Investasi Tiongkok Melonjak, Kekurangan Tenaga Terampil Jadi Tantangan Serius di Indonesia
Senin, 09 Jun 2025, 14:55 WIBJAKARTA - Ketika perusahaan nikel asal Tiongkok, Zhejiang Huayou Cobalt, meresmikan proyek barunya di Indonesia, mereka langsung menghadapi masalah kekurangan tenaga kerja. Permasalahan ini begitu mendesak sehingga mereka terpaksa mendirikan sekolah mengemudi sendiri untuk melatih para sopir truk yang dibutuhkan.
"Kami kekurangan tenaga kerja -- mulai dari insinyur hingga teknisi dan pengemudi," ujar Wakil Presiden Huayou, Sun Lihui, dalam forum investasi Belt and Road di Jakarta pada akhir Mei.
Masuknya investasi Tiongkok secara masif dalam beberapa tahun terakhir telah menjadikan Indonesia sebagai tujuan investasi terbesar kedua Tiongkok di kawasan ASEAN. Di sisi lain, Cina juga tetap menjadi mitra dagang terbesar Indonesia selama lebih dari sepuluh tahun terakhir. Meski triliunan rupiah mengalir ke sektor pertambangan, manufaktur, dan energi baru, pertumbuhan tenaga kerja terampil lokal belum sejalan dengan kebutuhan industri.
"Masalah terbesar yang kami hadapi adalah kurangnya teknisi dan bakat lokal yang berkualitas," kata Xu Kaihua, pimpinan GEM, perusahaan besar yang bergerak di bidang daur ulang baterai dan limbah padat.
Perusahaan ini tengah mengembangkan pabrik nikel berkapasitas 66.000 ton per tahun di Sulawesi bekerja sama dengan Vale Indonesia.
"Indonesia kaya akan sumber daya, tetapi kekurangan insinyur berpengalaman di bidang tertentu," ujar Eniya Listiani Dewi, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM.
Ia bahkan mencontohkan sulitnya menemukan tenaga terampil yang mampu menyelesaikan pemasangan panel surya secara mandiri.
Guna mengatasi tantangan tersebut, perusahaan-perusahaan Tiongkok mulai beralih dari praktik impor tenaga kerja ke pengembangan sumber daya manusia lokal. GEM, misalnya, sejak 2019 menggandeng Central South University di Tiongkok untuk merekrut mahasiswa Indonesia di jenjang pascasarjana guna mempelajari ilmu metalurgi, logistik, dan perdagangan internasional.
Hasilnya, hampir 200 mahasiswa Indonesia telah mengikuti program tersebut dan kembali untuk bekerja di proyek-proyek domestik. GEM juga baru-baru ini menggelontorkan investasi senilai 30 juta dolar AS untuk mendirikan laboratorium penelitian bersama di Institut Teknologi Bandung (ITB), yang sudah menampung lebih dari 30 peneliti pascasarjana dan menghasilkan lebih dari 150 permohonan paten.
"Pelatihan mahasiswa Indonesia di Tiongkok terlalu lambat," kata Zhu dari GEM. "Sekarang kami mengembangkan bakat langsung di Indonesia melalui laboratorium penelitian bersama."
Program seperti ini sangat menarik bagi generasi muda Indonesia. Seorang mahasiswa teknik sipil ITB berhasil meraih beasiswa senilai 37,5 juta rupiah atau sekitar 2.300 dolar AS â jumlah yang jauh melampaui rata-rata penghasilan bulanan penduduk Indonesia.
Selain beasiswa, posisi entry-level teknis di perusahaan-perusahaan Tiongkok biasanya menawarkan gaji bulanan lebih dari 22 juta rupiah, sedangkan posisi manajerial atau teknik dapat menggandakan jumlah tersebut. Namun tantangan lain muncul, seperti kendala komunikasi dan perbedaan budaya kerja yang cukup tajam.
"Sangat sedikit orang Indonesia yang fasih berbicara bahasa Mandarin dan Indonesia. Mereka yang fasih berbicara sangat dibutuhkan," ungkap seorang eksekutif dari perusahaan teknologi Tiongkok yang beroperasi di Indonesia.
Kendala bahasa menjadi masalah krusial karena generasi pascareformasi di Indonesia tidak lagi mempelajari bahasa Mandarin akibat larangan yang diterapkan sejak 1965. Bahasa Inggris menjadi alternatif, tetapi bukan bahasa ibu bagi kedua pihak, sehingga sering menimbulkan kesalahpahaman.
Para eksekutif Tiongkok menyadari bahwa mereka tidak bisa menangani seluruh kebutuhan pengembangan talenta sendirian.
"Mengubah seluruh struktur bakat suatu negara berada di luar apa yang dapat dilakukan oleh satu perusahaan saja," ujar seorang eksekutif perusahaan Tiongkok lainnya.
Pemerintah Indonesia pun mulai menunjukkan respons. Pada bulan Desember, Menteri Tenaga Kerja Yassierli menyerukan sinergi lebih erat antara sekolah kejuruan dan perusahaan-perusahaan Tiongkok. Ia juga mendorong revisi kurikulum pendidikan vokasi agar lebih sesuai dengan kebutuhan industri yang berkembang pesat.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Paundra Zakirulloh
Berita Terkait:
-
LRT Gelar Layanan Edutour untuk Tingkatkan Kesadaran Masyarakat Naik Transportasi Publik
-
Turun Lagi! Nilai Tukar Petani NTT Februari 2026 Melemah ke 100,92
-
Jose Mourinho Tolak Reuni dengan Real Madrid
-
Bantu Ekonomi Warga, Program Padat Karya Jalan dan Jembatan Kemen PU 2025 Bakal Serap 43.628 Tenaga Kerja
-
Transportasi Lebaran 2026 Dipastikan Siap
-
Strategi Sukses “Repackaging”
-
Wamendag RI Dyah Roro Esti dan Ibu Negara Pakistan Bahas Peluang Kerja Sama Strategis
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.