Hotspur Tenggelamkan MU

Jumat, 23 Mei 2025, 07:17 WIB

BILBAO – Setelah 17 tahun tanpa gelar, Tottenham Hotspur akhirnya mengangkat trofi. Kemenangan 1-0 atas Manchester United di final Liga Eropa, Kamis (22/5) dini hari WIB tak hanya menutup musim penuh tekanan, tetapi juga membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah, dengan atau tanpa pelatih Ange Postecoglou.

Gol tunggal Brennan Johnson di San Mames mengukuhkan Spurs sebagai juara kompetisi Eropa untuk pertama kalinya sejak 1984. Ini sekaligus menyegel tiket Liga Champions musim depan. Hotspur potensi pemasukan senilai 100 juta pound (2,1 triliun rupiah). Namun di tengah euforia, Postecoglou berbicara realistis soal masa depannya yang belum pasti.

Ket. Foto: Pemain depan Tottenham Hotspur Son Heung-min mengangkat trofi saat ia merayakan kemenangan bersama rekan satu timnya dalam pertandingan final Liga Eropa UEFA antara Tottenham Hotspur dan Manchester United di stadion San Mames di Bilbao, Kamis (22/5). — Sumber: Thomas COEX / AFP

Dia mengaku belum bicara dengan siapa pun dan langsung pulang ke hotel, kumpul keluarga dan teman. Dia lalu buka sebotol Scotch dan menunggu parade besar hari Jumat.

Kendati mengakhiri musim di peringkat ke-17 klasemen Liga Inggris, terburuk sejak promosi kembali pada tahun 1978, Spurs sukses menulis ulang sejarah. Terakhir kali mereka meraih trofi adalah Piala Liga 2008. Kini, trofi Liga Eropa dan tiket ke UEFA Super Cup melawan PSG atau Inter Milan menanti.

Bagi Postecoglou, terobosan psikologis justru lebih penting dari hasil semata. “Semakin lama klub tak juara, tabah sulit mematahkan siklus. Sampai Anda lepas beban, tak tahu rasanya,” ujarnya.

Dia aya yakin semua pemain ingin merasakan lagi. Mereka tahu yang dibutuhkan untuk sampai ke titik ini. Kapten Son Heung-min, yang pernah merasakan pahitnya kalah di final Liga Champions 2019, akhirnya mengangkat trofi pertamanya bersama Spurs.

“Saya ingin ini begitu dalam, setiap malam saya bermimpi. Sekarang saya bisa tidur tenang,” ujarnya.

Makin Terpuruk

Di sisi lain, kekalahan ini jadi titik nadir Manchester United. Tanpa trofi, tanpa Liga Champions, dan tanpa kompetisi Eropa untuk musim depan. Setan Merah menutup musim dengan 21 kekalahan di semua kompetisi. Ini hasil terburuk sejak musim degradasi 1973-1974.

Ruben Amorim, yang datang menggantikan Erik ten Hag November, gagal menghentikan tren negatif. Meski membawa United tak terkalahkan hingga final, strategi 3-4-3-nya tak mampu mengatasi efisiensi Tottenham. Amorim tetap tenang, namun sorotan tajam mulai mengarah pada masa depannya. “Final ini penting, tapi saya tidak menyesal. Mereka tahu cara memenangkan pertandingan besar,” ujar Amorim usai laga.

Kegagalan ini juga berdampak besar secara finansial. Tanpa pemasukan dari Liga Champions, proyek perombakan skuad MU bisa terkendala. ben/AFP/G-1

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.