- Home
-
- Luar Negeri
-
- Bakteri E. Coli Dapat Meng...
Bakteri E. Coli Dapat Mengubah Plastik Jadi Obat Penghilang Rasa Sakit
Rabu, 25 Jun 2025, 01:00 WIBLONDON - Menurut sebuah penelitian yang dipublikasikan pada hari Senin (23/6),Para ilmuwan berhasil menemukan metode inovatif yang memungkinkan bakteri E. coli untuk mengubah limbah plastik menjadi zat kimia penting, termasuk bahan dasar obat penghilang rasa sakit. Penemuan terobosan ini berpotensi besar merevolusi penanganan limbah plastik sekaligus menyediakan jalur produksi obat yang lebih berkelanjutan.
Parasetamol, yang merupakan salah satu obat yang paling umum digunakan di seluruh dunia, dibuat dari turunan bahan bakar fosil, sering kali oleh subkontraktor yang berbasis di Asia menggunakan metode yang murah dan mencemari yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.
Dunia juga menghadapi krisis polusi plastik yang meningkat, dengan negara-negara bersiap untuk putaran negosiasi yang melelahkan lainnya pada bulan Agustus dengan harapan dapat menyegel perjanjian internasional untuk mengurangi sampah plastik.
Tim peneliti Inggris di balik studi baru ini berupaya menemukan solusi untuk kedua masalah tersebut dengan melibatkan bakteri ketiga yakni Bakteri Escherichia coli atau yang lebih dikenal dengan sebutan E. coli, yang biasanya membuat orang sakit saat mereka mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa dengan modifikasi genetik tertentu, bakteri E. colidapat "memakan" komponen-komponen plastik dan mengubahnya menjadi senyawa yang berguna. Salah satu hasil yang paling menjanjikan adalah produksi p-hydroxybenzoic acid (PHBA), sebuah prekursor penting dalam pembuatan parasetamol dan berbagai obat-obatan lainnya.
Pertama-tama, para ahli kimia menggunakan molekul yang berasal dari plastik PET (Polyethylene Terephthalate), yang digunakan dalam botol dan banyak produk plastik lainnya di seluruh dunia, untuk memicu reaksi kimia pada strain E. coli.
Menurut studi Nature Chemistry, hal ini menciptakan molekul yang mereka sebut PABA, yang sebagian didanai oleh perusahaan obat AstraZeneca.
Dengan memodifikasi bakteri secara genetik, para ahli kimia mampu mengubah molekul mereka menjadi asetaminofen, yang juga dikenal sebagai parasetamol.
"Pekerjaan ini menunjukkan bahwa plastik PET bukan sekadar limbah atau bahan yang ditakdirkan menjadi lebih plastik yang kemudian dapat diubah oleh mikroorganisme menjadi produk baru yang berharga, termasuk yang berpotensi untuk mengobati penyakit," kata pemimpin studi Stephen Wallace dalam sebuah pernyataan.
Para peneliti Singapura yang tidak terlibat dalam studi ini memuji bagaimana studi ini menggabungkan kimia sintetis dan biologis.
"Namun, masih ada beberapa pertimbangan praktis untuk mengembangkan ide ini melampaui tahap pembuktian konsep," tulis mereka dalam komentar yang ditautkan di jurnal Nature Chemistry.
Reaksi kimia tersebut hanya menghasilkan molekul PABA dalam jumlah terbatas, yang "mungkin tidak cukup untuk aplikasi industri", tulis mereka.
Masih Skeptis
Sementara itu, Direktur Komunikasi Proyek Beyond Plastics di Bennington College di Amerika Serikat, Melissa Valliant, menyatakan skeptisisme.
"Bakteri pemakan plastik baru muncul di berita setiap beberapa bulan dan telah demikian selama bertahun-tahun," katanya.
"Penemuan ini tidak pernah mencapai skala yang cukup signifikan untuk mengatasi masalah polusi plastik yang sangat besar. Krisis ini perlu dihentikan di sumbernya," tambahnya, yang berarti "perusahaan dan pembuat kebijakan harus mengurangi jumlah plastik yang diproduksi dan digunakan sejak awal".
Valliant mengisyaratkan bahwa meskipun penelitian tersebut menarik secara ilmiah, implementasi skala besar untuk mengatasi tumpukan limbah plastik global belum terlihat. Pernyataannya menyoroti perlunya pendekatan yang lebih komprehensif dan realistis dalam menangani masalah polusi plastik, melampaui sekadar penemuan bakteri di laboratorium. Keraguan ini mendorong kita untuk mempertimbangkan efektivitas solusi biologis dalam skala industri dan meninjau kembali strategi pengurangan, penggunaan ulang, dan daur ulang sebagai prioritas utama.
- Terobosan Ilmuwan
Redaktur: Andreas Tanjung
Penulis: AFP, Selocahyo Basoeki Utomo S
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.