Menang, Warnai Perpisahan Ancelotti dan Modric

Senin, 26 Mei 2025, 07:16 WIB

MADRID — Malam penuh emosi membalut kemenangan 2-0 Real Madrid atas Real Sociedad di Santiago Bernabeu, Minggu (25/5) dini hari WIB. Kemenangan ini bukan sekadar penutup musim La Liga, melainkan juga menjadi momen perpisahan menyentuh bagi Carlo Ancelotti dan Luka Modric. Mereka jadi dua figur ikonik yang menandai era kejayaan Los Blancos.

Carlo Ancelotti resmi mengakhiri masa jabatannya sebagai pelatih Madrid untuk melanjutkan karir bersama timnas Brasil. Dalam enam tahun yang terbagi dalam dua periode, pelatih asal Italia itu mempersembahkan 15 trofi, termasuk dua Liga Champions dan tiga Piala Dunia Antarklub. Usai laga, Ancelotti berdiri di tengah lapangan, menerima ovasi meriah dari 80.000 lebih Madridistas yang memadati stadion.

Ket. Foto: Pelatih Real Madrid asal Italia Carlo Ancelotti dan gelandang Real Madrid Luka Modric melambaikan tangan kepada para penggemar di akhir pertandingan sepak bola liga Spanyol antara Real Madrid CF dan Real Sociedad. — Sumber: OSCAR DEL POZO / AFP

“Merupakan kehormatan dan kesenangan bisa melatih klub ini. Saya ingin berterima kasih kepada presiden Florentino Perez dan para pemain luar biasa yang telah menemani. Saya mencintai kalian semua,” ujar Ancelotti di hadapan penonton.

Namun, sorotan terbesar tertuju kepada Luka Modric. Gelandang veteran asal Kroasia itu memainkan laga kandang terakhirnya setelah lebih dari satu dekade mengabdi di Madrid. Masuk sebagai pemain pengganti di akhir laga, Modric disambut guard of honour dari rekan-rekannya. Dia lalu kembali ke lapangan usai peluit panjang untuk menyampaikan salam perpisahan.

“Waktu yang tak pernah saya inginkan tiba juga. Saya telah meraih banyak gelar, namun trofi terbesar adalah cinta dan dukungan dari kalian. Jangan menangis karena ini berakhir, tapi tersenyumlah karena semua ini pernah terjadi,” ucap Modric dengan suara bergetar.

Tangis pun pecah di tribun dan di bangku cadangan. Toni Kroos, rekan duet Modric selama bertahun-tahun, memeluknya hangat di sisi lapangan. Ini menambah dramatis suasana di Bernabeu yang malam itu menjadi panggung nostalgia dan rasa syukur.

Di tengah nuansa haru, Kylian Mbappe tampil efektif. Meski gagal mengeksekusi penalti dengan sempurna di babak pertama karena tendangannya ditepis Unai Marrero, bintang asal Prancis itu tetap sukses mencetak gol dari bola mental. Dia mencetak golnya ke-30 musim ini. Mbappe menambah satu gol lagi di babak kedua. Dia menerima umpan Vinicius Junior, sekaligus memimpin perburuan Sepatu Emas Eropa. Dia unggul dari Viktor Gyokeres (Sporting Lisbon) dan Robert Lewandowski (Barcelona).

Madrid mengakhiri musim di peringkat dua La Liga, tertinggal dari Barcelona yang juga menaklukkan di final Copa del Rey dan Piala Super Spanyol. Tanpa trofi mayor musim ini, Madrid kini mengalihkan fokus ke Piala Dunia Antarklub di Amerika Serikat akhir tahun nanti.

Lucas Vazquez, yang kontraknya akan berakhir musim panas ini, turut mendapat penghormatan saat ditarik keluar di babak kedua. Brahim Diaz harus ditarik lebih awal karena cedera ringan. Ini membuka ruang bagi Vinicius untuk tampil.

Di ruang ganti, tak ada euforia berlebihan. Hanya pelukan, air mata, dan tepuk tangan panjang. Ini simbol bahwa sepak bola bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang kenangan dan warisan.

Modric kini menutup kisahnya di Bernabeu, sementara Ancelotti melanjutkan babak baru di panggung internasional. Di bawah cahaya lampu stadion yang perlahan meredup, satu era Real Madrid resmi berakhir, meninggalkan jejak keemasan yang tak mudah dilupakan.  ben/AFP/G-1

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.