Bukan Solusi! Proteksionisme Justru Ancaman bagi Masa Depan Industri Dalam Negeri

Jumat, 16 Mei 2025, 00:00 WIB

JAKARTA - Multilateralisme sangat penting untuk meningkatkan daya saing industri lokal, sehingga bisa masuk dalam rantai pasok global. Sebaliknya, proteksionisme hanya menghambat tumbuh kembang industri lokal dan menganggu rantai pasok global.

Ajakan pemerintah Indonesia untuk kembali memperkuat multilateralisme perlu didukung demi menciptakan pertumbuhan yang inklusif. Salah satunya dengan memperkuat daya saing industri lokal sehingga bisa makin kompetitif dan berpeluang menjadi bagian dalam rantai pasok global.

Ket. Foto: Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda sangat mendukung upaya untuk bisa menyatukan persepsi bahwa rantai pasok global sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi yang inklusif. — Sumber: antara

Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda sangat mendukung upaya untuk bisa menyatukan persepsi bahwa rantai pasok global sangat penting untuk pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

"Bahwa pertumbuhan negara berkembang juga harus menjadi agenda negara-negara maju. Agenda multilateralisme ini sedikit luntur dalam beberapa tahun terakhir, digantikan oleh proteksionisme masing-masing negara," tegas Huda pada Koran Jakarta, Kamis (15/5), menanggapi ajakan pemerintah terkait multilateralisme.

Kendati sepakat dengan multilateralisme Huda tetap menghargai bahwa masing-masing negara juga berhak untuk melindungi industri dalam negerinya. Menurutnya, tak mudah menyatukan berbagaibkepentingan di mana masing-masing pihak punya agenda pembangunan sendiri.

Bank pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB), ujarnya, bisa berperan signifikan dalam pembangunan ekonomi regional yang inklusif. "Mulai dari permasalahan yang relatif dihadapi oleh semua negara, contohnya krisis lingkungan, ataupun juga kemiskinan," ujarnya.

Seperti diketahui, Indonesia menyerukan penguatan multilateralisme dan transformasi digital pada pertemuan tahunan ke-58 ADB di Milan, Italia.

Pada agenda ADB Governors’ Business Session, Indonesia yang diwakili oleh Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono menyampaikan ketidakpastian global memicu kerentanan rantai pasok. Dikutip dari keterangan di Jakarta, Rabu (14/5), Wamenkeu menekankan pentingnya multilateralisme yang dapat memberikan solusi yang saling menguntungkan, mendorong pertumbuhan inklusif, dan mengurangi ketimpangan untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Indonesia menyatakan ADB memainkan peran penting dalam mendukung upaya negara anggota untuk memperkuat multilateralisme.

Direktur Ekskutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti sepakat terkait pentingnya memperkuat multilateralisme dan transformasi digital.

ADB, terangnya, berperan penting mendukung upaya negara anggota untuk kerja sama. Namun yang terpenting adalah Indonesia harus bisa mendapatkan benefit lebih banyak dari lembaga kreditur tersebut.

"Tidak hanya untuk poverty alleviation tetapi juga mempererat kerja sama untuk bisa mendapat pasar lebih besar bagi produk produk Indonesia. Bagaimana industri lokal bisa terintegrasi dengan rantai pasok global, bukan hanya dijadikan pasar oleh negara lain," jelas Esther.

Efek Berantai

Sementara itu, Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB Suhartoko menilai, dalam globalisasi saat ini, sekat atau batas antar negara terutama dalam pasar keuangan hampir tidak ada. Hal ini yang perlu perhatian serius.

"Konsekuensi gejolak stabilitas keuangan di suatu negara meskipun negara kecil sekalipun akan berdampak terhadap negara lain. Sehingga solusinya tidak hanya satu negara saja, namun harus melibatkan kerja sama multilateral," ungkap Suhartoko.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.