• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Review 'Bring Her Back': K...

Review 'Bring Her Back': Kegelapan Paling Gelap yang akan Anda Tonton dari Sela-sela Jari

Sabtu, 07 Jun 2025, 02:42 WIB

Jika mengharapkan horor yang penuh jump scare, sosok seram atau bahkan yang sibuk dengan universe seperti Conjuring mungkin Anda bisa melewatkan film ini. Tapi "Bring Her Back" tahu apa yang dilakukannya  untuk Anda yang suka dengan sesuatu yang berbeda. 

Dibuat dengan sangat baik oleh duet sutradara, Danny dan Michael Philippou yang populer dengan Talk to Me (2022). Menghasilkan nuansa gelap dan unik, Bring Her Back dibawakan oleh pemain-pemain cemerlang, dan yang paling mengejutkan, mampu menampilkan sisi brutal yang tak terbayangkan sebelumnya.  

Ket. Foto: Bring Her Back mampu memberikan kedalaman dari kesedihan dan rasa frustrasi para karakter protagonisnya yang membuat film ini sukses untuk dianggap sebagai horor sejati. — Sumber: Istimewa

Cerita dibuka dengan dokumentasi hitam-putih buram tentang sekelompok orang yang sedang melakukan semacam ritual, kemudian beralih tentang kehidupan baru dua remaja Australia, Andy
(Billy Barratt) dan adik tirinya yang tuna netra, Piper (Sora Wong).

Setelah kematian mendadak ayah mereka, keduanya harus tinggal bersama Laura (Sally Hawkins), ibu asuh yang awalnya tampak bersahabat, tapi kemudian terlihat aneh karena mengawetkan anjingnya yang sudah mati atau mengajak anak angkatnya untuk pesta miras. 

Laura dikisahkan juga pernah memiliki anak perempuan, Cathy, yang mati karena tenggelam. Sementara di rumah baru mereka juga ada anak angkat lain, sosok pendiam bernama Ollie (Jonah Wren Phillips) yang diklaim oleh Laura menderita bisu.

Awalnya kita tidak akan menyangka dari arah mana teror akan datamg pada film yang beralur "slow burn" ini. Namun, keganjilan sikap Laura semakin menjadi-jadi dengan gayanya yang seolah ingin selalu memberikan yang terbaik kepada keduanya, dan Ollie yang lebih banyak dikurung sendiri di kamarnya, mulai mengintidimasi penonton. 

Kisah sebenarnya mulai terungkap saat teror sebenarnya muncul terkait dengan Laura dan Ollie. Kebiusan Ollie yang mendadak hilang setelah ia histeris, upacara ritual, gudang yang terkunci rapat dan poster anak hilang mulai merangkai cerita yang ditulis Philippou bersama Bill Hinzman ini. 

Bring Her Back menunjukkan taringnya sebagai horor yang berbeda. Alur yang sederhana dengan kekejaman demi kekejaman muncul berganti, sangat perlahan tapi cukup untuk menyentuh sisi lemah penonton paling tegar sekalipun. 

Film ini lebih banyak menampilkan sifat brutal manusia tanpa meninggalkan bagian gelap supranaturalnya, namun dengan visual teror yang alami, tidak berlebihan untuk skala keji yang ditawarkan. 

Plus, iringan score yang menyayat dari Cornel Wilzcek yang juga menggarap musik Talk to Me, membungkus kengerian demi kengerian membuat film mirip ujian ketahanan. Penonton akan benar-benar dibuat terpengaruh, sampai berkata "Tidak" untuk beberapa scene brutal yang sangat mengerikan.

Philippou bersaudara membuktikan sekali lagi bahwa mereka adalah yang terbaik dalam memberikan kisah ekstrem yang yang akan menjadi satu hit terbesar A24 tahun ini. 

Michael Philippou mengungkapkan bahwa mereka mempertimbangkan "beberapa akhir cerita yang berbeda," termasuk satu di mana arwah Cathy benar-benar berakhir di tubuh Piper. Namun, akhir cerita yang lebih besar dan lebih menakutkan itu dibatalkan dan beralih ke akhir cerita yang lebih emosional dan terasa lebih nyata.

Dan Bring Her Back akhirnya mampu memberikan kedalaman dari kesedihan dan rasa frustrasi para karakter protagonisnya yang membuat film ini sukses untuk dianggap sebagai horor sejati. 

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.