• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • 5 Fakta Mengejutkan Bahaya...

5 Fakta Mengejutkan Bahaya Konsumsi Herbal Berlebihan untuk Liver

Kamis, 15 Mei 2025, 17:38 WIB

JAKARTA - Bahaya konsumsi herbal berlebihan untuk liver menjadi isu serius yang perlu diketahui, terutama saat tren penggunaan tanaman obat makin meningkat di berbagai kalangan. Banyak orang meyakini herbal sebagai solusi alami tanpa efek samping, namun faktanya, konsumsi berlebihan justru dapat memicu kerusakan organ vital seperti hati atau liver. 

Liver adalah pusat detoksifikasi tubuh, dan paparan zat aktif dari herbal dalam dosis tidak terkontrol bisa membahayakan fungsi organ ini. 

Ket. Foto: — Sumber: Istimewa

Dilansir dari pafikubalahin.org, akan memahami bagaimana konsumsi herbal berlebihan berdampak pada liver, didukung penelitian dari institusi kesehatan terpercaya.

1. Bahaya Konsumsi Herbal Berlebihan untuk Liver Menurut Penelitian

Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan menemukan dalam studi tahun 2021 bahwa 35% kasus hepatitis non-virus di Indonesia berkaitan dengan penggunaan jamu dan herbal tradisional secara berlebihan. Studi dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada juga menunjukkan adanya hepatotoksisitas pada ekstrak sambiloto jika dikonsumsi melebihi dosis yang dianjurkan. Penelitian-penelitian ini memperingatkan bahwa zat aktif seperti alkaloid, flavonoid, dan saponin yang berlebihan dapat menimbulkan inflamasi hingga nekrosis hepatosit.

Dalam jurnal yang diterbitkan Universitas Airlangga, peneliti mengungkapkan bahwa konsumsi temulawak (Curcuma xanthorrhiza) dalam dosis besar tanpa pengawasan medis menyebabkan gangguan enzim hati yang bisa berkembang menjadi sirosis. Fakta ini membuktikan bahwa sekalipun berasal dari alam, herbal tetap berpotensi merusak organ penting bila digunakan tidak sesuai anjuran.

2. Herbal Populer di Indonesia dan Potensi Bahayanya untuk Liver

Beberapa tanaman herbal yang umum digunakan di Indonesia seperti daun sambiloto, temulawak, brotowali, dan pegagan memiliki manfaat kesehatan yang baik bila digunakan sesuai dosis. Namun, ketika Kamu mengonsumsinya secara berlebihan, justru dapat menjadi bumerang. Daun sambiloto (Andrographis paniculata), misalnya, memang terkenal meningkatkan imun tubuh, namun riset Universitas Padjadjaran menunjukkan bahwa penggunaan ekstraknya dalam dosis tinggi dapat memicu kerusakan pada struktur liver.

Brotowali (Tinospora crispa) sering digunakan untuk mengontrol gula darah. Namun, menurut penelitian dari Universitas Indonesia, ekstrak brotowali dalam jumlah besar menimbulkan hepatotoksisitas pada uji coba tikus laboratorium. Pegagan (Centella asiatica) yang dikenal memperlancar sirkulasi darah, juga memiliki efek hepatotoksik bila dikonsumsi dalam waktu lama tanpa dosis yang tepat.

3. Cara Aman Menggunakan Herbal Agar Tidak Membahayakan Liver

Untuk menghindari bahaya konsumsi herbal berlebihan untuk liver, Kamu perlu memahami cara penggunaannya yang benar. Pertama, selalu ikuti dosis yang dianjurkan oleh praktisi kesehatan atau sesuai rekomendasi pada label produk. Kedua, hindari penggunaan jangka panjang tanpa jeda karena liver membutuhkan waktu untuk memproses zat aktif yang masuk ke tubuh. Ketiga, jangan mencampur terlalu banyak jenis herbal dalam satu konsumsi tanpa memahami interaksi antar-komponen kimianya.

Lembaga Eijkman Institute for Molecular Biology menekankan pentingnya melakukan konsultasi terlebih dahulu sebelum memulai terapi herbal, terutama bagi mereka yang sudah memiliki masalah liver atau penyakit kronis lainnya. Selain itu, herbal sebaiknya digunakan sebagai pelengkap, bukan sebagai pengganti utama pengobatan medis.

4. Tanda-Tanda Liver Bermasalah Akibat Konsumsi Herbal Berlebihan

Kamu perlu waspada terhadap gejala liver bermasalah akibat konsumsi herbal berlebihan, seperti kulit dan mata menguning (ikterus), mual terus-menerus, mudah lelah, hingga rasa sakit pada bagian kanan atas perut. Menurut penelitian RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, pasien dengan kasus hepatitis akut non-virus sebagian besar memiliki riwayat konsumsi jamu atau herbal tanpa dosis terukur dalam jangka panjang.

Apabila Kamu mengalami gejala-gejala tersebut setelah rutin mengonsumsi herbal, segeralah memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Deteksi dini sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih parah seperti gagal hati atau bahkan kebutuhan transplantasi liver.

5. Mengapa Bahaya Konsumsi Herbal Berlebihan untuk Liver Sering Diabaikan

Banyak orang menganggap herbal sepenuhnya aman karena berasal dari alam, padahal asumsi ini sangat menyesatkan. Menurut survei Kementerian Kesehatan tahun 2022, sebanyak 68% masyarakat Indonesia menggunakan herbal tanpa berkonsultasi dengan tenaga medis. Hal ini memperlihatkan bahwa rendahnya literasi kesehatan mengenai risiko konsumsi herbal menjadi salah satu faktor utama.

Universitas Diponegoro mengungkapkan dalam studi mereka bahwa faktor budaya dan kepercayaan turun-temurun membuat masyarakat kurang kritis terhadap potensi efek samping herbal. Oleh karena itu, penting untuk terus mengedukasi diri sendiri dan lingkungan sekitar tentang penggunaan herbal yang bertanggung jawab.

Kesimpulan

Melalui pemahaman mendalam tentang bahaya konsumsi herbal berlebihan untuk liver, Kamu kini tahu bahwa meskipun tanaman obat memiliki banyak manfaat, penggunaannya harus tetap bijaksana dan berdasarkan bukti ilmiah. Liver sebagai organ vital memerlukan perlindungan dari paparan zat toksik yang dapat timbul dari konsumsi herbal berlebihan.

Berbagai penelitian dari institusi kesehatan dan universitas ternama telah membuktikan bahwa penggunaan herbal tanpa pengawasan medis atau dalam dosis berlebih sangat berisiko bagi kesehatan liver. Jangan sampai keinginan untuk sehat secara alami justru berakhir merugikan tubuh Kamu sendiri.

Mulai sekarang, selalu konsultasikan penggunaan herbal dengan tenaga medis terpercaya, ikuti aturan pakai yang dianjurkan, dan waspadai gejala liver bermasalah. Karena, menjaga liver tetap sehat berarti menjaga kualitas hidup Kamu di masa depan.

(IKN)

Penulis: Tim Redaksi

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.