Bukan Sekadar Lokal Hero: Kadin Dorong Pengusaha Go Global
Sabtu, 14 Jun 2025, 23:23 WIBJAKARTA - Dengan berpartisipasi di pasar global, para pelaku bisnis dapat mengurangi ketergantungan pada pasar domestik dan mendiversifikasi risiko.Â
Selain itu, ekspansi global juga mendorong inovasi, transfer teknologi, dan pertumbuhan ekonomi negara secara keseluruhan.Â
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengingatkan para pelaku usaha untuk mengadopsi pola pikir internasional dan lebih aktif memanfaatkan peluang pasar global.
Wakil Ketua Umum Koordinator (WKUK) Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia James Riady menilai, tantangan utama dunia usaha saat ini bukan hanya pada aspek operasional, tetapi pada bagaimana membangun visi global di tengah persaingan internasional yang semakin ketat.
âPotensi Indonesia sangat besar, tetapi membutuhkan kerja sama dan pemahaman bersama antar-pelaku usaha,â kata James dalam Kadin Indonesia Bidang Luar Negeri Monthly Economic Diplomatic Breakfast, dikutip di Jakarta, Sabtu (14/6).
Ia juga menekankan bahwa untuk memajukan perusahaan, para pelaku usaha harus berpikir lintas batas.
âApa pun yang kita butuhkan, kita butuh pasar, kita ke internasional. Kita butuh modal, kita (ke) internasional. Kita butuh tenaga kerja yang khusus, kita ke internasional,â ujar James.
Lebih lanjut, dirinya menjelaskan bahwa Kadin telah memiliki banyak komite bilateral yang aktif, dan mekanisme kerja sama semacam ini akan terus diperkuat. Ia juga menyebut keunikan Kadin sebagai organisasi yang memiliki struktur solid dari pusat hingga daerah.
âIni yang terus kita pupuk setiap bulan supaya bisa lebih diperkuat lagi,â katanya pula.
Meski demikian, James juga menyoroti rendahnya kontribusi perdagangan luar negeri terhadap ekonomi nasional yang masih di bawah 40 persen. Indonesia harus mulai memikirkan cara meningkatkan porsi perdagangan internasional.
âPasar dunia itu besar, dan kita harus mulai mengambil bagian lebih besar di sana,â ujarnya.
Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Organisasi Kadin Indonesia Taufan Eko Nugroho Rotorasiko menambahkan bahwa masih banyak tantangan dalam penguatan hubungan internasional, terutama terkait kurangnya informasi yang sampai ke pelaku usaha.
Taufan menyoroti perlunya perencanaan yang lebih terstruktur ke depan, serta komunikasi yang lebih terbuka antara pelaku bisnis dan pemerintah.
âKami ingin diskusi lebih intensif tentang perencanaan tiap bulan ke depan seperti apa,â kata Taufan.
Dalam kesempatan yang sama, Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Hubungan Internasional Johni Martha menyinggung tantangan dalam hubungan dagang dengan Amerika Serikat (AS).
Ia menjelaskan bahwa masih ada perbedaan data antara kedua negara mengenai besaran defisit perdagangan.
Menurut Johni, AS mencatat defisit 18 miliar dolar AS dari Indonesia, sementara Pemerintah Indonesia menghitung defisit sebesar 14 miliar dolar AS.
âYang 4 miliar nggak tahu ke mana. Tapi yang jelas itu PR (pekerjaan rumah) kita bersama,â katanya.
Lebih lanjut, Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menyampaikan bahwa pemerintah daerah saat ini tengah membuka peluang sebesar-besarnya di sektor pertanian, perikanan, serta layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan.
Ia menilai forum semacam Monthly Economic Diplomatic Breakfast menjadi penting, karena membuka ruang dialog langsung antara daerah dan pelaku usaha nasional.
âForum ini luar biasa. Kami berharap ke depan bisa juga dibawa ke daerah, agar pengusaha bisa melihat langsung potensi yang ada,â ujarnya.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.