Sinyal Bahaya dari Peredaran Uang: Ekonomi RI Masuk Zona Lesu?
Selasa, 24 Jun 2025, 00:00 WIBJAKARTA - Pertumbuhan uang beredar melambat pada Mei lalu. Melambatnya pertumbuhan uang beredar dapat menjadi sinyal pelemahan ekonomi.
BI mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Mei 2025 tumbuh positif mencapai 9.406,6 triliun rupiah.
"Posisi M2 pada Mei 2025 tercatat sebesar 9.406,6 triliun rupiah atau tumbuh sebesar 4,9 persen year on year (yoy), setelah pada bulan sebelumnya tumbuh sebesar 5,2 persen (yoy)," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (23/6).
Melambatnya pertumbuhan uang beredar dipengaruhi penurunan konsumsi rumah tangga karena konsumen mengerem belanja. Di sektor riil, pelambatan tersebut disebabkan dunia usaha menunda ekspansi atau investasi.
Selain itu, uang beredar sangat berkaitan dengan penyaluran kredit. Jika uang beredar melambat, kemungkinan bank lebih hati-hati dalam memberi kredit atau permintaan pembiayaan oleh masyarakat dan dunia usaha turun.
Karenanya, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) perlu mewaspadai pelambatan pertumbuhan uang beredar. Jika tren itu berlangsung lama, bisa berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah, emahnya konsumsi dan investasi, serta risiko deflasi atau stagnasi dalam jangka menengah.
Penyaluran Kredit
Lebih lanjut, Ramdan menyampaikan perkembangan uang beredar pada Mei lalu didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 6,3 persen (yoy) dan uang kuasi sebesar 1,5 persen (yoy).
Perkembangan M2 pada Mei 2025 terutama dipengaruhi oleh perkembangan penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada pemerintah pusat (Pempus).
Penyaluran kredit pada Mei 2025 tumbuh sebesar 8,1 persen (yoy), setelah pada bulan sebelumnya tumbuh sebesar 8,5 persen (yoy).
Dalam hal ini, kredit yang diberikan hanya dalam bentuk pinjaman (loans), dan tidak termasuk instrumen keuangan yang dipersamakan dengan pinjaman, seperti surat berharga (debt securities), tagihan akseptasi (banker's acceptances), dan tagihan repo.
Selain itu, kredit yang diberikan tidak termasuk kredit yang diberikan oleh kantor bank umum yang berkedudukan di luar negeri, dan kredit yang disalurkan kepada pemerintah pusat dan bukan penduduk.
Selanjutnya, tagihan bersih kepada pempus terkontraksi sebesar 25,7 persen (yoy), melanjutkan kontraksi pada bulan sebelumnya sebesar 21,0 persen (yoy).
Sementara itu, aktiva luar negeri bersih tumbuh sebesar 3,9 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan sebesar 3,6 persen (yoy) pada April 2025.
Adapun uang primer (M0) adjusted pada Mei 2025 meningkat dari 13,0 persen (yoy) pada April 2025 menjadi 14,5 persen (yoy) sehingga tercatat sebesar Rp1.939,1 triliun.
Perkembangan ini didorong oleh pertumbuhan uang kartal yang diedarkan sebesar 10,1 persen (yoy) dan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 10,7 persen (yoy).
Berdasarkan faktor yang memengaruhinya, pertumbuhan M0 adjusted dipengaruhi oleh pengendalian moneter yang sudah mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted).
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Kemenhub Siap Antisipasi Lonjakan Penumpang Pesawat Saat Libur Nataru
-
Uang beredar di masyarakat pada Agustus 2025
-
Korea Utara Peringatkan Risiko Perang Tak Disengaja
-
Badan Karantina Indonesia Perkuat Penegakan Hukum Siber untuk Cegah Perdagangan Ilegal Hewan dan Tumbuhan
-
Di Bawah Terik Matahari, TNI Bantu Nelayan Gorontalo Jemur Ikan Teri
-
Panglima TNI Ajak Capaja Jadi Agen Perubahan dan Penjaga Nilai Pancasila
-
Kebakaran Hebat di Terminal Rawa Buaya, Para Pemilik Warung Menyelamatkan Diri
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.