Pasar Global Berangsur Pulih, RI Harus Lincah Bermain
Rabu, 18 Jun 2025, 00:00 WIBJAKARTA - Pemerintah harus memanfaatkan momentum menurunnya ketegangan dagang seiring melunaknya sikap Amerika Serikat (AS). Perkembangan ekonomi apapun di AS tentu akan berdampak ke Indonesia, baik makro ataupun sektor riil.
Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko memperkirakan ketidakpastian perekonomian dunia pada kuartal II-2025 turun dikarenakan gencatan tarif antara AS dan mitra dagangnya. "Melunaknya AS menunjukkan tarif akan turun," papar Suhartoko, Selasa (17/6).
Kondisi ekonomi AS pada kuartal I-2025 secara tahunan (yoy) perekonomian AS terkontraksi 0,3 persen, sedangkan inflasi pada Mei lalu mencapai 2,4 persen (yoy).
Kondisi ini akan mendorong AS mengenjot pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2025, jika inflasinya dianggap moderat dan masih di bawah ekspektasi pasar. Apabila sesuai perkiraan, suku bunga acuan bank sentral AS (The Fed) atau Fed Funds Rate (FFR) akan turun sebesar 25-50 basis point (bps).
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengatakan The Fed akan cenderung mempertahankan tingkat suku bunganya demi untuk mengendalikan inflasi.
Stabilitas harga di AS perlu dijaga, apalagi di tengah dampak pengetatan kebijakan Trump di berbagai hal. Perekonomian AS saat ini tumbuh moderat, dengan perlambatan baru-baru ini pada kuartal I-2025 setelah periode pemulihan yang kuat.
Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) untuk kuartal II-2025 diperkirakan sebesar 3,8 persen oleh model GDP sekarang dari Federal Reserve Bank of Atlanta. "Inflasi tetap berada tepat di atas target Federal Reserve (The Fed) sebesar 2 persen," ucapnya.
Seperti diketahui, para pelaku pasar menantikan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS dalam Federal Open Market Committee (FOMC) Juni 2025 dengan ekspektasi FFR ditahan di kisaran 4,25-4,50 persen.
Risiko Berkurang
Sebelumnya, Head of Macroeconomic and Financial Market Research PermataBank, Faisal Rachman mengatakan tekanan perang dagang pada ekonomi AS kemungkinan berkurang. Hal itu sejalan dengan perkembangan positif terkait hasil negosiasi dagang antara AS dan mitra dagangnya.
Dengan demikian, risiko resesi di AS akan berkurang yang pada ujungnya menurunkan kebutuhan untuk memotong FFR secara agresif meski tekanan inflasi di AS juga ikut berkurang. âMarket melihat The Fed masih akan mempertahankan proyeksinya untuk pemotongan FFR tahun ini sebesar 50 bps,â kata Faisal.
Terkait perang antara Israel-Iran, Faisal menambahkan ketidakpastian di Timur Tengah yang meningkat baru-baru ini akan menimbulkan risiko pada inflasi terutama dari sisi inflasi energi.
Dia memperkirakan eskalasi di Timur Tengah akan mereda pada jangka menengah, di tengah keputusan AS untuk tidak ikut campur secara langsung dan mencari solusi de-eskalasi konflik Israel-Iran. Hal ini tentu akan berdampak baik pada harga minyak.
Untuk kebijakan moneter bank sentral lainnya, PermataBank melihat Bank Indonesia (BI), Bank of Japan (BoJ), Bank of England (BoE), dan Peopleâs Bank of China (PBoC) juga akan cenderung mempertahankan suku bunga kebijakannya di tengah ketidakpastian global yang sedang meningkat.
âKami melihat banyak bank sentral yang akan lebih melakukan wait and see di tengah kembali naiknya gejolak ketidakpastian global ini,â katanya.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Trump Kembali akan Tetapkan Tarif Sepihak dalam Dua Pekan Mendatang
-
Pemprov DKI Kunci Mitigasi Cuaca Ekstrem, Jakarta Disiagakan Hadapi Akhir Tahun
-
Tim Senam Indonesia Persembahkan 4 Medali di SEA Games Thailand 2025
-
Gumuk Pasir Parangtritis Ditetapkan sebagai Geopark Nasional
-
Trump dan Xi Sepakat Redakan Perselisihan Tentang Tarif dan Tanah Jarang
-
Resmi! Gennaro Gattuso Jadi Pelatih Timnas Italia
-
Pemprov Lampung Buat Aturan Kawasan Bebas Rokok
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.