Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Diskusi Dengan Dedi Mulyadi Bahas Kebijakan, Menteri HAM Tegaskan Tidak Ada Pelanggaran HAM

📅 Senin, 12 Mei 2025, 23:49 WIB | Oleh:
Diskusi Dengan Dedi Mulyadi Bahas Kebijakan, Menteri HAM Tegaskan Tidak Ada Pelanggaran HAM Doc: Istimewa
Ket. Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai dan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, di Kantor Kementerian HAM, Senin (12/5)

JAKARTA - Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai, berdiskusi dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, di Kantor Kementerian HAM, Senin (12/5). Menteri HAM menegaskan kebijakan gubernur dedi tidak melanggar HAM bahkan mendukung visi Indonesia Emas 2045.

"Kami Kementerian HAM memberi apresiasi kepada Pemprov Jabar dengan gagasan visioner yang memajukan SDM yang unggul dalam pendidikan, keterampilan, peningkatan kompetensi mental karakter dan kualitas serta tanggung jawab," ujar Pigai, usai pertemuan.

Sebagai informasi, kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menuai kontroversi. Salah satunya terkait pengiriman murid bermasalah ke barak militer untuk dibina tentara.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengundang Kementerian HAM untuk memberikan edukasi HAM kepada pelajar melalui kolaborasi antara pusat dan daerah. Dalam pelaksanaannya akan diwakili oleb Kantor Wilayah Jawa Barat atau langsung oleh Kantor Pusat Kementerian HAM.

"Kami mengundang, nanti ada bimbingan untuk anak-anak agar memahami Hak Asasi Manusia, mana hak dan mana kewajiban sebagai warga negara kami sudah meminta berkunjung pak menteri," jelasnya.

Secara terpisah, Akademisi Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), Radius Setiyawan, mengkritik kebijakan militerisasi peserta didik oleh sejumlah kepala daerah. Menurut Dosen Kajian Budaya dan Media itu, langkah tersebut tidak sejalan dengan paradigma pendidikan dan justru berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan anak.

"Mengirim anak-anak nakal ke barak militer bukan solusi yang tepat. Terdapat tiga alasan utama mengapa kebijakan ini problematik dari sudut pandang pendidikan," ujar Radius, dikutip dari laman resmi UM Surabaya, Sabtu (10/5).

Dia menjelaskan, barak militer tujuannya jelas sangat berbeda dengan lembaga pendidikan anak. Menurutnya, tentara dilatih untuk memiliki fisik dan mental yang kuat melalui metode disiplin keras, termasuk bentakan dan hukuman fisik.

Kedua, lanjut Radius, jika sekolah dianggap belum mampu menghasilkan siswa yang berkarakter baik, maka langkah yang lebih tepat adalah memperbaiki kualitas sekolah tersebut. Menurutnya, menyerahkan anak-anak kepada lembaga militer memiliki tujuan berbeda jauh dari sekolah.

"Secara paradigmatik, logika kebijakan ini bermasalah. Pendidikan anak tidak seharusnya disamakan dengan pendidikan militer," jelasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Pemulihan sawah pascabencana di Aceh

31 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pemulihan sawah pascabencan...
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

41 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...

Peremajaan lahan perkebunan kelapa

50 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Peremajaan lahan perkebunan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.