• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Lelah Bekerja? Psikolog: B...

Lelah Bekerja? Psikolog: Butuh Lebih dari Sekadar Motivasi! Ini Solusinya

Jumat, 30 Mei 2025, 23:45 WIB

JAKARTA - Stres dapat meningkatkan risiko penyakit seperti sakit kepala, masalah pencernaan, gangguan tidur, hingga penyakit jantung. Stres kronis dapat memicu depresi, kecemasan, dan gangguan mental lainnya. 

Stres dapat menurunkan produktivitas, efisiensi, dan kualitas kerja seseorang. Stres dapat memicu konflik dan ketegangan dalam hubungan kerja, baik dengan atasan, rekan kerja, maupun bawahan. 

Ket. Foto: Ilustrasi - Seorang pekerja sedang stres di tempat kerja. . — Sumber: ANTARA/Pexels/am

Tekanan kerja yang tinggi tak jarang menjadi pemicu stres, bahkan dalam beberapa kasus bisa berkembang menjadi gangguan mental yang serius seperti salah satunya depresi.

Meski begitu, menurut Psikolog jebolan Universitas Indonesia, Ratih Zulhaqqi, tekanan kerja tidak serta-merta menyebabkan depresi, namun, stres berkepanjangan yang tidak ditangani dengan baik bisa menjadi salah satu faktor risiko.

“Stres itu pasti dialami semua orang, apalagi di lingkungan kerja saat ini yang serba cepat dan kompetitif. Tapi depresi adalah kondisi psikologis yang berbeda dan lebih dalam. Seseorang yang depresi biasanya sudah kehilangan kemampuan untuk mengelola stresnya,” jelas Ratih saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (30/5).

Menurut dia manajemen stres yang baik dan mekanisme koping yang sehat adalah kunci bertahan di lingkungan kerja yang penuh tekanan. Teknik seperti regulasi emosi, latihan pernapasan, mindfulness, hingga mengubah sudut pandang terhadap situasi negatif menjadi bagian penting dalam mengelola tekanan kerja.

Ratih juga menekankan pentingnya dukungan sosial yang empatik.

“Kalimat ‘semangat ya’ itu seringkali tidak membantu, malah memperburuk keadaan. Lebih baik katakan, ‘aku nggak tahu kamu sedang melalui apa, tapi aku ada di sini kalau kamu butuh’. Itu jauh lebih berarti,” kata dia.

Jika sudah muncul gejala seperti kehilangan motivasi, gangguan tidur, menarik diri dari aktivitas sosial, dan energi emosional sangat rendah hingga kesulitan melakukan hal sekecil apapun itu bisa jadi tanda awal depresi.

“Saat itu terjadi, sangat disarankan untuk mencari bantuan profesional. Pergi ke psikolog atau psikiater bukan berarti lemah atau gila, itu langkah berani,” ujar Ratih.

Baru-baru ini, kasus meninggalnya seorang asisten manajer Bank Indonesia yang sempat viral di media sosial menjadi pengingat bahwa kesehatan mental, terutama di dunia kerja, tidak boleh diabaikan.

Meski penyebab kepergiannya masih dalam penyelidikan, muncul dugaan soal tekanan kerja kembali mengangkat pentingnya manajemen stres dan empati di lingkungan profesional.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.