Garam Rote Ndao Dijual? KKP Ajak Investor Masuk!
Rabu, 18 Jun 2025, 14:56 WIBJAKARTA â Investasi diperlukan untuk membangun fasilitas produksi garam yang mampu memenuhi kebutuhan garam industri yang terus meningkat, termasuk untuk industri kimia, pangan, dan farmasi. Dengan meningkatkan produksi garam dalam negeri, investasi dapat mengurangi ketergantungan pada impor garam, yang selama ini menjadi tantangan besar.
Proyek K-SIGN di berbagai daerah, seperti di Rote Ndao, NTT, berpotensi menciptakan puluhan ribu lapangan kerja baru, baik di sektor langsung maupun sektor pendukung. Peningkatan pendapatan masyarakat, baik melalui lapangan kerja maupun kemitraan dengan petani garam, dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan industri.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membuka peluang investasi untuk pengembangan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
"Kawasan itu akan menjadi model pengembangan industri garam nasional untuk mendukung target swasembada garam pada 2027 sesuai amanat Perpres Nomor 17 Tahun 2025," kata Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Koswara di Jakarta, Rabu (18/6).
Dengan potensi lahan lebih dari 10.000 hektare dan kondisi iklim ideal, enam hingga tujuh bulan musim kemarau per tahun, Rote Ndao dinilai memiliki kemiripan karakter geografis dengan lokasi tambak garam kelas dunia seperti Dampier, Australia.
"KKP menargetkan produktivitas lahan mencapai 200 ton per hektare per siklus," ujarnya.
Kawasan K-SIGN akan dikembangkan secara terpadu dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN seperti PT Garam, hingga investor swasta dan membuka peluang kerja.
Model bisnis yang ditawarkan mencakup pengelolaan tambak, pembangunan sarana produksi, gudang, washing plant, refinery, serta sistem distribusi terintegrasi.
âIni adalah bentuk konkret keberpihakan pemerintah kepada industri garam nasional. Rote Ndao akan menjadi wajah baru pergaraman Indonesia yang berdaya saing tinggi,â jelasnya.
Ia menambahkan, kawasan tersebut juga akan menjadi pusat pengembangan hilirisasi garam yang bernilai tinggi.
Lebih lanjut, dia mengatakan, pembangunan K-SIGN di Rote Ndao diproyeksikan menyerap hingga 26.000 tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat hingga 2,5 kali UMR setempat.
Selain itu, proyek ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor garam, yang saat ini masih mencapai lebih dari 2,5 juta ton per tahun untuk industri kimia dan pangan.
Investasi dalam proyek K-SIGN tidak hanya menjanjikan keuntungan ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan nasional.
Dengan dukungan teknologi, mekanisasi, dan tata kelola modern, kawasan ini ditargetkan menjadi benchmark baru pergaraman di kawasan tropis.
Sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono melakukan kick-off pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Desa Matasio, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur pada awal Juni 2025.
Pembangunan sentra industri garam menggunakan pendekatan ekstensifikasi terpadu, yang mencakup pembangunan tambak garam modern, fasilitas gudang dan pengolahan, hingga penataan kelembagaan dan kerja sama produksi.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Bikin Sulit Rakyat! Gas Bersubsidi Dioplos di Tanjung Priok, Lima Pelaku Ditangkap
-
Semarak Indonesia Menari 2025, Ribuan Penari Ramaikan Panggung Nusantara
-
Semarak Bulan Bahasa, Mahasiswa UNG Rayakan Sumpah Pemuda Lewat Karya dan Sastra
-
Pemkot Makassar Melarang Penjualan Atribut Sekolah
-
Indikasi Honorer Bodong di Mataram, Wali Kota Mohan Roliskana Minta Investigasi Tuntas
-
Politisi Veteran Ditunjuk Jadi Plt PM
-
Sertifikasi SPPG Jangan hanya Sekadar Formalitas
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.