Kamboja Ancam Larang Masuknya Komoditi Pertanian Thailand

Selasa, 17 Jun 2025, 02:50 WIB

PHNOM PENH - Mantan pemimpin berpengaruh Kamboja, Hun Sen, pada Senin (16/6) mengeluarkan ultimatum kepada Thailand untuk mencabut pembatasan penyeberangan perbatasan atau negaranya akan melarang semua impor buah dan sayuran Thailand dalam putaran terbaru perselisihan perbatasan antara kedua negara.

Seorang tentara Kamboja tewas pada tanggal 28 Mei lalu ketika pasukan saling tembak di wilayah sengketa yang dikenal sebagai Segitiga Zamrud, tempat perbatasan Kamboja, Thailand, dan Laos bertemu.

Ket. Foto: Mantan pemimpin berpengaruh Kamboja, Hun Sen, saat menghadiri pertemuan senat dan MPR di Phnom Penh pada 2 Juni lalu. Pada Senin (16/6), Hun Sen akan melarang semua impor buah dan sayuran dari Thailand. — Sumber: AFP/CAMBODIA NATIONAL ASSEMBLY

Tentara Thailand dan Kamboja mengatakan bahwa mereka bertindak untuk membela diri.

Thailand telah memperketat kontrol perbatasan dengan Kamboja dalam beberapa hari terakhir, sementara Kamboja memerintahkan pasukan pada Jumat (13/6) untuk tetap siaga penuh, melarang penayangan drama Thailand dari TV dan bioskop, menutup pos pemeriksaan perbatasan yang populer, dan memutus jaringan internet dari Thailand.

Dalam pidatonya kepada rakyat, Hun Sen, ayah dari Perdana Menteri Kamboja saat ini, Hun Manet, mengancam akan melarang semua buah dan sayuran dari Thailand kecuali Bangkok mencabut semua pembatasan penyeberangan perbatasan dalam waktu 24 jam.

"Jika pihak Thailand tidak membuka penyeberangan perbatasan secara normal hari ini, besok kami akan menerapkan larangan impor buah dan sayuran ke Kamboja di seluruh perbatasan," kata Hun Sen.

Ia mengatakan Hun Manet telah memberi tahu mitranya dari Thailand tentang tindakan tersebut.

Sebelumnya pada Minggu (15/6) Kamboja secara resmi meminta Mahkamah Internasional (ICJ) untuk membantu menyelesaikan sengketa perbatasan di empat wilayah yaitu di lokasi bentrokan bulan lalu dan tiga kuil kuno.

Hun Sen juga mengatakan negaranya harus mengadu ke ICJ karena Kamboja menginginkan perdamaian setelah kedua negara tidak akan pernah mencapai kesepakatan di empat area tersebut.

Pantang Mundur

Kamboja telah berulang kali meminta Thailand untuk bersama-sama membawa kasus tersebut ke ICJ.

"Hanya pencuri yang takut pada pengadilan," kata Hun Sen.

Ia pun mengatakan Kamboja tidak akan mundur dan akan menghormati putusan ICJ.

Dalam seruannya, Hun Sen juga meminta puluhan ribu migran Kamboja yang bekerja di Thailand untuk kembali ke negaranya, dengan mengatakan mereka akan menghadapi diskriminasi yang semakin meningkat seiring berlanjutnya perselisihan perbatasan.

"Mereka harus kembali ke tanah airnya dan ini adalah waktu yang tepat. Sengketa perbatasan tidak akan berakhir dengan mudah, jadi penghinaan kadang terjadi, dan kali ini lebih serius," ungkap dia.

Perselisihan ini bermula saat pemetaan atas wilayah negara sepanjang 800 kilometer pada awal abad ke-20 saat pendudukan Prancis di Indochina.

Kamboja sebelumnya telah meminta bantuan dari ICJ dalam sengketa wilayah atas kuil perbatasan.

Pada tahun 1962, pengadilan memutuskan bahwa kuil Preah Vihear yang disengketakan itu adalah milik Kamboja dan pada tahun 2013, ICJ memberikan area di sebelah kuil tersebut kepada Kamboja juga.

Thailand mengatakan tidak menerima putusan yurisdiksi pengadilan tersebut.

Kekerasan yang dipicu oleh pertikaian di perbatasan Kamboja dan Thailand telah menyebabkan 28 kematian di wilayah tersebut sejak 2008. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.