Peneliti: Menyusutnya Tutupan Awan Perburuk Pemanasan Global

Kamis, 19 Jun 2025, 21:34 WIB

SYDNEY - Sebuah penelitian internasional yang melibatkan tim peneliti Australia menemukan bahwa tutupan awan Bumi menyusut secara drastis, memperburuk pemanasan global dan berkontribusi terhadap suhu panas ekstrem yang memecahkan rekor di seluruh dunia.

Penelitian yang didasarkan pada data satelit selama 24 tahun ini menemukan bahwa 1,5 hingga 3 persen zona awan badai di dunia telah menyusut setiap 10 tahun.

Ket. Foto: Ilustrasi - Foto udara menunjukkan seksi Jinshanling dari Tembok Besar yang diselimuti awan setelah hujan di wilayah Luanping, Kota Chengde, Provinsi Hebei, Tiongkok Utara, beberapa waktu lalu. — Sumber: Antara

“Tren ini dipicu oleh perubahan iklim akibat pergeseran angin dan meluasnya wilayah tropis yang mendorong sistem badai ke arah kutub,” demikian pernyataan siaran pers terbaru di situs web Centre of Excellence for 21st Century Weather Dewan Riset Australia (Australian Research Council/ARC) di Monash University, Melbourne.

Dengan semakin sedikitnya tutupan awan yang memantulkan sinar matahari kembali ke luar angkasa, lebih banyak energi surya akan diserap oleh Bumi, sehingga memperkuat efek pemanasan akibat emisi gas rumah kaca, menurut penelitian yang dipimpin oleh Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional (National Aeronautics and Space Administration/NASA) Amerika Serikat (AS) bekerja sama dengan tim peneliti Australia dan diterbitkan dalam jurnal Geophysical Research Letters.

Penurunan tutupan awan ini kini dianggap sebagai penyebab utama mengapa Bumi menyerap lebih banyak energi surya, dengan penelitian terbaru yang mengkonfirmasi bahwa perubahan ini sudah mendorong pemanasan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, ujar Christian Jakob, salah satu penulis penelitian tersebut sekaligus direktur ARC Center.

"Ini merupakan bagian penting dalam upaya memahami pemanasan ekstrem yang kami amati belakangan ini, sekaligus menjadi peringatan keras akan perlunya aksi iklim yang mendesak," kata Jakob, seraya menambahkan bahwa memprediksi pembentukan awan dan pemantulan sinar matahari secara akurat sangat penting untuk memperkirakan kecepatan dan skala pemanasan di masa depan.

"Bukan hanya rata-rata jangka panjang saja yang penting, tetapi juga bagaimana kondisi harian dan musiman yang kita andalkan selama ini sedang berubah," tutur dia. 

Redaktur: Andreas Tanjung

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Status Siaga Kekeringan Meteorologis untuk Seluruh Wilayah Jateng

Rumah Adat Wisata Sade Terbakar, Pemkab Lombok Tengah Fokus pada Pemulihan Korban

Cincinnati Open, Area Sial bagi Swiatek Dikalahkan Pegula

Prawirotaman Adakan Festival Guna Menunjang Kunjungan Wisata

Warga Semarang yang Akan Menikah, Lihat Pameran 50 Vendor Wedding

Jatim Hari Ini Cerah-Berawan, Gelombang hingga 3,7 Meter Mengintai Perairan Selatan

Gubernur Emanuel Melkiades Bawa Bantuan ke Tiga Titik Terdampak Gempa M7,7 di Riung

Real Madrid di Bawah Pelatih Mourinho Kalahkan Espanyol 2-1

Putus Akibat Gempa, Akses Jembatan Wae Dampek di Manggarai Timur Pulih

Kapal Kargo Muatan Bijih Besi Tujuan Singapura Tenggelam di Lepas Pantai India, Dua ABK Selamat

Kucuran Beras Capai 1,65 Juta Ton, Pemerintah Optimistis Rem Harga Beras di Puncak El Nino

BPBD Cilacap Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Ancaman Kekeringan Meteorologis

Menlu Tiongkok Wang Yi Temui Ketua DEN RI Luhut Panjaitan Bahas Investasi di Indonesia

Ratusan Rumah Adat Sade Ludes Terbakar, Pemkab Lombok Tengah Fokus Pulihkan Korban

Korea Utara Tuding Rencana Perluasan Anggaran Pertahanan Jepang Sebagai 'Persiapan Perang'

Brentford Kalahkan Tottenham Hotspur dengan Skor Telak 3-0

Pemprov NTT Percepat Perbaikan Infrastruktur Terdampak Gempa M7,7

Pemerintah Kota Batam Siapkan Subpenyalur BBM Nelayan di Pulau Rempang

Permudah Akses BBM Subsidi, Pemkot Batam Siap Bangun SPBU untuk Nelayan di Pulau Rempang

Harga Daging Ayam Ras di Dua Kabupaten di Riau di Atas Rp40.000/Kg

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.