Isu Keamanan Landa Beberapa Kota Paling Layak Huni di Dunia

Rabu, 18 Jun 2025, 02:40 WIB

WASHINGTON DC - Copenhagen naik ke posisi pertama dalam pemeringkatan kelayakan huni global, setelah masalah keamanan mendorong penurunan peringkat kota-kota lain di Eropa Barat.

Ibu kota Austria, Wina, kehilangan posisi teratasnya sebagai kota paling layak huni di dunia karena ketakutan akan terorisme baru-baru ini, menurut Indeks Kelayakan Hidup Global 2025 dari Economist Intelligence Unit, Selasa (17/6).

Ket. Foto: Sejumlah warga berkumpul di King’s Garden, Copenhagen, Denmark, pada awal mei lalu. Menurut Indeks Kelayakan Hidup Global 2025 dari Economist Intelligence Unit, Selasa (17/6), Copenhagen saat ini menduduki peringkat pertama sebagai kota layak huni global. — Sumber: AFP/Sergei GAPON

“Ancaman bom menjelang konser bintang pop Taylor Swift pada tahun 2024 dan terungkapnya rencana serangan terhadap stasiun kereta kota pada awal tahun 2025 menyebabkan penurunan tajam dalam skor stabilitas kota,” kata laporan itu.

Copenhagen memiliki skor yang sama seperti tahun 2024, tetapi sebagian besar tidak tersentuh oleh kerusuhan yang memengaruhi kota-kota tetangganya, mencetak poin maksimum untuk stabilitas, bersama dengan nilai tertinggi dalam pendidikan dan infrastruktur.

Pemeringkatan tahunan Economist hanyalah salah satu cara untuk mendefinisikan kelayakan hidup, dan telah dikritik karena mengabaikan faktor-faktor kesehatan lingkungan.

Pemeringkatan semacam itu juga mereduksi kota menjadi titik data yang mengaburkan preferensi individu dan perbedaan demografis dalam cara orang memandang suatu tempat.

Di negara asal Copenhagen, Denmark, misalnya, pemerintah telah memberlakukan undang-undang yang menetapkan lingkungan dengan lebih dari 50 persen penduduk non-Barat sebagai ghetto yang dapat menjadi sasaran pengusiran dimana undang-undang tersebut baru-baru ini dianggap diskriminatif oleh seorang penasihat pengadilan tinggi Uni Eropa.

Namun, pemeringkatan tersebut dapat efektif dalam menunjukkan tren. Skor rata-rata stabilitas Eropa Barat menurun sejak 2024 karena kawasan tersebut bergulat dengan peningkatan ancaman terorisme, kerusuhan, kejahatan, dan serangan anti-Semit, dan kawasan tersebut menyumbang enam dari sepuluh penurunan terbesar dalam pemeringkatan tersebut.

Ini termasuk kota-kota Inggris di London, Manchester, dan Edinburgh setelah protes sayap kanan yang penuh kekerasan pada tahun 2024.

Kota-kota di Kanada seperti Calgary dan Toronto juga termasuk di antara yang mengalami penurunan terbesar, karena tekanan dalam layanan kesehatan nasional negara itu membebani. Akibatnya Vancouver kini menjadi satu-satunya kota Kanada yang masih bertahan di sepuluh besar.

Sementara itu Kota Al Khobar di Arab Saudi mencatat peningkatan terbesar, naik ke posisi ke-135, didorong oleh investasi kerajaan dalam memperluas akses ke layanan kesehatan dan pendidikan.

Di sisi lain, Damaskus di Suriah tetap berada di posisi terakhir dimana skor kelayakan huninya tidak berubah karena ketidakstabilan yang berkelanjutan dan layanan kesehatan yang buruk, meskipun terjadi perubahan rezim pada tahun 2024.

The Economist Intelligence Unit memberi peringkat 173 kota berdasarkan lima kategori antara lain aspekstabilitas, pendidikan, infrastruktur, budaya dan lingkungan, serta layanan kesehatan. ST/Bloomberg/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.