- Home
-
- Luar Negeri
-
- Ilmuwan: Perubahan Iklim P...
Ilmuwan: Perubahan Iklim Perburuk Alergi
Kamis, 19 Jun 2025, 02:30 WIBPARIS - Para ilmuwan baru-baru ini memperingatkan akan terjadinya lonjakan alergi dengan gejala hidung berair, mata gatal, asma yang memburuk dan peradangan, karena perubahan iklim yang berkepanjangan telah mengintensifkan musim serbuk sari.
Hal ini terjadi setelah Organisasi Meteorologi Dunia PBB (World Meteorological Organization/WMO) menemukan bahwa perubahan iklim telah mulai mengubah produksi dan distribusi serbuk sari dan spora.
Banyak penelitian telah menunjukkan ketika salju musim dingin mencair lebih awal dan cuaca musim semi menjadi lebih hangat mengakibatkan tanaman dan pohon berbunga lebih awal dan memperpanjang musim serbuk sari.
Polusi udara juga dapat meningkatkan sensitivitas orang terhadap alergen, sementara spesies invasif menyebar ke daerah baru dan menyebabkan gelombang alergi baru.
Semakin banyak orang, terutama di negara-negara industri, telah melaporkan gejala alergi yang berkembang dalam beberapa dekade terakhir. Sekitar seperempat orang dewasa di Eropa menderita alergi di udara, termasuk asma parah, sementara proporsi di antara anak-anak adalah 30 hingga 40 persen. Angka itu diperkirakan akan meningkat menjadi setengah dari orang Eropa pada tahun 2050, menurut Organisasi Kesehatan Dunia.
âKita dalam krisis karena lonjakan alergi,â kata Severine Fernandez, presiden Serikat Alergi Prancis.
Menurut laporan oleh WMO pada 2023, perubahan iklim mempengaruhi pasien alergi dalam berbagai cara. Meningkatnya kadar karbon dioksida, salah satu gas perangkap panas utama yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar fosil, mendorong pertumbuhan tanaman, yang pada gilirannya meningkatkan produksi serbuk sari.
Polusi udara tidak hanya mengganggu saluran udara orang yang terpapar, tetapi juga menyebabkan stres pada tanaman, yang kemudian menghasilkan lebih banyak serbuk sari alergi dan iritasi.
Dalam sebuah studi yang diterbitkan pada 2017, para peneliti mencontohkan alergi akibat tanaman ragweed misalnya, akan berjumlah lebih dari dua kali lipat di Eropa pada 2041-2060 sebagai akibat dari perubahan iklim, meningkatkan jumlah orang yang terkena dampak dari 33 juta menjadi 77 juta. Para penulis studi bahkan menegaskan bahwa konsentrasi serbuk sari yang lebih tinggi serta musim serbuk sari yang lebih lama dapat membuat gejala lebih parah.
Tindakan Antisipasi
Sebagai antisipasi, program âAutoPollenâ sedang dikembangkan di seluruh Eropa yang bertujuan untuk memberikan data waktu nyata tentang distribusi serbuk sari dan spora. Data yang dikeluarkan program ini nantinya akan memberikan informasi tentang serbuk sari pertama yang dilepaskan ke udara sehingga orang dapat mulai mengambil antihistamin dan tindakan perlindungan lainnya secara tepat waktu.
Sementara itu beberapa negara malah mengambil pendekatan intervensionis yaitu dengan memotong serbuk sari di sumbernya. Di Jepang, pemerintah mengumumkan rencana pada tahun 2023 untuk memerangi alergi yang disebabkan oleh banyak pohon cedar di kepulauan itu dengan menebangnya dan menggantikannya dengan spesies yang menghasilkan lebih sedikit serbuk sari. SB/AFP/I-1
- Alergi
- serbuk sari
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.