Pembelian Jet Tempur KAAN, Indonesia Siap Lompat ke Kekuatan Udara Generasi Kelima

Minggu, 29 Jun 2025, 16:10 WIB

JAKARTA - Langkah Indonesia untuk membeli 48 unit jet tempur generasi kelima KAAN dari Turki menjadi tonggak penting dalam modernisasi kekuatan udaranya. Kesepakatan strategis tersebut ditandatangani dalam ajang Indo Defence Expo and Forum yang berlangsung di Jakarta pada Juni 2025, mencakup transfer teknologi serta kolaborasi produksi dalam negeri yang digadang-gadang dapat mengubah wajah industri dirgantara nasional. Informasi ini disampaikan oleh GlobalData, perusahaan riset data dan analitik global.

Dalam laporan "Fleet Size Dashboard" milik GlobalData, disebutkan bahwa armada pesawat militer sayap tetap milik Indonesia saat ini masih didominasi oleh platform generasi keempat yang telah menua. Kehadiran KAAN yang memiliki teknologi siluman (stealth) akan secara signifikan menurunkan usia rata-rata armada tempur TNI AU dan meningkatkan kemampuan pertahanan udara Indonesia, khususnya di tengah meningkatnya ancaman udara dari negara-negara dengan teknologi generasi kelima di kawasan Indo-Pasifik.

Ket. Foto: — Sumber: asiapacificdefencereporter

Hingga pertengahan 2025, hanya AS, Tiongkok, dan Rusia yang memiliki pesawat tempur generasi kelima yang telah beroperasi penuh. Di sisi lain, India, Korea Selatan, dan Turki masih dalam tahap pengembangan program pesawat siluman mereka masing-masing seperti Advanced Medium Combat Aircraft (AMCA) milik India, KF-21 Boramae milik Korea Selatan, dan KAAN milik Turki yang mencerminkan ambisi nasional mereka untuk bergabung dengan kelompok elite kekuatan udara global.

Harpreet Sidhu, analis pertahanan dari GlobalData, menyebut pembelian KAAN oleh Indonesia sebagai sinyal kuat terhadap niat strategis negara ini dalam mengejar teknologi militer mutakhir sekaligus membangun kemandirian industri pertahanan.

"Kesepakatan ini bukan hanya soal pengadaan pesawat, tapi juga soal membangun kapasitas dalam negeri melalui transfer teknologi dan lini produksi lokal," ujarnya.

Di saat yang sama, Indonesia juga tercatat sebagai mitra dalam program jet tempur KF-21 Boramae bersama Korea Selatan. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, komitmen Indonesia terhadap proyek ini mengalami penurunan, baik dari sisi finansial maupun teknis. Awalnya, Indonesia dijadwalkan menyumbang 20 persen dari total biaya pengembangan KF-21, atau setara sekitar US$1,2 miliar, tetapi kini hanya akan melanjutkan dengan sisa komitmen sekitar US$440 juta, setelah sebelumnya menyetorkan US$290 juta. Walaupun Indonesia tetap berencana membeli 50 unit KF-21, keterlibatan yang lebih terbatas ini mengindikasikan penyusutan peran aktif Indonesia dalam proyek tersebut dibandingkan rencana awal.

“Masuknya Indonesia dalam program KAAN secara bersamaan dengan keterlibatannya dalam KF-21 menimbulkan tantangan pendanaan baru,” lanjut Sidhu.

Dengan anggaran pertahanan Indonesia yang masih di bawah 1% dari PDB, membiayai dua program jet tempur canggih secara bersamaan akan menjadi beban fiskal yang besar. Meski strategi ini membuka peluang transfer teknologi ganda dan diversifikasi, hal tersebut juga memerlukan perencanaan dan eksekusi yang matang agar tidak memberatkan anggaran negara.

Sidhu juga menggarisbawahi bahwa KAAN berpotensi menjadi alternatif kompetitif dari jet tempur siluman milik AS dan Tiongkok di pasar Asia-Pasifik, asalkan proyek ini terus berkembang dan didukung oleh kerja sama diplomatik serta industri yang kuat. Ia memprediksi bahwa dalam sepuluh tahun ke depan, persebaran teknologi siluman akan mengubah doktrin peperangan udara, membentuk ulang aliansi kawasan, dan menciptakan dinamika baru dalam rantai pasokan militer.

Dengan mengambil langkah diversifikasi armada tempur dan terlibat aktif dalam program-progam jet tempur internasional, Indonesia berpotensi menjadi kekuatan udara utama di Asia Tenggara. Namun, posisi tersebut hanya bisa dicapai bila pemerintah konsisten dalam berinvestasi, memiliki arah strategi yang jelas, serta mampu menyelaraskan ambisi besar dengan kenyataan fiskal yang dimiliki.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.