Lebaran Depok 2025, Peluang Besar Kota Depok Dikenal Lebih Luas Sebagai Destinasi Wisata Budaya

Senin, 19 Mei 2025, 21:48 WIB

DEPOK - Lebaran Depok 2025 yang berlangsung 11-17 Mei merupakan peluang besar bagi Kota Depok untuk dikenal lebih luas sebagai destinasi wisata budaya.

Dihajatan besar itu suasana Alun-alun Kota Depok berubah seperti era 70-an ketika para pejabat beserta anggota DPRD dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Depok tampil dengan pakaian nyentrik ala tempo dulu.

Mereka mengenakan pakaian nyentrik tersebut untuk merayakan Lebaran Depok 2025 yang digelar untuk ketujuh kalinya.

Wali Kota Depok Supian Suri mengenakan pakaian putih dan celana cutbray berwarna biru dengan memakai topi ala cowboy betawi yang dibalut dengan ikat pinggang berwarna putih dan sepatu lancip berwarna putih.

Sedangkan istrinya Siti Barkah Hasanah atau biasa disapa Cing Ikah mengenakan pakaian ala Noni Belanda dengan baju warna putih bermotif biru yang panjang dan dilengkapi dengan payung kecil putih dengan membawa tas coklat.

Tak kalah menariknya dalam berkostum tempo dulu, Wakil Ketua DPRD Depok Yeti Wulandari mengenakan pakaian berwarna hijau muda dengan wig rambut kribo berwarna biru muda, serta dengan aksesoris selendang berwarna biru yang menjuntai ke bawah.

Tentu juga tak kalah hebohnya dalam berpakaian tempo dulu ala tahun 70 an, Ketua Komisi B DPRD Kota Depok Hamzah. Dia secara khusus menjahit celana yang cutbray bewarna biru dongker, dengan kemeja warna biru bermotif coklat muda.

Untuk menambah aksinya ia mengenakan rambut palsu dan juga kacamata rayben berwarna hitam.

Penampilan para pejabat Depok ini membuat warga yang berkunjung di Lebaran Depok tidak mengenali mereka karena tampilan pakaian yang jauh berbeda dari biasanya.

"Saya kira siapa ternyata bang Hamzah," kata Wati, salah seorang pengunjung Lebaran Depok.

Ket. Foto: Ratusan orang antusias bergaya dan mengenakan pakaian bertema tahun 70an di Alun-alun Depok, Grand Depok City, Kecamatan Cilodong. — Sumber: Foto: Diskominfo Depok

Penampilan para pejabat dengan mengenakan pakaian era 70-an itu merupakan bagian dari acara Lebaran Depok yaitu nyedengin baju, tradisi orang tua zaman dulu yang ingin membelikan baju anaknya untuk merayakan Lebaran.

Karena keterbatasan pengetahuan dan fasilitas pada masa itu, orang tua biasanya mengukur pundak anak-anaknya menggunakan tali rafia sebagai acuan dalam membeli baju Lebaran.

Meski ekonomi pas-pasan, orang tua zaman dulu tetap berupaya memberikan yang terbaik di momentum Lebaran,mulai dari pakaian hingga makanan.

Wali Kota Depok Supian Suri mengajak masyarakat Depok yang kini hidupnya sudah berkecukupan agar tetap menjaga tradisi orang-orang zaman dulu, sehingga nilai-nilai budaya tidak lenyap ditelan zaman.


Budaya asli Depok

Lebaran Depok berisi berbagai tradisi unik yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dengan warga Depok sejak zaman dahulu, mulai dari ngubek empang, ngaduk dodol, motong kebo andil, nyuci perabotan, nyedengin baju,ngerowahin, pasar penghabisan dan rantangan.

Acara Lebaran Depok 2025 yang berlangsung selama sepekan dimulai dengan acara ngubek empang, yaitu tradisi menangkap ikan yang dilakukan dengan tangan kosong di kolam atau empang.

Tradisi ini merupakan budaya warga Depok menyambut Lebaran yang mempunyai filosofi kebersamaan dalam menyambut Idul Fitri.

Pemerintah Kota Depok berusaha untuk terus melestarikan tradisi ngubek empang sebagai upaya mengenalkan budaya Betawi kepada generasi muda.

Selain itu juga budaya nyuci perabotan yang dilakukan oleh sekelompok ibu-ibu berkebaya dan ikat kepala seperti orang zaman dahulu.

Mereka mencuci beberapa dandang dan salang atau keranjang dari rotan menggunakan sabun dan sabut kelapa.

Filosofinya, perabotan yang bersih mencerminkan rumah bahwa tangganya tertata penuh kedamaian dan keberkahan.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa budaya bukan sesuatu yang harus kita simpan dalam museum, tapi harus dihidupkan, dirayakan, dirawat, dan diwariskan dalam bentuk menyenangkan dan mendidik.

Budaya lainnya adalah ngerowahin yang merupakan tradisi Betawi yang biasanya dilakukan sebelum memulai suatu kegiatan besar atau menyambut Ramadan.

Ngerowahin sebagai bentuk tasyakuran serta permohonan keselamatan dan keberkahan bagi seluruh rangkaian kegiatan Lebaran Depok. 

Tradisi ngerowahin atau ruwahan merupakan bagian penting dari budaya masyarakat Depok, khususnya Betawi, yang sarat dengan nilai spiritual dan sosial.

Tradisi ini adalah bentuk doa bersama sebelum memulai suatu kegiatan besar. Tujuannya adalah memohon keselamatan, kelancaran, dan keberkahan kepada Allah.

