Indonesia Siapkan Daftar Tarif Pilihan Jelang Negosiasi Dagang Putaran Kedua dengan AS

Rabu, 04 Jun 2025, 14:20 WIB

JAKARTA - Indonesia berkomitmen menyusun daftar tarif pilihan untuk berbagai produk dari Amerika Serikat sebelum memulai putaran kedua negosiasi dagang dengan Washington yang dijadwalkan berlangsung bulan ini. Komitmen ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto setelah melakukan pertemuan bilateral dengan utusan perdagangan Amerika Serikat, di tengah persiapan menuju batas waktu yang ditetapkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.

Amerika Serikat tercatat sebagai mitra dagang ketiga terbesar bagi Indonesia pada tahun 2024, dengan total nilai ekspor mencapai $26,3 miliar. Dalam kurun waktu yang sama, Indonesia mencatatkan surplus perdagangan sebesar $16,8 miliar terhadap AS, menunjukkan ketergantungan ekspor yang cukup tinggi terhadap pasar Amerika.

Ket. Foto: — Sumber: Reuters

Airlangga menyatakan bahwa Indonesia ingin mempercepat proses negosiasi sebelum batas waktu 3 Juli yang ditetapkan oleh Presiden Trump untuk pelaksanaan tarif timbal balik. Pemerintahan Trump sebelumnya telah mengenakan tarif sebesar 32% terhadap berbagai produk asal Indonesia, namun kebijakan tersebut saat ini ditangguhkan hingga Juli bersama dengan tarif terhadap produk dari negara lain.

“Kami siap untuk melanjutkan dialog terbuka dan mengatasi tantangan negosiasi dalam hambatan tarif dan nontarif, perdagangan digital... serta masalah ekonomi dan keamanan nasional,” ujar Airlangga dalam pernyataan resminya.

Pertemuan antara Airlangga dan Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, berlangsung di sela pertemuan tingkat tinggi Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) yang digelar di Paris. Dalam pertemuan tersebut, Airlangga menekankan bahwa Indonesia berharap pendekatan yang “matang dan terukur” dapat membuka jalan untuk menjalin kemitraan jangka panjang yang kokoh dengan Amerika Serikat.

Pemerintah Indonesia juga menyampaikan niatnya untuk meningkatkan volume impor energi dari AS hingga sekitar $10 miliar sebagai bagian dari paket negosiasi perdagangan yang lebih luas. Produk energi yang dimaksud termasuk di antaranya bahan bakar, minyak mentah, serta gas minyak cair (LPG) yang diimpor langsung dari Amerika.

Selain itu, pemerintah mencatat bahwa nilai impor barang dari AS pada tahun 2024 juga mencapai angka $26,3 miliar, dengan sebagian besar terdiri atas produk teknologi, energi, serta bahan baku industri. Sementara itu, ekspor utama Indonesia ke AS tetap didominasi oleh produk elektronik, pakaian jadi, dan alas kaki yang menjadi andalan sektor manufaktur nasional.

Dengan semakin dekatnya tenggat waktu yang ditentukan, pembicaraan antara kedua negara diharapkan dapat mencapai kemajuan berarti dalam menghindari diberlakukannya kembali tarif tinggi terhadap produk Indonesia. Hingga kini, pemerintah AS belum memberikan tanggapan resmi terkait hasil pertemuan bilateral tersebut, menurut laporan Reuters yang masih menunggu konfirmasi.

Negosiasi ini menjadi bagian dari strategi jangka menengah Indonesia untuk memperkuat posisi ekspor sekaligus menyesuaikan diri dengan dinamika kebijakan perdagangan global yang semakin kompetitif. Pemerintah memandang bahwa membuka akses pasar energi dan memperkuat kerja sama digital merupakan bagian penting dalam mewujudkan hubungan dagang yang saling menguntungkan antara Indonesia dan Amerika Serikat.

  • Perekonomian
  • Tarif Dagang AS
  • Negosiasi Kebijakan Tarif Trump

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.