhanced oil recovery), serta horizontal drilling untuk peningkatan produksi minyak.
Kedua, reaktivasi 4.495 dari 16.990 sumur idle guna mendorong penambahan produksi minyak Indonesia. Ketiga, melakukan eksplorasi potensi cadangan baru di wilayah Indonesia Timur.
"Kalau sumur baru, harus ada dukungan kepala daerah supaya proses perizinan dan lainnya bisa dipercepat," ujarnya.
Tanjung menyebut bahwa realisasi produksi minyak Indonesia tahun 2024 rata-rata 580.000 barel per hari (bpd), dan mengalami penurunan dibanding produksi tahun 2023 yang mencapai 606.000 bpd.
Pemerintah membutuhkan dukungan semua pihak termasuk asosiasi agar pelaksanaan tiga strategi intervensi peningkatan produksi minyak Indonesia dapat mencapai target 2025 sebanyak 605.000 bpd.
"Dengan harapan, tahun 2030 tingkat produksi minyak Indonesia sudah mencapai satu juta barel per hari," kata Tanjung.
Menurut dia produksi minyak Indonesia terus mengalami penurunan dengan tingkat konsumsi 1,6 juta bpd, sehingga membutuhkan impor satu juta bpd untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Hampir semua sumur minyak di Indonesia masuk kategori mature field (tua), dengan tingkat penurunan produksi alami (natural decline rate) yang cukup tinggi, yaitu sekitar 15â20 persen per tahun.
"Produksi sumur tua kira-kira 1 - 2 bpd. Kalau kegiatan ini dilakukan perusahaan KKKS (kontraktor kontrak kerja sama) sangat tidak ekonomis," ujarnya.
Kementerian, kata dia, mendorong agar kegiatan eksploitasi sumur minyak tua dialihkan kepada badan usaha milik daerah (BUMD) maupun koperasi, karena produksi per hari masuk skala usaha mikro kecil an menengah (UMKM).
Pemanfaatan sumur tua tetap tercatat sebagai produksi minyak tingkat nasional, dengan mekanisme bagi hasil produksi sebesar 80 persen untuk BUMD atau koperasi yang melaksanakan kegiatan itu.
"Sisanya 20 persen ICP (Indonesian Crude Price) merupakan bagian perusahaan KKKS. Dan KKKS harus melakukan pembinaan bagi BUMD dan koperasi," katanya.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Union SG vs Inter Milan: Nerazzurri Memburu Kemenangan Ketujuh Beruntun di Liga Champions
-
Duka Bali Belum Usai: 16 Orang Tewas, Satu Masih Hilang Akibat Banjir
-
Ekonom Unpas: Legalitas Pengelola Bandung Zoo Harus Jelas di Masa Transisi
-
Fenomena Gerhana Matahari Cincin Bakal Terjadi pada 17 Februari
-
Promosi Lemah, NTB Akan Kalah Bersaing di Peta Wisata Dunia
-
Efisiensi Jadi Kunci, Bos PHE Buka-bukaan Strategi Investasi Migas di Tengah Geopolitik Panas
-
Antisipasi Longsor Susulan, Bupati Trenggalek Perintahkan Warga Rawan Bencana Mengungsi
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.