Ada juga budaya tradisi motong kebo andil yangmerupakan warisan kebiasaan orang tua zaman dulu, ketika warga patungan untuk membeli kerbau agar semua dapat menikmati daging saat Lebaran. Terutama bagi anak-anak yang telah menunaikan puasa penuh selama bulan Ramadan.

Kebo andil ini artinya persiapan untuk menghadapi hari raya besar, yaitu Idulfitri. Orang-orang kampung dengan kesederhanaannya ingin makan daging saat hari raya. Maka, mereka menabung sedikit demi sedikit sejak setahun sebelumnya

Warga biasanya mulai menabung sejak satu bulan setelah Lebaran. Tabungan ini bisa dikumpulkan melalui kelompok pengajian, RT, atau komunitas lainnya.

Kemudian, dua bulan sebelum Hari Raya Idul Fitri, uang yang terkumpul digunakan untuk membeli kerbau sesuai kemampuan.

Pada hari raya, kerbau tersebut disembelih dan dagingnya dibagikan kepada warga. Tradisi ini berbeda dengan penyembelihan sapi yang identik dengan kurban.

Tradisi pasar pengabisan adalah hari terakhir kegiatan jual beli di pasar sebelum perayaan Idul Fitri atau Lebaran. Selanjutnya pasar penghabisan adalah ketika seluruh pedagang di acara tersebut selesai berjualan hari ini, karena besok sudah masuk waktunya Lebaran.

Orang Depok zaman dahulu biasanya memanfaatkan pasar ini untuk membeli pakaian dan bahan baku makanan untuk setelah lebaran.

Pasar penghabisan di Kota Depok berlokasi di Pasar Depok Lama Jalan Dewi Sartika. Dari mulai pakaian, makanan, sendal, hingga perabotan rumah tangga dijual di pasar tersebut.

Seluruh orang Depok dulu berbondong-bondong ke pasar penghabisan untuk berbelanja. Jika tidak, dipastikan H+1 hingga H+4 lebaran akan sulit membeli bahan baku makanan.

Tradisi lainnya adalah rantangan, merupakan momen yang ditunggu-tunggu di setiap peringatan Hari Raya Idul Fitri atau lebaran. Masyarakat Depok tempo dulu membawa rantang yang berisi nasi dan lauk pauk ke rumah saudara dan kerabat mereka.

Ketua Kumpulan Orang-Orang Depok (KOOD) Ahmad Dahlan mengatakan rantangan ini isinya bermacam-macam, ada sayur, ikan, daging nasi bahkan ada juga yang isinya kue dan makanan ringan.

Rantangan biasanya diantarkan ke rumah saudara dan kerabat di momen mendekati Lebaran dan ada juga yang menghantarkannya setelah melaksanakan Shalat Idul Fitri.

Lebaran Depok merupakan bentuk pelestarian budaya Betawi Depok yang dikemas dalam nuansa kebersamaan dan kekeluargaan setelah Hari Raya Idul Fitri.

Lewat acara ini, masyarakat mengingat kembali leluhur yang sudah luar biasa dengan segala keterbatasannya memberikan yang terbaik buat anak-anaknya di hari raya Idul Fitri.

Melalui Lebaran Depok, Pemerintah Kota Depok dan KOOD ingin mengangkat kembali seni, budaya dan bahasa, juga mengembangkan dan mengenalkan ke masyarakat Depok bagaimana kegiatan Lebaran Idul Fitri orang Depok tempo dulu. Ant

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Opik

Berita Terbaru

Tim Gabungan Kendalikan Titik Api di TPSA Ciniru Kuningan

Iran Ancam Anggap Musuh Siapa Pun yang Ikut Blokade Ekonomi AS

Kanada Balas Tarif Trump, Siap Bidik Baja hingga Elektronik AS

Tragedi Shalat Jumat di Nigeria: Masjid Diserbu Geng Motor, 60 Jemaah Raib Diculik

Modus Baru, Penipu di Kamboja Jual Jasa 'Anti-Banned' untuk Kuras Data Medsos

Bangladesh Punya Presiden Baru Setelah Pemilu Sengit 35 Tahun Terakhir

Simbol Hubungan Akrab, Sultan Brunei-Anwar Ibrahim Gelar Pertemuan di Istana Nurul Iman

LG Borong 17 Penghargaan IDEA 2026, Perkuat Prestasi Triple Crown di Ajang Desain Global

Trump Sumringah, Mahkamah Agung AS Izinkan Kembali Pembangunan Ballroom Gedung Putih

Uniqlo Fall/Winter 2026 Hadirkan Gaya Urban Fleksibel, Temani Aktivitas dari Kerja hingga Traveling

Terisolasi Usai Gempa M 7,7! Kemen ESDM Beberkan Kondisi Listrik dan BBM di Manggarai!

Ramaikan GBK, Lebih dari 5.000 Peserta Tumpah Ruah di BrookFarm Almond Run 2026

Siap Duduk Satu Meja? Pertemuan Putin dan Donald Trump di KTT APEC Tinggal Menunggu Waktu!

Mencekam! Lahan Gambut Pinggir Jalan Tol Mendadak Terbakar, Petugas Bertarung Tengah Malam!

Harga Bahan Pokok Lebak Merangkak Naik, Ada Apa dengan Pasar?

Tinggalkan Cara Lama! UMKM Papua Dipaksa Naik Kelas Lewat Jurus Digital BI!

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.