Gelombang Tinggi di Bantul: Sampai Kapan Nelayan Selatan Yogyakarta Terhenti Melaut?

Selasa, 10 Jun 2025, 15:45 WIB

BANTUL – Perairan pantai selatan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kembali dilanda gelombang tinggi dan angin kencang yang tidak menentu. Kondisi ini membuat sebagian besar nelayan terpaksa menambatkan perahu mereka, menghentikan aktivitas mencari ikan, dan mengancam roda perekonomian di pesisir.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap dan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bantul, Kristanto Kurniawan, membenarkan kondisi tersebut. "Memang kelemahan dan keterbatasan di pantai selatan seperti itu, ada musim-musim tertentu seperti musim sekarang ini tidak mendukung, karena gelombang tinggi, angin kencang sehingga tidak melaut," kata Kristanto saat dikonfirmasi di Bantul, Selasa (10/6/2025).

Ket. Foto: Perahu nelayan Bantul yang sedang tidak beroperasi karena gelombang tinggi. — Sumber: ANTARA

Menurut Kristanto, cuaca tidak bersahabat ini telah terjadi sejak Mei dan diprediksi akan berlanjut hingga Agustus, bahkan tidak menutup kemungkinan bisa lebih lama. Selain gelombang tinggi, kondisi ini juga membuat ikan sulit muncul ke permukaan, menambah kesulitan para nelayan. "Itu kelemahan di perikanan kita yang ada di laut seperti itu, nelayan kita seperti itu, memang siklus tahunan, dan mereka biasanya juga sudah mengantisipasi sendiri," tambahnya. Meski DKP belum memiliki data pasti jumlah nelayan yang tidak melaut, tercatat ada sekitar 380 nelayan di pantai selatan Bantul.

Supardi, seorang nelayan Pantai Depok Bantul, membagikan pengalaman pahitnya. "Sudah semingguan lalu, sebenarnya tadi pagi cuaca cerah, namun begitu melaut sampai sana (tengah laut) seperti ini, cuaca langsung seperti ini (gelombang tinggi), langsung memburuk, jadi tidak bisa bekerja, perahu goyang terus," keluhnya. Dari sekitar 30 perahu jukung di Pantai Depok, saat ini hanya sekitar 15-20 perahu yang berani melaut, bahkan terkadang hanya 5-6 perahu tergantung kondisi gelombang. Hasil tangkapan pun minim, tak jarang mereka pulang tanpa hasil.

Menanggapi fenomena ini, Dr. Risa Cahyani, seorang pakar oseanografi dari Universitas Gadjah Mada, menjelaskan bahwa gelombang tinggi di pantai selatan Jawa memang merupakan fenomena musiman yang dipengaruhi oleh angin timur. "Gelombang tinggi ini biasanya terjadi karena pengaruh monsun timur yang kuat, membawa angin kencang dari Australia. Puncaknya sering terjadi antara Juni hingga Agustus, namun bisa bergeser tergantung anomali iklim global. Nelayan perlu memahami pola ini untuk keselamatan dan produktivitas," papar Dr. Risa kepada Koran Jakarta. Ia menyarankan agar nelayan terus memantau informasi cuaca dari BMKG.

Sementara itu, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Cabang DIY, Bapak Triyono, menekankan pentingnya dukungan pemerintah daerah. "Meski ini siklus alam, pemerintah tidak bisa lepas tangan. Perlu ada program mitigasi dampak ekonomi bagi nelayan yang tidak bisa melaut, seperti bantuan pangan atau pelatihan keterampilan alternatif agar mereka punya penghasilan selama masa paceklik," ujar Triyono. Ia berharap ada langkah konkret untuk memastikan kesejahteraan nelayan tidak sepenuhnya terganggu oleh cuaca ekstrem yang berulang setiap tahunnya.

Dengan kondisi yang diperkirakan akan berlanjut hingga Agustus atau lebih lama, para nelayan di pantai selatan Bantul harus berjuang ekstra keras. Dukungan dari berbagai pihak menjadi sangat krusial untuk memastikan mereka dapat bertahan melewati tantangan alam ini.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Yuniar Dwi Setiawati

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.