- Home
-
- Megapolitan
-
- Sejarah Warga Tionghoa Tan...
Sejarah Warga Tionghoa Tangerang Disebut Cina Benteng
Rabu, 25 Jun 2025, 01:10 WIBB
agi warga seputar Jakarta-Tangerang tentu pernah mendengar istilah âCina Bentengâ di Tangerang. Bagaimana kisah dan perjalanan sejarahnya? Sebuah sungai yang terlihat cukup lebar menjadi penyambut saat tiba di Kawasan Jalan Kali Pasir, Cisadane,Tangerang. Benar, aliran itu tersebut merupakan sungai Cisadane yang menjadi lokasi jejak sejarah etnis Tionghoa tiba di Banten pada abad ke-15.
Kala itu rombongan etnis Tionghoa yang dipimpin Chen Chi Lung datang ke Nusantara sebagai utusan untuk melakukan misi bilateral dan perdagangan, namun mereka terdampar di muara Cisadane atau Teluk Naga. Lokasi ini kemudian menjadi awal mula terjadinya akulturasi budaya Tionghoa di Tangerang.
Rombongan Chen Chi Lung yang terdampar tak hanya mengalami kerusakan kapal, namun juga harus memenuhi perbekalan yang telah habis. Dengan bermodalkan izin dari Kerajaan Padjajaran yang saat itu menjadi penguasa wilayah, rombongan ini lantas bermukim.
Seiring berjalannya waktu, para pejabat atau pihak Kerajaan Padjajaran memiliki ketertarikan bahkan jatuh cinta dengan utusan perempuan yang turut serta di dalam rombongan asal Tiongkok itu. Dari situlah bermula hadirnya percampuran darah Indonesia dengan Tiongkok.
Keturunan dari percampuran pihak Padjajaran dengan utusan Tiongkok ini kemudian banyak bermukim di kawasan Teluk Naga dan sekitarnya. Sebagian besar keturunan etnis Tionghoa ini juga tinggal di sekitar benteng-benteng peninggalan Belanda di Kota Tangerang.
Ini terutama di sekitar Benteng Makassar yang dibangun di tepi Sungai Cisadane. Inilah cikal bakal muncul istilah Cina Benteng, yaitu sebutan untuk keturunan etnis Tionghoa yang bermukim di Kota Tangerang.
Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) menapak tilas sejarah kehadiran etnis Tionghoa di Tangerang yang kerap disebut Cina Benteng ini. Ada Klenteng Boen Tek Bio, berjarak tak jauh dari sungai Cisadane, salah satu klenteng tertua di Tangerang ini menghadirkan makna mendalam bagi masyarakat keturunan Tionghoa dan menjadi tempat ibadah yang dihormati masyarakat sekitar.
Bangunan ini dibangun pada abad ke-17 oleh pedagang Tionghoa yang akhirnya menetap di Kawasan itu, serta berperan sebagai pemersatu etnis Tionghoa di Tangerang termasuk merayakan bersama berbagai perayaan besar seperti imlek hingga Cap go meh.
Kemudian, ada Roemah Boeroeng Tangga Ronggeng. Tak jauh dari klenteng Boen Tek Bio, terdapat bangunan dengan nuansa Tiongkok abad ke-18. Rumah yang kental dengan nuansa Tionghoa yang didominasi cat warna kuning ini mulanya merupakan rumah modiste kebaya encim milik keluarga Pee tau encim Pon yang termahsyur di Tangerang.
Namun pada tahun 1973 bangunan yang berada di Jalan Cilangkap 44 ini dijual ke orang Jakarta yang kemudian dimanfaatkan untuk menjadi sarang burung walet yang bernilai ekonomi tinggi. Untuk mencegah pencurian sarang walet, sang pemilik lantas mengecor dinding rumah dan membuat bagian dalam rumah hancur.
Rumah itu pun kembali beralih tangan ke sosok pengusaha sekaligus budayawan Udaya Halim, pada 2013 hingga 2014Â merestorasi bangunan ini dan mengubahnya ke bentuk awal dan menggunakan kembali kayu hingga atap.
Kini Roemah Boeroeng (Roemboer) Tangga Ronggeng menjadi museum kuliner sembari mengumpulkan materi dan biaya untuk operasional, dan menjadi bangunan yang dimanfaatkan untuk acara-acara tertentu seperti acara budaya saat sincia atau imlek, Cap go meh, Peh Cun serta menyambut tamu khusus dengan jamuan makanan khas peranakan.
Selanjutnya, Museum Benteng Heritage. Ini bangunan yang diperkirakan didirikan pada pertengahan abad ke-17 dan merupakan milik Udaya Halim yang dibeli tahun 2009 dengan tujuan menyelamatkan bangunan tertua di Pasar Lama ini.
- cina benteng
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.