Wimbledon Tanpa Hakim Garis: Era Baru Dimulai di Tengah Tegaknya Tradisi
Minggu, 29 Jun 2025, 08:30 WIBLONDON, INGGRIS â Turnamen Wimbledon 2025 akan tetap menghadirkan pemandangan yang sempurna seperti biasanya, namun ada satu hal yang akan membuat para penonton setia menyadari bahwa lapangan rumput legendaris itu tak lagi sama: untuk pertama kalinya dalam sejarah 148 tahun, para hakim garis resmi absen dari ajang ini.
Mulai tahun ini, Wimbledon secara resmi menghapus peran manusia sebagai pemanggil "out" dan "fault", menggantikannya dengan sistem Electronic Line Calling (ELC). Keputusan ini diumumkan sejak Oktober tahun lalu, mengikuti jejak Grand Slam lain seperti Australia Open dan US Open, yang lebih dulu beralih ke teknologi penuh. Kini, hanya Prancis Open yang masih mempertahankan hakim garis manusia.
Wimbledon dikenal sebagai turnamen yang menjunjung tinggi tradisiâdari aturan berpakaian serba putih, sajian stroberi dan krim, hingga bunga-bunga indah yang menghiasi area All England Club. Namun, menurut Direktur Turnamen Jamie Baker, inovasi tak bisa dihindari demi menjaga integritas kompetisi.
âKami sangat terhubung dengan ekosistem tenis global. Keputusan ini telah dibicarakan selama bertahun-tahun karena kami melihat ke mana arah perkembangan olahraga ini,â ujar Baker.
Ia menegaskan bahwa meskipun Wimbledon sangat menjaga nilai-nilai historisâtermasuk aturan serba putih yang kini ditegakkan lebih ketat daripada dua dekade laluâmereka juga harus mengikuti ekspektasi modern, terutama dari para pemain.
âYang paling utama bagi kami adalah aspek kompetisi. Dan kini, harapan pemain di level tertinggi adalah panggilan garis dilakukan dengan teknologi,â lanjut Baker.
Sistem ELC yang digunakan tahun ini merupakan hasil pengembangan teknologi pelacak bola dan garis yang sebelumnya telah diuji coba secara ekstensif dalam edisi Wimbledon 2024. Sejak 2007, Wimbledon memang telah menggunakan sistem Hawk-Eye di beberapa lapangan untuk memungkinkan pemain mengajukan tantangan atas keputusan wasit.
Kini, lebih dari 450 kamera dipasang di Wimbledon dan turnamen kualifikasi di Roehampton. Mesin akan mengambil alih semua panggilan garis, tanpa campur tangan manusia. Namun, sekitar 80 mantan hakim garis tetap dipekerjakan sebagai asisten pertandinganâdua di setiap lapanganâuntuk membantu wasit serta siaga jika sistem mengalami gangguan teknis.
Bagi para pemain yang sudah terbiasa dengan sistem serupa di turnamen lain, transisi ini tak akan terlalu terasa. Namun, bagi penonton, hilangnya momen-momen khas seperti jari menunjuk ke luar garis, atau ketegangan saat hakim garis membuat keputusan krusial, tentu meninggalkan kekosongan nostalgia.
Apakah Wimbledon kehilangan sentuhan magisnya tanpa hakim garis? Tidak, kata Jamie Baker. âSaya justru melihat ini sebagai langkah positif besar bagi citra dan estetika Wimbledonârumput hijau, pemain berpakaian putih. Semua itu kini menjadi lebih menonjol tanpa gangguan visual dari petugas di belakang lapangan,â jelasnya.
âDan kalau kita kembali ke esensi olahraga iniâtenis adalah olahraga gladiator, satu lawan satu, semua yang terjadi di lapangan seharusnya fokus pada duel itu.â
Dengan hilangnya hakim garis, Wimbledon memang mengucapkan selamat tinggal pada salah satu elemen klasiknya. Namun di balik keputusan bersejarah ini, tersimpan upaya menjaga kualitas kompetisi tanpa mengorbankan identitas visual yang telah menjadikan turnamen ini ikonik di mata dunia. Sebuah langkah berani, di mana tradisi dan teknologi akhirnya bertemu di titik keseimbangan.
Berita Terkait:
-
SPT Tembus 1 Juta, Kepatuhan Pajak Mulai Bergerak
-
Privasi Pemain Jadi Sorotan, Australia Open Lakukan Evaluasi Kebijakan Kamera
-
Djokovic Kembali Bertanding, Sinner dan Keys Hadapi Ujian di Hari Kelima Australia Open
-
Sambut 2026, Puan Maharani Serukan Penguatan Solidaritas dan Kepedulian Sosial
-
Galeri Ruhiyat Produksi Wayang Golek hingga Tembus Pasar Mancanegara
-
Singkirkan Fernandez, Janice Tjen Melaju ke 16 Besar Dubai Open 2026
-
Macron di Forum Davos Desak Uni Eropa Gunakan Bazoka Perdagangan Hadapi Tarif Baru AS
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.