Iran Didesak Rakyatnya Segera Balas Serangan AS, Namun Pilihannya Terbatas dan Penuh Risiko

Minggu, 22 Jun 2025, 17:10 WIB

Jakarta – Hanya dalam sepekan, Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan langsung ke fasilitas pengayaan uranium Iran, menandai keterlibatan terbuka dalam konflik yang sebelumnya dibatasi pada dukungan diplomatik terhadap Israel. Langkah ini dinilai sebagai hasil dari manuver cermat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang berhasil mendorong Presiden Donald Trump keluar dari sikap hati-hati menuju konfrontasi terbuka.

Analisis yang dipublikasikan The Guardian, Minggu (22/6), menyebut bahwa perubahan ini sangat kontras dengan posisi awal Gedung Putih. Utusan Trump, Steve Witkoff, sebelumnya mendorong upaya gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Gaza. Namun situasi berubah drastis setelah pembom B-2 AS menggempur Iran pada Sabtu (21/6).

Ket. Foto: — Sumber: Dok. UNN

Trump sendiri menyatakan secara terbuka: “Saya ingin mengucapkan terima kasih dan selamat kepada Perdana Menteri Bibi Netanyahu. Kami bekerja sebagai sebuah tim seperti mungkin belum pernah ada tim yang bekerja sebelumnya, dan kami telah melangkah jauh untuk menghapus ancaman mengerikan ini bagi Israel.”

Kini, Iran menghadapi tekanan besar dari dalam dan luar negeri untuk melakukan balasan. Namun pilihan yang tersedia terbatas dan berisiko tinggi, baik secara militer, ekonomi, maupun diplomatik. Berikut beberapa opsi yang dipertimbangkan Teheran:


1. Serangan Langsung ke Aset Militer AS

Iran sempat mengancam akan menargetkan kapal dan pangkalan militer AS. Namun sebagian besar peluncur rudal jarak jauhnya telah dihancurkan dalam serangan Israel. Meskipun demikian, Iran masih memiliki rudal jarak pendek dan drone bersenjata yang mampu menjangkau pangkalan AS di wilayah Timur Tengah. AS sendiri telah memperluas pertahanan udaranya dan menyebarkan kehadiran angkatan laut di kawasan sebagai langkah antisipatif.


2. Memanfaatkan Jaringan Proksi Milisi Regional

Iran memiliki jaringan kelompok bersenjata di kawasan yang dikenal sebagai "Poros Perlawanan". Namun kekuatan proksi ini juga mengalami tekanan besar:

  • Hezbollah di Lebanon kehilangan sebagian besar gudang rudalnya akibat serangan Israel tahun lalu.

  • Kata’ib Hizbullah, milisi Syiah di Irak, telah mengancam akan menjadikan pangkalan militer AS sebagai "lapangan berburu bebek". AS tercatat memiliki fasilitas di 19 lokasi di Timur Tengah, delapan di antaranya bersifat permanen.

  • Houthi di Yaman, yang sebelumnya menyepakati gencatan senjata dengan AS, menyatakan bahwa mereka akan membatalkan kesepakatan dan menargetkan kapal AS di Laut Merah jika serangan terhadap Iran terus berlanjut.


3. Menyerang Jalur Pelayaran Global

Iran juga dapat mengganggu pengiriman energi dunia dengan menargetkan Selat Hormuz—jalur sempit penting bagi seperlima suplai minyak global. Tindakan ekstrem ini dapat dilakukan dengan ranjau laut, penenggelaman kapal, atau ancaman blokade.

Namun risiko dari opsi ini sangat tinggi. Selain berpotensi memicu krisis global dan inflasi di AS menjelang pemilu Kongres, penutupan Selat Hormuz juga akan merugikan Iran sendiri yang mengekspor minyak melalui jalur yang sama. Aksi semacam itu juga dapat memaksa negara-negara Teluk Arab untuk turut berperang guna melindungi kepentingan mereka.


4. "Pembalasan Dingin" dan Strategi Jangka Panjang

Opsi lain yang mungkin diambil adalah pembalasan tertunda atau tersembunyi. Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menyebut bahwa keputusan Trump “akan memiliki konsekuensi abadi”, mengisyaratkan potensi respons jangka panjang yang tidak langsung memicu eskalasi besar.


Ketidakpastian Masih Membayangi

Trump menegaskan bahwa serangan terhadap situs Fordow, Natanz, dan Esfahan adalah "misi satu kali". Namun Wakil Presiden JD Vance memperingatkan bahwa jika Iran membalas, operasi ini dapat berkembang menjadi keterlibatan militer jangka panjang. Sementara itu, Netanyahu menyebut langkah Trump sebagai tindakan “berani” yang “akan mengubah sejarah”.

Situasi ini menempatkan kawasan Timur Tengah di ambang konflik terbuka yang melibatkan kekuatan-kekuatan besar dunia, sementara Iran harus memilih antara kehormatan nasional dan risiko kehancuran regional yang lebih luas.

  • Konflik Iran dan Israel

Redaktur: Eko S

Penulis: Eko S

Berita Terbaru

Harga Emas Antam Senin 24 Agustus 2026 Naik, Segini Harga Terbarunya

Kabar Baik! Rupiah Menguat ke Rp17.690 per Dolar AS

BNPB Evakuasi Lansia Korban Gempa Pulau Palue ke RSUD Maumere, Begini Kondisinya

Mau Bayar Pajak Kendaraan Bermotor? Ini 14 Lokasi Samsat Keliling Jadetabek Senin

Jumlah rumah rusak akibat gempa di NTT

Cabai Rawit Makin Pedas! Harga Capai Rp69.950/Kg dan Telur Ayam Rp29.250

Mengkhawatirkan! Burung Ekek Keling Sunda Terancam Punah, Populasinya Kian Menurun

Perusahaan Milik Kampus UGM Go Public! Target IPO Capai Rp45 Miliar

Tinjau Karhutla Kalsel, Menhut Raja Antoni: Api Sudah Tak Terlihat, tapi Gambut Masih Berasap.

Dalang Karhutla Diburu! Komisi III DPR Apresiasi Langkah Tegas Polri

Coco Gauff Juara Cincinnati Open untuk Kedua Kalinya, Masuk Klub Elite WTA

Gratis dan Siaga 24 Jam! Pertamina Buka Posko Medis bagi Warga Manggarai NTT

Formula 1: Norris Menangi GP Belanda, Verstappen Kecelakaan di Depan Pendukung Sendiri

TNI AU Gerak Cepat! 6 Pesawat Bawa Bantuan Kemanusiaan ke NTT dan Kalimantan

Liga Inggris: Manchester City Menang Dramatis di Awal Era Maresca, Liverpool Selamat dari Kekalahan

Terungkap! Kebakaran Rumah di Tebet Diduga Dipicu Mesin Fotokopi

Serie A: Amorim Buka Era Baru dengan Kemenangan, Milan Tundukkan Torino; Juventus Menang Tipis atas Frosinone

Karhutla Meluas, Gubernur Kalsel Desak Masyarakat Lindungi Diri dari Paparan Asap

La Liga: Barcelona Pesta Gol di Kandang Elche, Atletico Madrid Selamat dari Kekalahan

Kementerian Kebudayaan akan revitalisasi situs budaya di Malut

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.