Tambahan PLTU di RUPTL Tak Sejalan dengan NZE

Rabu, 28 Mei 2025, 00:00 WIB

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baru saja mengesahkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 pada Senin (26/5). Namun, masih ada tambahan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara sebesar 6,3 gigawatt (GW).

Dalam dokumen terbaru RUPTL 2025 ini PLTU batu bara akan bertambah 3,2 GW, kemudian pada 2029 sebesar 0,2 GW. Penambahan PLTU batu bara kembali terjadi pada 2032 sebesar 1,4 GW, dan terakhir pada 2033 sebesar 0,8 GW.

Ket. Foto: Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa menyoroti masih besarnya proporsi batu bara, gas, dan nuklir yang masuk dalam rencana pembangunan di RUPTL. — Sumber: istimewa

Dengan begitu, setelah 2030 masih ada 2,8 GW PLTU beroperasi. Indonesia juga akan menambah pembangkit berbasis gas sebesar 10,3 GW.

Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwamenyoroti masih besarnya proporsi batu bara, gas, dan nuklir yang masuk dalam rencana pembangunan di RUPTL. Menurutnya, hal itu tidak sejalan dengan target netralitas emisi karbon atau net zero emission (NZE) pada 2060 atau lebih awal.

"Kalau konsisten dengan Perpres 112/2022, seluruh PLTU seharusnya berakhir pada 2050," tegas Fabby menanggapi pengesahan RUPTL PLN 2025-2034 di Jakarta, Selasa (27/5).

Dia menjelaskan masuknya pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) juga perlu dikaji dengan cermat karena belum adanya keputusan resmi dari presiden. Hal itu karena minimnya kerangka regulasi yang mengatur keamanan operasi; adanya risiko keamanan yang tinggi; ketidakjelasan teknologi yang akan dipakai; serta penerimaan masyarakat yang rendah.

Selain itu, kebergantungan pada PLTU bebahan bakar gas sebesar 10,3 GW justru berpotensi menimbulkan tantangan serius terhadap ketahanan energi nasional dalam jangka panjang. Sebab, pasokan gas dan harganya rentan karena berbagai faktor.

Kapasitas Meningkat

Seperti diketahui, RUPTL terbaru ini menargetkan penambahan kapasitas pembangkit listrik energi baru dan energi terbarukan (EBT) sebesar 42,6 GW (61 persen) dan 10,3 GW (15 persen) penyimpanan daya (storage) yang terdiri dari penyimpanan PLTA terpompa dan baterai. Selain itu, pembangkit fosil seperti 10,3 GW gas dan 6,2 GW PLTU batu bara juga termasuk dalam perencanaan pembangunan dalam RUPTL ini.

Fabby mengakui adanya peningkatan kapasitas pembangkit energi terbarukan dalam RUPTL 2025-2034, yang porsinya lebih besar dari RUPTL sebelumnya. Sebut saja energi surya menempati porsi terbesar yaitu 17,1 GW diikuti pembangkit energi terbarukan lainnya, seperti air (11,7 GW), angin (7,2 GW), panas bumi (5,2 GW), bioenergi (0,9 GW), dan energi nuklir (0,5 GW) yang baru pertama kali muncul di RUPTL PLN.

Manajer Program Sistem Transformasi Energi IESR, Deon Arinaldo menyampaikan kajian IESR menunjukkan ada 333 GW potensi energi terbarukan yang bisa memberikan pengembalian investasi menarik, dengan sekitar 60 persen dari potensi tersebut equity investment rate of return (EIRR).

Untuk itu, Deon menegaskan pemanfaatan Bersama Jaringan Transmisi (PBJT) dapat mengakselerasi proses pengadaan energi terbarukan. “PBJT dapat diatur agar memberikan pendapatan tambahan yang dapat digunakan PLN untuk mengelola pengembangan jaringannya sehingga membantu pencapaian rencana RUPTL atau bahkan melampauinya,” ujar Deon.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.